Inggris Peringatkan Serangan Siber China, Router Rumah Jadi Pintu Masuk Jaringan Rahasia

Author: Cung Media

Inggris memperingatkan meningkatnya ancaman serangan siber yang dikaitkan dengan kelompok peretas terafiliasi China. Pusat Keamanan Siber Nasional Inggris atau NCSC meminta organisasi di berbagai negara memperkuat pertahanan digital karena para pelaku diduga memakai jaringan tersembunyi untuk menyamarkan aktivitas berbahaya.

Peringatan ini muncul bersama panduan baru yang disusun NCSC bersama industri dan 15 mitra internasional dari delapan negara, termasuk Amerika Serikat, Australia, Kanada, Jerman, Jepang, Belanda, Selandia Baru, dan Spanyol. Dokumen tersebut menyoroti bahwa jaringan rahasia sering dibangun dari perangkat harian yang terhubung ke internet, seperti router rumah dan perangkat pintar.

Jaringan tersembunyi jadi alat utama

NCSC menilai jaringan semacam ini dipakai untuk menyerang sektor penting di sejumlah negara. Selain mencuri data sensitif, jaringan itu juga membantu pelaku bertahan lebih lama di dalam sistem tanpa mudah terdeteksi.

Direktur operasional NCSC, Paul Chichester, mengatakan ada perubahan taktik dari kelompok siber berbasis China. Ia menyebut dalam beberapa tahun terakhir kelompok itu memanfaatkan jaringan tersembunyi untuk menutup jejak aktivitas berbahaya dan menghindari tanggung jawab.

Panduan baru itu juga menyebut bukti serangan dari China kerap cepat dihapus. Kondisi tersebut membuat proses pelacakan menjadi lebih sulit dan menambah beban bagi tim keamanan siber yang berupaya menemukan sumber serangan.

Perangkat sehari-hari ikut rawan dimanfaatkan

Sorotan lain dari panduan NCSC adalah risiko pada perangkat rumah tangga yang terhubung internet. Router rumah dan perangkat pintar menjadi perhatian karena sering memiliki celah keamanan dan dapat dipakai untuk menyamarkan asal aktivitas berbahaya.

Risiko ini menjadi lebih besar karena serangan tidak selalu dimulai dari target utama. Pelaku bisa masuk lewat perangkat yang tampak biasa, lalu bergerak perlahan menuju sistem yang lebih penting tanpa memicu alarm sejak awal.

Pendekatan seperti ini membuat organisasi harus melihat keamanan siber secara lebih luas. Ancaman tidak hanya datang dari server besar atau jaringan inti, tetapi juga dari perangkat kecil yang digunakan sehari-hari di rumah maupun kantor.

Serangan siber makin lintas negara

Desakan Inggris menunjukkan bahwa ancaman siber kini dipandang sebagai persoalan lintas negara. Organisasi di berbagai wilayah diminta meningkatkan kesiapsiagaan karena serangan dapat melewati perangkat sederhana sebelum mencapai jaringan vital.

Peringatan itu juga sejalan dengan penilaian kepala NCSC, Richard Horne, yang menilai Inggris perlu bersiap menghadapi peningkatan serangan siber, baik langsung maupun tidak langsung, dari sejumlah negara termasuk China, Iran, dan Rusia. Ia menyebut lembaganya masih menangani sekitar empat insiden siber signifikan secara nasional setiap minggu.

Horne menilai serangan yang paling berdampak kini semakin berkaitan dengan pemerintah, bukan lagi hanya kelompok kriminal biasa. Penilaian ini memperkuat pandangan bahwa lanskap ancaman siber telah berubah dan membutuhkan koordinasi yang lebih erat antarnegara.

Dalam konteks itu, Inggris juga mengajak perusahaan AI terkemuka bekerja sama dengan pemerintah untuk membangun kemampuan pertahanan siber berbasis kecerdasan buatan. Langkah ini diarahkan untuk melindungi infrastruktur nasional yang dinilai makin penting dan semakin sering menjadi sasaran operasi siber terkoordinasi.

Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri China belum segera menanggapi permintaan komentar dari Reuters terkait tuduhan tersebut. Sementara itu, kekhawatiran terhadap jaringan serangan tersembunyi terus meningkat karena pola ancaman seperti ini dianggap makin sulit diurai tanpa kerja sama internasional yang lebih rapat.

Source: www.cnbcindonesia.com
Terbaru