Insentif Daerah Mengubah Peta SPKLU, Swasta Makin Yakin Masuk Pasar EV

Insentif daerah mulai mengubah peta investasi stasiun pengisian kendaraan listrik umum atau SPKLU di Indonesia. Di tengah pasar kendaraan listrik yang masih berkembang, pelaku swasta kini melihat kebijakan pemerintah daerah sebagai sinyal paling penting untuk masuk lebih agresif ke bisnis pengisian daya.

Ketua Umum Aspelusi sekaligus Managing Director Utomo Charge+, Anthony Utomo, menilai kebijakan seperti pembebasan pajak daerah dan relaksasi ganjil genap memberi dampak langsung ke minat pengguna EV. Ketika permintaan naik, investor ikut membaca peluang yang lebih jelas untuk membangun infrastruktur yang selama ini sangat bergantung pada tingkat pemakaian.

Insentif daerah jadi penentu pasar

Anthony menegaskan bahwa tantangan investasi SPKLU tidak hanya terletak pada modal awal dan kesiapan teknologi. Menurut dia, faktor yang sama pentingnya adalah kepastian utilisasi, yakni seberapa sering fasilitas itu akan digunakan seiring bertambahnya kendaraan listrik di jalan.

Ia menyebut kebijakan yang pro-EV di daerah besar, terutama kota dengan mobilitas tinggi, bisa meningkatkan ketertarikan masyarakat pada kendaraan listrik. Dari situ, efek berantai mengalir ke sektor pendukung, khususnya penyedia charging station.

“Ketika pemerintah daerah memberikan insentif nyata kepada pengguna kendaraan listrik, efek dominonya langsung terasa kepada industri pendukung, khususnya sektor SPKLU,” ujar Anthony. Ia menambahkan, langkah itu membuat swasta lebih yakin pasar EV di Indonesia akan tumbuh lebih cepat dan lebih sehat.

Swasta butuh kepastian, bukan hanya tren

Bagi pelaku usaha, SPKLU tidak lagi dipandang sekadar proyek jangka pendek. Aspelusi menilai infrastruktur ini sudah masuk ke ranah transformasi energi dan mobilitas nasional, sehingga perlu dibangun secara masif dan merata.

Anthony menyebut SPKLU harus diposisikan setara dengan SPBU pada era kendaraan konvensional. Pandangan itu menunjukkan bahwa pengisian daya akan menjadi fondasi utama bagi ekosistem transportasi listrik yang terus berkembang.

Di sisi lain, organisasi itu melihat skala investasi infrastruktur kendaraan listrik di Indonesia akan semakin besar dalam beberapa tahun ke depan. Kondisi tersebut membuat pengembangan ekosistem tidak mungkin ditopang satu pihak saja.

Kolaborasi lintas sektor makin dibutuhkan

Aspelusi menilai pembangunan jaringan SPKLU perlu melibatkan banyak pihak sekaligus. Kolaborasi itu mencakup pemerintah, PLN, operator charging, pemilik lahan, pusat perbelanjaan, kawasan komersial, hingga pelaku logistik dan fleet.

Keterhubungan antaraktor ini dinilai penting agar SPKLU cepat hadir di lokasi strategis. Semakin mudah akses pengisian daya, semakin kuat pula dukungan terhadap adopsi kendaraan listrik di masyarakat.

Anthony juga menyoroti bahwa elektrifikasi kendaraan kini tidak lagi terbatas pada mobil pribadi. Tren itu mulai bergerak ke sektor komersial dan logistik, termasuk ride-hailing, kendaraan operasional perusahaan, sampai truk listrik.

“Indonesia sedang bergerak menuju era electric mobility economy,” kata Anthony. Ia menilai regulasi yang mendukung perlu dijaga konsistensinya agar investasi swasta dapat masuk dengan keyakinan tinggi.

Dorongan kebijakan daerah masih berlanjut

Selain insentif fiskal dan relaksasi aturan lalu lintas, Aspelusi berharap pemerintah daerah memperluas dukungan lewat kebijakan lain yang lebih ramah bagi ekosistem EV. Kemudahan perizinan lokasi SPKLU menjadi salah satu poin penting yang dinilai bisa mempercepat perluasan jaringan pengisian daya.

Aspelusi juga mendorong integrasi SPKLU dengan kawasan publik dan transit agar akses pengguna makin mudah. Di saat yang sama, insentif terhadap pemakaian energi bersih dinilai dapat memperkuat arah pengembangan transportasi rendah emisi.

Sebagai asosiasi yang menaungi pelaku SPKLU swasta di Indonesia, Aspelusi menyatakan siap menjadi mitra strategis pemerintah dalam mempercepat elektrifikasi transportasi nasional. Organisasi ini menekankan pentingnya infrastruktur charging station yang merata, andal, dan berkelanjutan untuk menopang pasar EV yang sedang mencari bentuk paling ideal.

Source: mediaindonesia.com
Terkait