
IoT di 2020-an tidak lagi dipandang sebagai teknologi yang hanya membuat aset terlihat di layar pemantauan. Pergeseran paling besar justru terjadi saat IoT mulai dipakai untuk mengendalikan operasi, mengotomatisasi keputusan, dan membuat proses berjalan lebih terkendali.
Perubahan itu terlihat dari lebih dari 10.000 deployment yang dipublikasikan secara terbuka. Meski demikian, angka tersebut belum mewakili seluruh pasar global karena hanya sebagian kecil deployment yang diumumkan ke publik, dan satu deployment bisa berarti dari beberapa perangkat hingga jutaan unit.
Dari visibilitas ke kendali operasi
Periode 2016–2020 sering disebut sebagai fase “visibility era” IoT. Pada tahap ini, banyak proyek berfokus pada sensor, telemetri, pelacakan lokasi, pemantauan kondisi, dan pengiriman data ke dashboard.
Fase itu penting karena organisasi perlu membuktikan perangkat bisa terhubung secara aman. Tim operasional juga harus belajar memakai data tersebut, meski tidak semua inisiatif langsung menghasilkan insight yang benar-benar terintegrasi ke proses harian.
Situasinya berubah pada 2021–2025, ketika IoT makin masuk ke “operations era”. Teknologi ini tidak lagi berhenti pada pelaporan kondisi, tetapi makin sering dipakai untuk mengotomatisasi tindakan dan keputusan.
Dalam praktiknya, IoT kini lebih sering menjadi bagian dari alur operasional. Analitik dan AI juga makin sering dipasangkan di dalamnya, sehingga pengumpulan data menjadi awal rantai nilai, bukan akhir.
Sektor yang paling cepat bergerak
Pergeseran ini paling jelas terlihat di sektor yang paling aktif mengadopsi IoT. Pada 2016–2020, manufaktur dan pemerintah sama-sama memimpin dengan porsi 19%.
Pada 2021–2025, pemerintah naik menjadi 22%, sementara manufaktur turun ke 14%. Ini bukan berarti manufaktur berhenti memakai IoT, tetapi sektor lain bergerak lebih cepat, terutama yang berkaitan dengan infrastruktur publik dan layanan skala besar.
Utilitas ikut naik dari 8% menjadi 10%. Konstruksi dan engineering meningkat dari 4% menjadi 6%, sedangkan business services tumbuh dari 6% menjadi 8%.
Perubahan itu menunjukkan IoT makin luas dipakai di lingkungan binaan. Fokusnya mencakup infrastruktur, fasilitas, kampus, dan operasi lapangan yang menuntut kontrol lebih rapat.
Sebaliknya, beberapa sektor justru kehilangan porsi. Ritel turun dari 6% menjadi 4%, sementara pertanian turun dari 5% menjadi 2%.
Use case makin condong ke otomatisasi
Pola use case memperkuat arah yang sama. Pada 2016–2020, advanced automation dan telematics sama-sama berada di 14%, disusul condition monitoring 13% dan asset tracking 13%.
Pada 2021–2025, advanced automation naik menjadi 21% dan menjadi kategori paling menonjol. Telematics juga naik ke 17%, sementara condition monitoring turun tajam menjadi 7% dan asset tracking turun ke 8%.
Environmental monitoring turun ke 5%, dan people serta animal tracking turun ke 4%. Namun, pemantauan suhu, getaran, atau lokasi tetap menjadi fondasi penting bagi banyak deployment.
Arah utamanya adalah semakin banyak proyek yang dirancang untuk bertindak atas data tersebut. IoT tidak lagi hanya mengamati, tetapi ikut menjalankan operasi.
Smart city dan smart building juga menunjukkan pola serupa. Smart city naik dari 11% menjadi 15%, sedangkan smart buildings naik dari 8% menjadi 10%.
Keduanya biasanya melibatkan banyak pihak dan banyak aset. Dalam konteks ini, IoT lebih tepat dipahami sebagai model operasi untuk sebuah tempat, bukan sekadar lapisan perangkat.
Konektivitas ikut menyesuaikan kebutuhan lapangan
Perubahan besar berikutnya terjadi pada pilihan konektivitas. Pada 2016–2020, konektivitas jarak pendek seperti Wi-Fi dan Bluetooth menyumbang 40% deployment, sedangkan public 2G–4G berada di 29%.
Pada 2021–2025, konektivitas jarak pendek masih menjadi kategori terbesar, tetapi turun ke 31%. Public 2G–4G naik ke 33% dan mengambil posisi teratas.
Pergeseran ini sejalan dengan meluasnya deployment ke geografi yang lebih besar serta aset yang lebih mobile atau terdistribusi. Cellular menjadi makin penting ketika organisasi membutuhkan jangkauan dan kestabilan di lapangan.
Private cellular menjadi perubahan paling menonjol di kategori ini. Porsinya melonjak dari 3% menjadi 11%, menandakan makin banyak perusahaan memilih jaringan seluler tertutup di lokasi mereka sendiri untuk mengejar performa yang lebih dapat diprediksi, keamanan, dan kontrol lokal.
Public 5G juga mulai terlihat dengan porsi 3% pada 2021–2025, naik dari hampir nol pada periode sebelumnya. Meski begitu, pasar IoT masih didominasi konektivitas 4G yang sudah terbukti, bukan pergeseran besar ke use case 5G berbandwidth tinggi dan berlatensi rendah.
Secara keseluruhan, IoT di 2020-an bergerak ke arah yang lebih operasional. Aktivitas baru makin terkonsentrasi di pemerintah, utilitas, smart city, dan lingkungan binaan, sementara tujuan utamanya bergeser dari sekadar memantau aset menjadi menghubungkan sistem agar organisasi bisa menjalankan operasi dengan lebih efektif dan andal.





