
Tim Uber Indonesia berada dalam posisi tertekan setelah tiga partai melawan Taiwan di Forum Horsens, Denmark, tidak berjalan sesuai harapan. Skuad Merah Putih tertinggal 1-2, sehingga peluang menjadi juara Grup C kini sepenuhnya bergantung pada sisa laga.
Situasi itu terjadi setelah tunggal putri Ni Kadek Dhinda Amartya Pratiwi gagal menambah angka pada partai ketiga. Dhinda kalah dari Lin Hsiang Ti melalui pertarungan 66 menit dengan skor 10-21 dan 29-30, sebuah hasil yang membuat Indonesia kehilangan momentum penting.
Awal laga berjalan di luar kendali Indonesia
Dhinda mengaku kesulitan sejak awal karena pola permainan lawan tidak mudah dibaca. Menurut dia, Lin Hsiang Ti sengaja memancing tempo cepat dan agresif, sementara Indonesia belum mampu menemukan ritme yang tepat untuk keluar dari tekanan.
Masalah terbesar muncul pada gim pertama saat adaptasi Dhinda berjalan lambat. Kondisi itu membuatnya lebih sering berada dalam posisi mengejar dan sulit mengimbangi permainan lawan yang tampil stabil sepanjang laga.
Sebelum Dhinda turun, Indonesia sebenarnya sempat membuka jalan dengan hasil positif. Putri Kusuma Wardani lebih dulu meraih kemenangan atas Chiu Pin-Chian dan membawa Indonesia unggul 1-0.
Keunggulan tersebut memberi harapan besar agar Indonesia bisa menjaga peluang finis sebagai pemuncak grup. Namun, keadaan berubah setelah Taiwan mulai membalikkan keadaan dan mengambil alih jalannya pertandingan.
Taiwan membalikkan tekanan
Setelah Indonesia unggul lebih dulu, Taiwan merespons dengan cepat dan menyamakan kedudukan. Tekanan pada kubu Indonesia semakin besar ketika pasangan Amallia Cahaya Pratiwi/Siti Fadia Silva Ramadhanti juga gagal membawa poin, sehingga Taiwan berbalik unggul 2-1.
Kondisi ini membuat partai tunggal Dhinda menjadi sangat penting bagi Indonesia. Kemenangan di laga tersebut bisa menjaga asa untuk terus bersaing dalam perebutan posisi teratas Grup C, sedangkan kekalahan berarti Indonesia harus berada dalam situasi yang lebih sulit.
Di atas lapangan, duel Dhinda dan Lin berlangsung ketat pada fase-fase tertentu. Meski begitu, konsistensi lawan di poin-poin penting membuat Indonesia belum mampu mengubah arah pertandingan secara penuh.
Instruksi pelatih sempat memberi perlawanan
Saat jeda antar gim, tim pelatih mencoba mengubah pendekatan permainan. Dhinda diminta memperlambat tempo agar tekanan dari permainan cepat Taiwan bisa berkurang, terutama karena lawan dikenal ulet dan tidak mudah dipatahkan.
Arahan itu sempat membuat permainan Dhinda lebih hidup. Ia mampu menjaga reli panjang dan beberapa kali merepotkan lawan, bahkan sempat unggul dalam perolehan angka pada gim kedua.
“Di gim kedua, pelatih menginstruksikan saya untuk bermain lebih lambat dan itu cukup berhasil walaupun tidak mudah juga karena dia sangat ulet dan kuat,” kata Dhinda. Ia menambahkan bahwa dirinya sudah berusaha bertahan dalam reli-reli panjang, tetapi kehilangan poin penting pada momen akhir.
Poin-poin akhir menjadi pembeda
Pertemuan Dhinda dan Lin memperlihatkan betapa kecilnya margin kesalahan di level ini. Ketika gim kedua memasuki skor kritis, Taiwan mampu menjaga ketenangan dan menuntaskan pertandingan lewat poin terakhir.
Bagi Indonesia, hasil tersebut terasa berat karena sempat punya peluang membalikkan keadaan. Namun, stabilitas permainan Taiwan di momen penentu akhirnya membuat mereka mengamankan kemenangan dan menempatkan Indonesia dalam posisi tertinggal 1-2.
Dengan kondisi itu, harapan Indonesia untuk merebut status juara Grup C tersisa pada partai keempat. Laga berikutnya mempertemukan Rachel Alessya Rose/Febi Setianingrum dengan pasangan Taiwan, Hsu Yin-Hui/Lin Jhih Yun.
Partai tersebut menjadi penentu yang sangat penting bagi langkah Indonesia di fase grup. Jika Rachel/Febi mampu menang, peluang untuk memperbaiki posisi masih terbuka, tetapi jika gagal, Taiwan akan semakin kuat menguasai momentum dalam persaingan Grup C.





