Inggris kini berada di persimpangan yang sangat menentukan di Piala Dunia 2026. Hasil akhir di Grup L akan langsung memisahkan mereka ke dua jalur yang sangat berbeda, antara skenario yang relatif terukur atau rute yang jauh lebih berat.
Thomas Tuchel membawa Inggris memulai fase grup dengan menghadapi Kroasia, sementara reaksi publik ikut naik turun setelah pemilihan pemainnya dinilai mengejutkan. Kemenangan tipis 1-0 atas Selandia Baru juga belum sepenuhnya menenangkan keraguan yang muncul.
Juara Grup L membuka peta yang lebih masuk akal
Inggris berada satu grup dengan Kroasia, Ghana, dan Panama, sehingga ruang kesalahan mereka tetap terbatas. Namun, status juara grup akan memberi mereka jalur eliminasi yang jauh lebih ramah dibandingkan jika hanya finis sebagai runner-up.
Jika keluar sebagai juara Grup L, Inggris diperkirakan menghadapi salah satu tim peringkat ketiga terbaik dari Grup E, H, I, J, atau K pada babak 32 besar. Nama-nama seperti Pantai Gading, Ekuador, Arab Saudi, Norwegia, Senegal, Austria, atau Republik Demokratik Kongo bisa masuk dalam kelompok itu.
Peta tersebut menjadi lebih ringan bila tim-tim besar seperti Jerman, Spanyol, Prancis, Argentina, dan Portugal benar-benar memimpin grup masing-masing. Dalam skenario itu, lawan Inggris tetap berasal dari pool tim peringkat ketiga terbaik, bukan langsung dari jajaran unggulan utama.
Di babak 16 besar, jalur juara grup juga bisa mempertemukan Inggris dengan salah satu tuan rumah, Meksiko. Laga itu berpotensi digelar di Mexico City, sehingga tekanan atmosfer bisa menjadi faktor tambahan.
Brasil, Argentina, dan Spanyol bisa menunggu di tahap akhir
Jika terus melaju sebagai juara grup, perempat final berpotensi menghadirkan Brasil, dalam laga yang mengingatkan pada Piala Dunia 2002. Kini Brasil ditangani Carlo Ancelotti, sehingga pertemuan itu juga membawa nuansa baru dari sisi pelatih.
Apabila Inggris mampu melewati tahap tersebut, semifinal kemungkinan besar mempertemukan mereka dengan Argentina atau Portugal. Jalur itu kemudian bisa berujung pada final melawan Spanyol, yang sekaligus membuka peluang ulangan final Euro 2024.
Prancis juga tetap menjadi kandidat lawan di partai puncak bila Inggris berhasil menghindari bagan undian yang dipenuhi tim-tim kuat Eropa. Jalur juara grup memang tidak ringan, tetapi tetap memberi peta yang lebih masuk akal untuk dijalani.
Runner-up membuat tantangannya naik tajam
Situasinya berubah drastis bila Inggris hanya finis sebagai runner-up Grup L. Pada babak 32 besar, mereka akan berhadapan dengan runner-up Grup K, yang kemungkinan ditempati Kolombia.
Kolombia punya riwayat yang cukup akrab bagi Inggris karena pernah mereka kalahkan lewat adu penalti pada Piala Dunia 2018. Namun setelah itu, jalur runner-up langsung membawa Inggris ke rangkaian lawan yang jauh lebih berat.
Di babak 16 besar, Inggris diprediksi langsung bertemu Spanyol dengan asumsi negara itu menjuarai Grup H. Jika berhasil melewatinya, perempat final memang bisa sedikit lebih bersahabat, seperti Belgia dari Grup G atau pemenang Grup D yang persaingannya terbuka.
Meski begitu, fase berikutnya tetap penuh risiko. Jalur runner-up bisa mempertemukan Inggris dengan Prancis, Jerman, atau Belanda di semifinal, dan jika lolos sampai final, juara bertahan Argentina menjadi lawan yang paling mungkin menunggu.
Dengan dua peta jalan yang sangat kontras itu, posisi akhir Inggris di Grup L akan menentukan seberapa jauh beban yang harus mereka tanggung menuju final Piala Dunia 2026.
