Gagasan tentang kunjungan alien ke Bumi terdengar sederhana di film, tetapi fisika justru membuatnya sangat rumit. Jarak antarbintang, kebutuhan bahan bakar, dan risiko kerusakan ekstrem menjadi tiga penghalang utama yang sulit diatasi.
Perdebatan ini ikut menguat setelah Pentagon merilis gelombang kedua foto dan video yang sebelumnya dirahasiakan. Kesaksian para whistleblower di Kongres pada Juli 2023 juga mendorong isu objek terbang tak terjelaskan masuk ke pembahasan yang lebih serius, meski bukti keberadaan makhluk asing tetap belum ada.
Jarak yang Terlalu Jauh untuk Dianggap Sepele
Dari sudut pandang teknik dirgantara, masalah pertama selalu sama: tidak ada bukti kehidupan cerdas di tata surya. Artinya, jika ada pengunjung ekstraterestrial, mereka harus datang dari sistem bintang lain di galaksi Bima Sakti.
Bintang terdekat dari Matahari, Proxima Centauri, berjarak 4,25 tahun cahaya atau sekitar 40 triliun kilometer. Itu masih baru contoh yang paling dekat, sementara peradaban alien lain, bila benar ada, hampir pasti lebih jauh lagi.
Untuk memberi gambaran, jika Bumi sebesar kacang polong, jarak ke Proxima Centauri kira-kira setara perjalanan New York ke Sydney, Australia. Skala ini menunjukkan betapa ekstremnya jarak yang harus ditempuh hanya untuk mencapai lingkungan Bumi.
Kecepatan Tinggi Tidak Menghapus Hambatan
Perjalanan antarbintang hampir pasti memakan waktu bertahun-tahun, bahkan berabad-abad. Semakin lama perjalanan berlangsung, semakin besar pula risiko kerusakan fatal atau gangguan sistem yang bisa menghentikan misi di tengah jalan.
Tidak ada objek yang bisa mencapai atau melampaui kecepatan cahaya, sekitar 300.000 kilometer per detik. Namun, bahkan sebelum mendekati batas itu, keterbatasan bahan bakar dan kekuatan struktur wahana sudah menekan kemungkinan misi jarak jauh.
Sejumlah kajian cenderung melihat sekitar 30.000 km/detik sebagai kecepatan jelajah yang realistis. Pada kecepatan itu, perjalanan sejauh 10 tahun cahaya tetap akan memakan waktu sekitar 100 tahun.
Mesin Pendorong Masih Jadi Titik Terberat
Ruang antarbintang memang tidak punya atmosfer, sehingga kapal bisa meluncur bebas setelah mencapai kecepatan jelajahnya. Tetapi ketiadaan atmosfer juga berarti tidak ada medium alami untuk membantu memperlambat kapal saat tiba di tujuan.
Karena itu, sistem pendorong ideal harus mampu mempercepat kapal di awal sekaligus mengeremnya di akhir perjalanan. Dua kebutuhan ini membuat desain propulsi menjadi inti persoalan dalam misi antarbintang.
Salah satu konsep futuristis memakai berkas laser berkekuatan besar untuk mendorong layar reflektif tipis. Metode ini tidak membutuhkan bahan bakar di atas wahana, tetapi tetap memerlukan energi dan infrastruktur yang sangat besar, serta tidak menyediakan mekanisme perlambatan.
Pendekatan yang lebih praktis adalah roket, karena gas buang berkecepatan tinggi bisa dipakai untuk dorongan dan perlambatan. Masalahnya, roket harus membawa bahan bakar sendiri bersama penumpang, habitat, dan sistem penunjang kehidupan.
Kimia, Fusi, dan Antimateri Sama-Sama Punya Batas
Propulsi roket terbagi dalam tiga kategori besar. Propulsi kimia, yang dipakai pada semua misi antariksa manusia sejauh ini, hanya memanfaatkan sebagian kecil energi yang tersimpan dalam bahan bakar.
Jika roket kimia dipaksa mencapai kecepatan jelajah 30.000 km/detik, bahan bakar yang dibutuhkan akan melebihi seluruh massa di alam semesta teramati. Antimateri jauh lebih efisien karena ketika bertemu materi biasa, keduanya saling memusnahkan dan 100 persen massanya berubah menjadi energi.
Dengan efisiensi seperti itu, kecepatan jelajah sepersepuluh kecepatan cahaya bisa dicapai dengan bahan bakar yang bobotnya kurang dari seperempat total massa kapal. Namun, antimateri sangat sulit diproduksi dan tidak stabil, sementara hingga kini fisikawan partikel baru menghasilkan kurang dari 20 miliar bagian dari satu gram.
Fusi nuklir menawarkan jalan lain yang lebih masuk akal. Teknologi ini memanen energi dari inti atom seperti proses yang memberi tenaga pada Matahari, dan secara teori bisa menghasilkan energi 10 juta kali lebih besar per kilogram dibanding roket kimia.
Meski begitu, bahkan kapal berbasis fusi dengan kecepatan jelajah 30.000 km/detik masih membutuhkan bahan bakar setara 150 kali massa kapal itu sendiri. Angka ini menunjukkan bahwa dorongan antarbintang tetap sangat mahal secara fisik.
Debu Kosmik dan Radiasi Menambah Risiko
Masalah tidak berhenti di mesin. Kapal juga harus dibuat sangat ringan agar efisien, tetapi tetap sangat kuat untuk menghadapi kondisi ruang antarbintang yang keras.
Ruang antarbintang tidak sepenuhnya kosong. Ada atom hidrogen yang tersebar jarang dan butiran debu kosmik mikroskopis, yang pada kecepatan 30.000 km/detik bisa menghantam lambung kapal dengan energi setara peluru kaliber .22.
Atom hidrogen pun bisa memicu banjir radiasi yang merusak material teknik paling tangguh sekalipun. Untuk bertahan, kapal membutuhkan perlindungan magnetik kompleks, tetapi perlindungan ini menambah massa dan ikut menaikkan kebutuhan bahan bakar.
Setiap syarat desain menciptakan trade-off baru. Saat satu sisi menuntut struktur yang ringan, sisi lain meminta ketahanan ekstrem, dan kombinasi itu bisa membuat ruang solusi menyempit sampai hampir habis.
Pada akhirnya, tidak ada hukum fisika tunggal yang secara langsung melarang perjalanan antarbintang ke Bumi. Tetapi gabungan ratusan syarat teknik yang ekstrem dan saling bertentangan bisa membuatnya tidak layak secara fisik, bahkan sebelum niat, sumber daya, dan kemampuan peradaban alien ikut dihitung.
