Kemajuan infrastruktur digital Indonesia belum sepenuhnya berbanding lurus dengan kesiapan manusianya. Saat konektivitas dan ekonomi digital menguat, Talenta Digital Indonesia justru menjadi titik lemah yang dapat membatasi manfaat transformasi teknologi.
Persoalan ini semakin mendesak ketika penggunaan kecerdasan artifisial generatif tumbuh cepat. Indonesia telah masuk kelompok 10 besar dunia berdasarkan jumlah pengguna AI generatif, tetapi tenaga kerja yang mampu mengembangkan dan memanfaatkannya secara produktif masih terbatas.
Laporan EV-DCI 2026 yang disusun East Ventures bersama Katadata Insight Center mencatat median skor daya saing digital nasional meningkat dari 38,8 pada 2025 menjadi 42,2 pada 2026. Sebanyak 37 dari 38 provinsi juga membukukan kenaikan skor, menunjukkan perbaikan berlangsung di hampir seluruh wilayah.
Namun, kenaikan tersebut tidak terjadi pada semua pilar pengukuran. Pilar sumber daya manusia turun 2,5 poin dan menjadi satu-satunya komponen yang melemah dibandingkan pilar daya saing digital lainnya.
Skor Naik, Kesiapan SDM Menurun
Penurunan pilar SDM terlihat pada beberapa indikator pendidikan dan kemampuan digital. Jumlah mahasiswa, dosen, program studi bidang digital, serta indeks literasi digital menjadi bagian dari indikator yang menunjukkan pelemahan.
Kondisi itu memperlihatkan jarak antara pembangunan fasilitas dengan kemampuan masyarakat untuk menggunakannya secara bernilai ekonomi. Infrastruktur yang lebih baik tidak otomatis menghasilkan inovasi, produktivitas, atau bisnis digital yang kuat tanpa tenaga kerja yang memadai.
| Indikator | Data | Makna |
|---|---|---|
| Median skor daya saing digital | 38,8 pada 2025 menjadi 42,2 pada 2026 | Daya saing digital nasional meningkat |
| Provinsi dengan skor meningkat | 37 dari 38 provinsi | Perbaikan terjadi hampir merata |
| Pilar SDM | Turun 2,5 poin | Menjadi satu-satunya pilar yang melemah |
| Anggaran riset dan pengembangan | Sekitar 0,3% dari PDB | Ruang pengembangan teknologi masih terbatas |
Kesenjangan kapasitas manusia juga tampak tajam antarwilayah. Skor SDM digital di Pulau Jawa tercatat sekitar 2,3 kali lebih tinggi daripada Sumatra dan Kalimantan, sedangkan selisihnya dengan Maluku dan Papua mendekati tiga kali lipat.
Perbedaan ini berisiko membuat manfaat ekonomi digital terkonsentrasi pada daerah yang sudah memiliki ekosistem pendidikan dan tenaga kerja lebih kuat. Wilayah dengan akses teknologi yang membaik tetap dapat tertinggal apabila tidak dibarengi peningkatan keterampilan masyarakatnya.
Peluang AI Belum Terserap Penuh
Aktivitas digital Indonesia terus berkembang dengan basis pengguna internet yang besar. Jumlah pengguna internet tercatat mencapai 229,4 juta, sementara pemanfaatan media sosial untuk penjualan oleh pelaku usaha melonjak 20,7 poin.
Sektor jasa keuangan juga tumbuh 7,9%, memperlihatkan bahwa digitalisasi sudah mendorong aktivitas ekonomi di berbagai bidang. Dalam situasi tersebut, kebutuhan terhadap pekerja yang memahami data, teknologi, dan proses bisnis akan semakin tinggi.
Kecerdasan Artifisial memiliki potensi besar bagi perekonomian nasional. Teknologi ini disebut berpotensi meningkatkan Produk Domestik Bruto Indonesia hingga 12% atau setara US$366 miliar.
Potensi tersebut masih menghadapi hambatan dari rendahnya belanja riset dan pengembangan yang berada di sekitar 0,3% dari PDB. Keterbatasan tenaga ahli yang mampu mengembangkan teknologi AI juga menjadi tantangan penting dalam memaksimalkan peluang tersebut.
Kurikulum dan Industri Perlu Bergerak Bersama
CEO MySkill Angga Fauzan menilai salah satu hambatan terbesar terletak pada lambatnya adaptasi kurikulum pendidikan formal terhadap perubahan kebutuhan industri. Menurutnya, bootcamp dan platform edutech dapat menjadi jembatan yang lebih lincah untuk membekali talenta dengan keterampilan praktis terbaru.
Partner East Ventures Melisa Irene menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, institusi pendidikan, dan industri. Kerja sama tersebut dinilai krusial untuk mempercepat upskilling dan reskilling bagi tenaga kerja Indonesia.
Penguatan talenta perlu berjalan seiring dengan pembangunan jaringan, akses internet, dan aktivitas ekonomi digital di daerah. Tanpa langkah itu, kesenjangan keterampilan berpotensi membuat kemajuan digital Indonesia tidak terserap optimal oleh masyarakat di berbagai wilayah.
Source: www.medcom.id






