ASEAN kembali menegaskan bahwa Indo-Pasifik harus tetap terbuka, inklusif, dan tidak terseret ke dalam persaingan antar kekuatan besar. Pesan itu mengemuka di Jakarta ketika tekanan geopolitik di kawasan disebut semakin kuat.
Seruan tersebut datang dari Sekretaris Jenderal ASEAN Dr. Kao Kim Hourn dalam Kuliah Perdana ERIA–ASEAN AOIP Lecture Series yang digelar ERIA melalui ERIA School of Government. Forum ini sekaligus menandai peluncuran resmi seri kuliah yang dirancang untuk memperkuat dialog tentang Indo-Pasifik dari perspektif ASEAN.
AOIP diposisikan sebagai kerangka kerja sama yang lebih konkret
Dr. Kao menegaskan bahwa ASEAN Outlook on the Indo-Pacific atau AOIP menawarkan kerangka kerja sama yang terbuka, inklusif, dan berbasis aturan. Menurutnya, pendekatan ini relevan di tengah persaingan geopolitik, fragmentasi ekonomi global, dan tekanan pada rantai pasok maritim.
Ia juga menyoroti kebutuhan kolaborasi yang lebih nyata di bidang infrastruktur berkelanjutan, transformasi digital, dan keamanan ekonomi. Tiga bidang itu dipandang penting untuk menjaga ketahanan kawasan di saat perubahan berlangsung cepat.
| Fokus Kerja Sama | Alasan Penting | Konteks |
|---|---|---|
| Infrastruktur berkelanjutan | Menopang ketahanan kawasan | Di tengah persaingan geopolitik |
| Transformasi digital | Mendorong adaptasi ekonomi | Saat ekonomi global terfragmentasi |
| Keamanan ekonomi | Menjaga stabilitas bersama | Ketika rantai pasok maritim tertekan |
Dalam kesempatan itu, Dr. Kao juga menyebut ASEAN dan Jepang telah menyelesaikan sekitar 81 persen agenda aksi dalam Rencana Implementasi bersama mereka. Capaian tersebut dinilai menunjukkan bahwa inisiatif kerja sama dapat saling melengkapi dan memberi manfaat bagi kawasan yang lebih luas.
ERIA ingin menjaga sentralitas ASEAN
Peluncuran seri kuliah ini dipandang ERIA sebagai ruang untuk memperkuat perspektif Asia Tenggara dalam diskusi regional dan global. Presiden ERIA Tetsuya Watanabe menilai momentum ini penting untuk menjaga Sentralitas ASEAN di tengah perubahan tatanan dunia.
Watanabe mengatakan ERIA ingin memperkuat pandangan Asia Tenggara melalui ERIA–ASEAN AOIP Lecture Series yang digagas oleh Sekretaris Jenderal ASEAN. Ia berharap rangkaian kuliah tersebut dapat mendorong dialog, kerja sama, dan keterlibatan yang lebih inklusif di Indo-Pasifik.
Dekan sekaligus Managing Director ERIA School of Government, Prof. Nobuhiro Aizawa, menambahkan bahwa Indo-Pasifik selama ini menikmati perdamaian dan stabilitas. Karena itu, ia menilai norma dan pendekatan yang telah dibangun bersama harus terus dijaga untuk mempertahankan stabilitas dan ketahanan kawasan.
Simposium bahas AOIP dan FOIP yang saling melengkapi
Setelah kuliah perdana, acara dilanjutkan dengan Simposium Khusus ERIA–JIIA FOIP–AOIP bersama Japan Institute of International Affairs atau JIIA. Simposium ini digelar untuk memperingati satu dekade konsep Free and Open Indo-Pacific atau FOIP.
Forum tersebut mempertemukan pembuat kebijakan dan para pakar untuk membahas bagaimana AOIP dan FOIP dapat saling melengkapi. Fokus pembahasannya tetap pada perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran kawasan Indo-Pasifik.
Acara itu dihadiri para duta besar, perwakilan diplomatik negara-negara mitra Indo-Pasifik, pemangku kepentingan ASEAN, hingga akademisi dari berbagai perguruan tinggi. Kehadiran beragam pihak tersebut menunjukkan bahwa diskusi tentang masa depan kawasan semakin membutuhkan ruang lintas kepentingan.
Melalui rangkaian kuliah ini, ERIA berharap dialog kebijakan berbasis riset dapat semakin kuat. Dorongan itu diarahkan untuk mempererat kerja sama saat kawasan menghadapi tantangan geopolitik dan ekonomi yang kian kompleks.
