Persaingan HP murah kini tidak lagi hanya soal harga rendah. Di kelas entry-level, itel City 200 dan itel A200 hadir dengan pendekatan yang berbeda, sehingga pilihan paling cocok sangat bergantung pada kebutuhan harian pengguna.
Keduanya sama-sama dibekali baterai 5.000mAh, jadi kebutuhan dasar seperti media sosial, streaming video, dan komunikasi tetap bisa ditopang tanpa terlalu sering mencari colokan. Namun, setelah masuk ke detail fitur, karakter masing-masing perangkat langsung terlihat berbeda.
City 200 lebih menonjol di sisi konektivitas
itel City 200 memakai chipset Unisoc T7250 yang ditujukan untuk kebutuhan harian seperti pesan instan, browsing, menonton video, dan game ringan. Untuk pengguna yang lebih sering memakai ponsel sebagai alat komunikasi dan hiburan dasar, pendekatan ini terasa lebih relevan.
Pembeda utamanya ada pada fitur UltraLink. Teknologi ini diklaim memungkinkan panggilan dilakukan meski tidak ada sinyal seluler, dengan jangkauan hingga sekitar dua kilometer.
Fitur seperti ini memberi nilai tambah untuk pengguna di daerah pedesaan, kawasan pegunungan, atau lokasi proyek. Dalam situasi jaringan belum stabil, kemampuan komunikasi tambahan bisa terasa lebih penting daripada sekadar angka spesifikasi.
A200 memilih jalur ketahanan fisik
Berbeda dari City 200, itel A200 dirancang dengan fokus yang lebih tegas pada daya tahan. Smartphone ini sudah mengantongi sertifikasi IP65 dan standar MIL-STD-810H, yang memberi perlindungan terhadap debu serta semprotan air dari berbagai arah.
A200 juga diklaim mampu bertahan saat terjatuh dari ketinggian hingga 1,8 meter. Untuk HP di kelas harga sejutaan, perlindungan seperti ini menjadi daya tarik besar bagi pengguna yang sering beraktivitas di luar ruangan.
Di penggunaan harian, risiko jatuh, terkena hujan, atau dipakai di lingkungan kerja yang keras memang jauh lebih besar. Karena itu, ketahanan fisik sering kali menjadi alasan utama saat memilih ponsel murah untuk kerja lapangan.
Detail layar dan kamera ikut memisahkan keduanya
itel A200 juga membawa Wet and Oily Touch Control. Fitur ini membuat layar tetap responsif saat jari basah atau berminyak, sehingga lebih praktis dipakai ketika memasak, berolahraga, atau berada di luar saat hujan.
Di sektor foto dan video, A200 mengandalkan kamera utama 13MP. Kamera ini mendukung perekaman video hingga 2K pada 30fps, sesuatu yang tidak selalu ditemukan pada smartphone entry-level.
Ada pula AI Fusion Camera System yang membantu mengoptimalkan hasil foto di berbagai kondisi cahaya. Pendekatan berbasis AI seperti ini kini semakin umum dipakai untuk menjaga konsistensi hasil gambar tanpa hanya bergantung pada sensor besar.
| Model | Fokus Utama | Fitur Kunci |
|---|---|---|
| itel City 200 | Konektivitas dan kebutuhan harian | Unisoc T7250, UltraLink, baterai 5.000mAh |
| itel A200 | Ketahanan fisik | IP65, MIL-STD-810H, tahan jatuh hingga 1,8 meter, Wet and Oily Touch Control, kamera 13MP |
Bila yang dicari adalah ponsel murah yang lebih luwes untuk aktivitas digital sehari-hari, City 200 terlihat lebih cocok. Kombinasi chipset yang memadai dan UltraLink membuatnya menonjol untuk pengguna yang butuh fungsi praktis.
Namun, jika prioritasnya adalah perangkat yang lebih siap menghadapi benturan, debu, dan air, A200 punya posisi yang lebih kuat. Di segmen entry-level, pilihan akhirnya kembali ke satu pertanyaan sederhana, apakah pengguna lebih membutuhkan HP yang lebih pintar dalam komunikasi atau yang lebih tahan banting saat dipakai kerja dan bergerak aktif.







