Jakarta Dibaca Ulang Lewat Kanvas Abstrak Sasya, Jejak Batavia Muncul Lagi

Jakarta tidak hadir sebagai peta kota yang biasa dibaca, melainkan sebagai lapisan ingatan yang disusun ulang di atas kanvas abstrak. Dalam pameran tunggal Sasya Tranggono di Laflo Menteng, Jakarta Pusat, kota ini dipandang lewat bangunan, lanskap, dan jejak Batavia yang menyusup ke bahasa visual baru.

Pameran bertajuk Menuju Jakarta 500 Tahun di Mata Sasya Tranggono itu menjadi bagian dari rangkaian menyambut usia 500 tahun Jakarta pada 2027. Melalui 12 karya, Sasya menunjukkan bahwa sejarah kota masih bisa dibaca ulang tanpa harus meninggalkan pendekatan seni yang ekspresif dan modern.

Jakarta muncul dalam bentuk yang tak biasa

Sasya selama ini dikenal lewat karya bertema wayang, bunga, dan kupu-kupu. Di pameran ini, ia bergeser ke tema gedung dan lanskap, tetapi tetap mempertahankan karakter visual yang sudah melekat pada dirinya.

Garis, komposisi geometris, dan pendekatan abstrak tetap menjadi bahasa utamanya. Hasilnya adalah karya yang tidak sekadar menampilkan objek kota, melainkan mengubahnya menjadi bacaan visual yang lebih luas.

Batavia dan Kota Tua jadi sumber gagasan

Ide pameran ini lahir dari pembacaan ulang atas sejarah Jakarta yang lekat dengan Batavia. Sasya menyebut dorongan untuk mengangkat tema itu muncul setelah berdiskusi dengan arsitek sekaligus sosiolog Alwi Sjaaf, pemilik PT Imago Mulia Persada atau Laflo.

Pengalaman tinggal delapan tahun di Belanda ikut memengaruhi cara pandangnya. Saat mengunjungi Kota Tua, ia melihat kawasan itu sebagai sentrum Batavia dan menemukan inspirasi untuk karya-karya terbarunya.

Karya lahir cepat, tetapi tetap terjaga strukturnya

Seluruh karya dalam pameran ini dikerjakan dalam waktu sekitar dua setengah bulan. Sasya menyebut keterbatasan waktu sebagai tantangan terbesar, karena ia ingin menghadirkan karya terbaik untuk momentum menuju peringatan besar Jakarta.

Pengaruh latar belakang teknik atau engineering juga masih terlihat dalam proses kreatifnya. Itu tercermin pada cara ia membangun bidang, garis, dan susunan bentuk yang rapi di setiap kanvas.

Pesan untuk generasi dan ruang budaya kota

Salah satu karya yang paling berkesan bagi Sasya adalah Generasi Bintang. Karya itu ia tujukan sebagai refleksi tentang pentingnya menyiapkan generasi penerus yang memiliki nilai moral, cinta bangsa, dan hormat kepada orang tua.

Bagi Alwi Sjaaf, pameran ini juga mengingatkan bahwa kota global tidak cukup dibangun lewat infrastruktur modern. Menurutnya, kota semacam itu juga harus ditopang oleh museum, ruang pertunjukan, dan aktivitas seni yang hidup di tengah masyarakat.

Ia menilai apresiasi terhadap museum dan situs sejarah masih perlu diperbesar, meski biaya masuk relatif terjangkau. Karena itu, pameran seperti ini diharapkan bisa mendorong minat publik terhadap seni, sejarah, dan kebudayaan.

Pameran Menuju Jakarta 500 Tahun di Mata Sasya Tranggono menempatkan seni sebagai pintu masuk untuk melihat Jakarta dari sudut yang lebih lapang. Sebagian hasil penjualan karya dalam pameran ini juga akan digunakan untuk kegiatan sosial dan pendidikan bagi anak-anak di berbagai daerah Indonesia.

Source: mediaindonesia.com

Terkait