IRGC Buka Peta Baru Selat Hormuz, Sinyal Benturan Dengan AS Makin Dekat?

Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC kembali menaikkan tensi di Selat Hormuz setelah merilis peta baru yang menandai area yang mereka klaim berada di bawah kendali angkatan laut mereka. Langkah ini langsung menarik perhatian karena jalur tersebut merupakan salah satu urat nadi pelayaran global dan sedang berada di tengah hubungan Iran–Amerika Serikat yang kembali memanas.

Peta itu memicu pertanyaan apakah Iran sedang menegaskan kontrol yang lebih ketat atau sekadar mengirim pesan politik. Yang jelas, pengumuman tersebut memperlihatkan bahwa Selat Hormuz masih menjadi titik paling sensitif dalam persaingan dua negara yang saling menguji batas.

Klaim IRGC dan area yang ditandai

Kantor berita semi-resmi Fars melaporkan, wilayah yang ditandai dalam peta membentang dari ujung barat Pulau Qeshm di Iran ke Umm Al Quwain di Uni Emirat Arab. Peta itu juga mencakup area dari Kuh-e Mobarak di Iran hingga selatan Fujairah di UEA.

Namun, belum ada kejelasan apakah klaim itu menandai perubahan nyata dari pengaturan sebelumnya. IRGC menegaskan peta terbaru itu bukan berarti ada perubahan dalam pengelolaan keseluruhan Selat Hormuz.

Juru Bicara IRGC, Hossein Mohebi, mengatakan kapal komersial tetap harus mengikuti protokol pelayaran Angkatan Laut Garda Revolusi dan berkoordinasi dengan otoritas Iran di jalur yang sudah ditentukan. Ia juga menyebut kapal yang mematuhi aturan akan diizinkan melintas dengan aman.

Sebaliknya, kapal yang melanggar dapat dihentikan secara paksa. Pernyataan itu menunjukkan Iran masih mempertahankan pendekatan keras terhadap lalu lintas laut di jalur strategis tersebut.

Muncul di tengah sinyal keras ke Washington

Pengumuman peta baru itu datang sehari setelah Presiden Donald Trump mengatakan Amerika Serikat akan membantu mengarahkan kapal-kapal yang terjebak di selat itu keluar dari wilayah terbatas. Pernyataan itu segera direspons oleh komando militer tertinggi Iran dengan peringatan keras.

Iran menyatakan kekuatan asing, terutama pasukan AS, akan menjadi sasaran jika mencoba masuk atau mendekati selat tersebut. Respons ini memperlihatkan bahwa setiap langkah di Selat Hormuz tidak hanya dibaca sebagai isu navigasi, tetapi juga sebagai uji kekuatan langsung.

Dalam laporan Fars yang sama, dua rudal disebut menghantam sebuah fregat Angkatan Laut AS di selat itu setelah kapal tersebut mengabaikan peringatan Iran. Kapal itu dilaporkan berlayar dekat pelabuhan Jask dan dianggap melanggar aturan keamanan maritim versi Iran.

Kapal tersebut kemudian disebut mundur dari area setelah serangan dan tidak bisa melanjutkan pelayaran. Hingga kini, pejabat Amerika Serikat belum memberikan komentar atas laporan tersebut.

Selat Hormuz makin ketat dikendalikan

Iran disebut mulai memperketat kontrol di Selat Hormuz sejak 28 Februari dengan membatasi akses kapal-kapal yang terkait dengan Israel dan Amerika Serikat. Kebijakan itu diambil setelah kedua negara melancarkan serangan bersama ke wilayah Iran.

Setelah pembicaraan pascagencatan senjata antara kedua pihak di Islamabad pada 11 hingga 12 April tidak menghasilkan kesepakatan, Amerika Serikat kemudian memberlakukan blokade tandingan. Rangkaian langkah itu membuat Selat Hormuz kembali menjadi sorotan luas karena dampaknya tidak berhenti pada Iran dan AS saja.

Jalur ini juga penting bagi keamanan transportasi laut internasional. Karena itu, peta baru IRGC terbaca sebagai pesan politik sekaligus peringatan operasional yang menegaskan bahwa Iran masih ingin memegang kendali atas salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia.

Selat Hormuz kini kembali berdiri sebagai ruang uji adu pengaruh, dengan Iran menunjukkan batas yang mereka tetapkan sendiri dan Amerika Serikat memberi sinyal tidak akan tinggal diam. Dalam situasi seperti ini, perubahan kecil di jalur tersebut bisa segera berdampak besar pada keamanan pelayaran.

Source: www.viva.co.id

Baca Juga

Back to top button