IHSG Terseret Net Sell Asing Triliunan, Anjlok Ke 7.378 Di Tengah Tekanan Global

IHSG ditutup terkoreksi tajam dan kembali tenggelam ke level 7.378 setelah tertekan aksi jual bersih investor asing yang mencapai triliunan rupiah. Pelemahan indeks juga tidak lepas dari sentimen pasar global yang memburuk sehingga pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia cenderung berada di zona merah hampir sepanjang sesi.

Tekanan jual sudah terasa sejak pembukaan perdagangan dan membuat arah pasar berubah cepat hingga penutupan. Kondisi ini memicu kekhawatiran pelaku pasar karena IHSG gagal mempertahankan level psikologis yang sempat bertahan pada awal sesi.

Aksi jual asing menekan saham big cap

Laporan perdagangan harian menunjukkan net sell asing berada di kisaran Rp978 miliar hingga Rp1,4 triliun di seluruh pasar. Arus keluar dana tersebut langsung memberi beban pada saham-saham berkapitalisasi besar yang selama ini menjadi penopang utama indeks.

Dalam kondisi seperti itu, pelepasan saham blue chip biasanya paling cepat terasa pada IHSG karena bobotnya yang besar. Jika tekanan terjadi serentak pada beberapa emiten utama, indeks pun dapat turun lebih dalam meski saham lain tidak mengalami pelemahan sebesar itu.

Sentimen global ikut memperburuk kondisi

Selain dari sisi arus dana asing, pasar juga dibayangi pelemahan bursa global yang ikut menekan minat risiko investor. Dinamika geopolitik dan tensi perang dagang Amerika-China kembali menjadi perhatian karena dapat mengganggu rantai pasok sekaligus menambah ketidakpastian di pasar modal Asia.

Situasi tersebut mendorong sentimen risk-off di kalangan investor, sehingga sebagian pelaku pasar memilih mengurangi eksposur pada aset berisiko. Dalam kondisi seperti ini, pasar saham domestik ikut rentan karena investor cenderung mencari perlindungan aset yang dianggap lebih aman.

Rupiah dan faktor domestik menambah tekanan

Pelemahan rupiah terhadap dolar AS juga ikut membebani sentimen di bursa. Kondisi nilai tukar yang tertekan kerap membuat investor asing lebih berhati-hati karena risiko kurs bisa mengurangi daya tarik aset domestik.

Dari sisi domestik, pasar masih mencermati kebijakan suku bunga bank sentral dan laporan kinerja emiten kuartal I-2026 yang dinilai belum sesuai ekspektasi. Kombinasi faktor-faktor ini membuat investor lebih selektif dan menahan transaksi agresif di tengah volatilitas yang meningkat.

MSCI dan area support jadi perhatian pasar

Faktor teknis juga ikut memengaruhi arah pergerakan IHSG, terutama tertundanya rebalancing indeks MSCI. Penundaan ini menambah ketidakpastian karena pelaku pasar masih menunggu kepastian soal arah aliran dana dan komposisi indeks berikutnya.

Di tengah tekanan jual yang belum mereda, investor mulai mencermati area support di kisaran 7.300-7.350 sebagai batas penting. Jika area tersebut bertahan, pasar masih punya ruang untuk bergerak konsolidatif sambil menunggu katalis baru dari dalam maupun luar negeri.

Gambaran jangka panjang masih menunjukkan pertumbuhan

Meski koreksi harian kali ini cukup dalam, data historis masih menunjukkan bahwa IHSG tetap mencatat pertumbuhan dalam jangka panjang. Berdasarkan data TradingView per 24 April 2026, indeks naik 11,98 persen dalam 1 tahun, 22,96 persen dalam 5 tahun, 51,05 persen dalam 10 tahun, dan 1.050 persen sepanjang waktu.

Komposisi pasar juga terus berkembang hingga 2026 dengan jumlah perusahaan yang tercatat sebagai komponen indeks meningkat dari basis 864 perusahaan pada 2023. Data tersebut menunjukkan bahwa pelemahan harian tidak otomatis mengubah tren pertumbuhan pasar modal secara lebih luas, meski tekanan jangka pendek masih harus dicermati.

Menjelang perdagangan berikutnya, perhatian pasar tertuju pada rilis data inflasi AS yang disebut dapat memengaruhi pembukaan awal pekan. Selama tekanan jual asing belum mereda dan sentimen eksternal belum pulih, IHSG masih berpeluang bergerak dalam pola konsolidasi dengan volatilitas yang tetap tinggi.

Baca Juga

Back to top button