Peringatan baru dari intelijen Israel membuat ancaman terhadap Donald Trump kembali menjadi perhatian utama di Washington. Informasi itu disebut berkaitan dengan dugaan rencana Iran untuk membunuh Trump, di tengah ketegangan yang terus meningkat antara kedua negara.
Laporan yang dikutip CNN menyebut Trump memang rutin menerima pembaruan intelijen soal potensi ancaman terhadap dirinya. Namun, peringatan yang diteruskan Israel kali ini disebut lebih spesifik dan memuat dugaan plot yang lebih rinci.
Ancaman yang Dinilai Lebih Mengkhawatirkan
Menurut CNN, sumber yang mengetahui perkembangan itu menilai peringatan dari pihak Israel lebih mengkhawatirkan dibanding laporan sebelumnya. The Wall Street Journal juga mengutip sumber anonim yang menyebut intelijen Israel menggambarkan adanya plot baru untuk membunuh Presiden Amerika Serikat tersebut.
Belum ada rincian publik mengenai bagaimana dugaan rencana itu disusun. Meski begitu, informasi tersebut memperkuat kekhawatiran soal keselamatan Trump dan menambah tekanan pada hubungan Washington dan Teheran.
Dendam Teheran yang Belum Padam
Iran selama bertahun-tahun secara terbuka menyatakan niat untuk membalas kebijakan Trump. Akar persoalannya merujuk pada operasi militer yang diperintahkan Trump dan menewaskan Jenderal Qassem Soleimani pada Januari 2020, saat ia masih menjabat pada periode pertama kepresidenannya.
Ketegangan itu kembali memanas setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari lalu. Operasi tersebut dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei beserta sejumlah pejabat tinggi Iran lain, yang memicu ancaman balasan lebih lanjut dari Teheran.
| Peristiwa | Keterangan | Dampak |
|---|---|---|
| Operasi terhadap Qassem Soleimani | Januari 2020 | Menjadi dasar dendam Iran kepada Trump |
| Serangan AS-Israel ke Iran | 28 Februari lalu | Memicu ancaman balasan dari Teheran |
Pengamanan Trump Ikut Diubah
Isu ancaman itu ikut menguat setelah kepulangan Trump dari KTT NATO di Ankara, Turki. Dalam perjalanan ke Washington, ia tidak memakai pesawat kepresidenan Air Force One baru yang merupakan hadiah dari Qatar.
Trump justru kembali menggunakan Air Force One lama, sementara pesawat baru itu diterbangkan lebih dulu ke Inggris sebelum dipakai lagi pada perjalanan berikutnya. Keputusan ini memunculkan spekulasi bahwa sistem keamanan pada pesawat baru belum sepenuhnya siap menghadapi potensi ancaman.
Sejumlah sumber internal menyebut pergantian pesawat dilakukan atas rekomendasi ketat dari US Secret Service demi alasan keamanan presiden. Langkah itu menunjukkan pengamanan terhadap Trump tetap berada dalam status siaga tinggi di tengah memanasnya hubungan AS dan Iran.
Respons Trump
Trump sendiri mengakui bahwa dirinya menjadi sasaran utama. Dalam pernyataannya, ia mengatakan, “Mereka ingin membunuh pemimpin Amerika Serikat. Nama saya ada di daftar mereka. Pagi ini saya melihat bahwa saya ada di setiap daftar yang mereka miliki.”
Dalam konferensi pers terbarunya, Trump tidak menjelaskan detail teknis soal pengamanan dirinya. Namun ia kembali menegaskan bahwa ancaman pembunuhan itu memiliki kaitan erat dengan Iran.
