Rencana pembangunan mobil nasional di Subang, Jawa Barat, bukan hanya soal kendaraan baru. Proyek ini juga disiapkan untuk menyerap sekitar 2.000 tenaga kerja dan membangun ekosistem industri otomotif yang lebih dalam di dalam negeri.
Fasilitas yang digarap PT Pindad itu diposisikan sebagai kawasan manufaktur terintegrasi, dengan target produksi awal yang cukup besar. Di saat yang sama, pemerintah mendorong agar tingkat komponen dalam negeri atau TKDN dari mobil nasional ini bisa melampaui mobil yang saat ini beredar.
Serapan tenaga kerja dan penguatan SDM
Kebutuhan sekitar 2.000 pekerja disebut mencakup tenaga bergelar sarjana dan teknisi. Artinya, proyek ini tidak hanya membuka peluang kerja di lini produksi, tetapi juga membutuhkan sumber daya manusia dengan kemampuan perencanaan, pelaksanaan, dan pengembangan.
Direktur Utama PT Pindad Sigit P. Santosa menyebut perusahaan sudah menanamkan investasi sumber daya manusia untuk proyek ini sejak beberapa tahun lalu. Investasi itu dilakukan di berbagai level, dari perencana hingga pelaksana.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa pengembangan mobil nasional dipersiapkan sebagai proyek jangka panjang. Kebutuhan tenaga kerja dipadukan dengan peningkatan kapasitas teknologi agar produksi dan pengembangan berjalan bersamaan.
Kawasan terintegrasi di atas 539 hektare
Pabrik mobil nasional di Subang direncanakan berdiri di atas lahan sekitar 539 hektare. Kawasan itu tidak hanya berisi fasilitas produksi, tetapi juga perkantoran, sarana uji, sarana perancangan dan pengembangan, serta kebutuhan pendukung lainnya.
Dengan komposisi seperti itu, Subang dipersiapkan sebagai ekosistem manufaktur otomotif yang terintegrasi. Model ini membuat proyek tersebut terlihat lebih luas daripada sekadar lini perakitan kendaraan.
Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin telah meninjau pengembangan proyek itu di Kabupaten Subang. Ia menilai kawasan mobil nasional sebagai instalasi strategis untuk mendukung penguatan industri nasional dan pembangunan ekosistem manufaktur yang terintegrasi.
Sjafrie juga menyoroti sisi penguasaan teknologi dalam proyek ini. Menurut dia, operasionalisasi mobil nasional di Subang akan memberi dampak pada penguasaan teknologi otomotif berbasis listrik.
Target produksi bertahap sampai 50.000 unit
Mobil nasional itu tengah dirancang oleh PT Pindad, perusahaan yang sebelumnya mengembangkan SUV Maung. Model tersebut kini juga digunakan sebagai mobil kepresidenan oleh Presiden Prabowo Subianto.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan ia berharap kendaraan itu memiliki TKDN yang lebih tinggi dibanding mobil yang saat ini beredar. Menurut Agus, rata-rata TKDN mobil listrik di Indonesia berada pada kisaran 30 sampai 70 persen.
Direktur Utama PT Pindad Sigit P. Santosa membagi pengembangan proyek ke dalam tiga tahap pembangunan pada periode 2026-2028. Pada tahap awal, kawasan industri terintegrasi itu menargetkan kapasitas produksi hingga 50.000 unit kendaraan per tahun pada 2028.
Dalam visi jangka panjang, kapasitas produksi tersebut diharapkan meningkat menjadi 300.000 unit per tahun. Skala ini menunjukkan bahwa proyek mobil nasional di Subang disiapkan sebagai basis produksi besar, bukan fasilitas kecil yang hanya berfokus pada perakitan.
Agus menegaskan bahwa perhatian utama pemerintah juga tertuju pada besaran TKDN setiap kali mengunjungi pabrik. Karena itu, keberhasilan proyek ini tidak hanya akan diukur dari jumlah unit yang keluar dari lini produksi, tetapi juga dari nilai tambah yang tercipta di dalam negeri.
Pusat pengembangan yang memadukan pabrik, perkantoran, fasilitas uji, dan sarana riset menandakan bahwa mobil nasional di Subang dirancang untuk menopang industri dari hulu hingga hilir. Proyek ini membawa dua misi sekaligus, yakni membuka lapangan kerja dan memperkuat kemandirian industri otomotif nasional.
