Kabar duka datang dari Balai Taman Nasional Tesso Nilo, Riau. Gajah Sumatera jinak bernama Indro mati setelah mengalami penurunan kondisi kesehatan yang berlangsung intensif dan tak lagi tertolong.
Indro adalah gajah jantan berusia 45 tahun yang selama ini berada di Camp Elephant Flying Squad, Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Lubuk Kembang Bunga, Desa Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan. Kepala Balai TNTN Heru Sutmantoro menyebut Indro mengembuskan napas terakhir pada Senin dini hari, 29 Juni pukul 03.45 WIB.
Musth yang Berlangsung Panjang
Perubahan kondisi Indro sudah terpantau sejak akhir April hingga awal Mei 2026, saat ia memasuki fase awal musth. Pada fase ini, gajah jantan biasanya menjadi lebih agresif dan terlihat mengeluarkan cairan pada alat kelamin.
Memasuki awal Juni, kondisi Indro disebut makin sulit dikendalikan. Ia tidak lagi bisa didekati, tidak merespons perintah mahout, dan mulai menunjukkan perilaku yang membahayakan keselamatan petugas.
Untuk menjaga tubuhnya tetap terpantau, tim Flying Squad terus menyuplai pakan dan memastikan ketersediaan air minum setiap pagi serta sore. Saat fase musth berlangsung lama, tim medis bersama BBKSDA Riau kemudian melakukan sedasi untuk memasang rantai tambahan sebagai langkah pengamanan.
Setelah prosedur itu, tim memberi anti-dot agar Indro sadar penuh kembali dalam posisi berdiri yang stabil. Namun, beberapa hari kemudian, kondisi fisiknya justru menurun tajam.
Upaya Medis Hingga Detik Terakhir
Pada 25–26 Juni 2026, Indro mulai mengalami penurunan nafsu makan dan minum secara drastis. Mahout dan tim medis BTNTN memantau kondisinya selama 24 jam penuh dan berkoordinasi dengan dokter hewan ahli untuk penanganan lanjutan.
Situasi sempat membaik pada 28 Juni 2026. Saat itu Indro mulai mau meminum air dan mencoba menjamah pakan, sehingga tim medis memberikan infusan masif sebanyak 60 botol untuk membantu pemulihan fisiknya.
Namun, perubahan drastis terjadi pada Senin dini hari. Indro ditemukan dalam posisi terbaring, lalu dokter hewan bersama para mahout segera memeriksa fungsi pernapasan dan melakukan resusitasi jantung paru atau CPR selama beberapa menit.
Tidak ada respons yang muncul dari tubuhnya. Indro kemudian dinyatakan mati pada pukul 03.45 WIB setelah seluruh upaya medis tidak berhasil menyelamatkannya.
Risiko di Balik Fase Musth
Musth dikenal sebagai periode hormonal puncak pada gajah jantan dan kerap ditandai agresivitas tinggi. Dalam kasus Indro, fase ini berlangsung cukup panjang dan diikuti penurunan kondisi fisik yang memicu komplikasi kesehatan.
Rangkaian penanganan yang dilakukan tim medis dan mahout menunjukkan betapa ketatnya pengawasan terhadap gajah jinak di kawasan konservasi. Langkah itu mencakup penyediaan pakan, pemantauan intensif, sedasi, pengamanan tambahan, hingga tindakan darurat saat kondisi gajah memburuk.
Source: www.viva.co.id






