Ketidakpastian masih menyelimuti rencana perundingan Iran dan Amerika Serikat di Islamabad, Pakistan, di tengah tenggat gencatan senjata yang kian dekat. Hingga saat ini, Teheran belum memberi kepastian apakah akan benar-benar hadir di meja diplomasi, sehingga peluang pertemuan jilid II masih menggantung.
Sikap hati-hati Iran membuat situasi semakin sulit dibaca. Dari satu sisi, ada sinyal bahwa dialog belum tertutup, tetapi dari sisi lain, belum ada keputusan final yang bisa memastikan perundingan itu jadi berlangsung atau justru batal.
Sikap Teheran belum bulat
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menyebut keputusan soal partisipasi negaranya belum diambil. Pernyataan ini menegaskan bahwa Iran masih menimbang langkahnya secara politik, terutama ketika situasi regional masih sensitif.
Di saat yang sama, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengirim pesan yang lebih tegas. Ia menyatakan Iran siap bernegosiasi, tetapi tidak akan menerima tekanan atau syarat sepihak dari Washington.
Dua pernyataan itu memperlihatkan adanya ruang dialog, namun belum ada keselarasan penuh dalam posisi internal Iran. Kondisi tersebut membuat publik masih menunggu apakah pemerintah Iran akhirnya memilih jalur diplomasi atau menahan keputusan lebih lama.
Tekanan waktu dari gencatan senjata
Masalah utama dalam pembicaraan ini bukan hanya soal keinginan bertemu, melainkan juga waktu yang terus menipis. Tenggat gencatan senjata yang semakin dekat membuat setiap keputusan politik terasa lebih berat dan berisiko.
Dalam situasi seperti ini, keterlambatan kecil saja dapat mengubah arah perundingan. Jika tidak ada kesepakatan mengenai syarat dasar, peluang pertemuan di Islamabad bisa tertunda atau bahkan gagal terlaksana.
Laporan Al Jazeera yang dikutip pada Selasa menyebut belum ada kepastian final dari Iran. Ketidakjelasan itu membuat panggung diplomasi masih terbuka, tetapi sekaligus rapuh karena bisa berubah sewaktu-waktu.
Syarat berat yang masih mengganjal
Perundingan Iran-AS tidak hanya berkisar pada isu gencatan senjata. Masih ada sejumlah persoalan besar yang ikut membayangi dan sulit dipisahkan dari agenda utama pembicaraan.
Di antaranya adalah status Selat Hormuz, sanksi ekonomi, kompensasi perang, program rudal balistik, dan relasi regional Iran. Setiap isu membawa kepentingan strategis yang berbeda, sehingga ruang kompromi menjadi sempit dan penuh kehati-hatian.
Persoalan-persoalan itu menjelaskan mengapa negosiasi berjalan rumit. Bagi Iran, pembicaraan tanpa jaminan yang jelas bisa dianggap merugikan, sementara bagi Amerika Serikat, setiap konsesi akan dinilai dari dampaknya terhadap kepentingan politik dan keamanan.
Islamabad masih jadi titik tumpu
Pakistan kini berada di tengah perhatian karena Islamabad dipandang sebagai lokasi yang bisa mempertemukan kepentingan yang saling bertentangan. Namun, posisi tuan rumah tidak otomatis menjamin tercapainya dialog, apalagi jika kedua pihak belum mencapai titik temu.
Dorongan untuk meredakan ketegangan memang masih ada, tetapi hasil akhirnya tetap belum pasti. Iran masih menimbang apakah kondisi yang ada cukup menguntungkan untuk melangkah ke meja perundingan.
Di sisi lain, Washington tetap harus menghadapi daftar keberatan dan syarat yang diajukan Teheran. Selama posisi kedua pihak belum sejalan, pertanyaan apakah perundingan Iran-AS jilid II di Islamabad akan berlangsung atau batal masih menunggu keputusan politik pada saat-saat terakhir.
Source: www.beritasatu.com






