IHSG tetap melanjutkan penguatan dan menutup perdagangan di level 7.634 pada periode 13-17 April 2026. Kenaikan itu terjadi ketika investor asing justru mencatat jual bersih Rp2,77 triliun di seluruh pasar, sehingga pergerakan indeks terlihat berlawanan dengan arus dana asing.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan jual dari investor internasional belum cukup kuat untuk membalik arah pasar. Secara point-to-point, IHSG naik 2,35 persen, menandakan ada penopang lain yang menjaga sentimen saham domestik tetap positif.
Tekanan jual paling besar menimpa bank besar
Aksi lepas asing paling nyata terlihat di sektor perbankan. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menjadi saham dengan net sell terbesar, mencapai Rp1,09 triliun, meski harga sahamnya masih naik 1,18 persen ke Rp3.430 per saham.
Dua bank besar lain juga masuk daftar penjualan asing. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatat net sell Rp995,23 miliar, sedangkan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dilepas asing senilai Rp562,14 miliar.
Pola ini memperlihatkan bahwa sektor perbankan masih menjadi pusat perhatian transaksi asing. Namun, pelepasan saham besar tidak selalu diikuti pelemahan harga yang seragam, karena pergerakan masing-masing emiten tetap dipengaruhi minat beli dari pelaku pasar lain.
Komoditas dan teknologi ikut terkena tekanan
Selain bank, saham berbasis komoditas juga banyak dilepas asing. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mencatat jual bersih Rp554,73 miliar, disusul PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) sebesar Rp183,53 miliar dan PT Petrosea Tbk (PTRO) sebesar Rp174,87 miliar.
Di daftar lain, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) terkena net sell Rp125,52 miliar. PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) juga masuk jajaran saham dengan pelepasan asing terbesar, dengan nilai Rp117,29 miliar.
PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) melengkapi daftar saham yang banyak dijual investor global. Nilai jual bersih masing-masing tercatat Rp95,46 miliar dan Rp74,04 miliar, mempertegas bahwa tekanan asing menyebar ke beberapa sektor sekaligus.
Ada saham yang justru diburu asing
Di tengah net sell besar, investor asing tetap memilih sejumlah saham untuk dikoleksi. PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) menjadi incaran utama dengan net buy Rp440,09 miliar, dan sahamnya melonjak 18,22 persen ke posisi Rp1.590 per saham.
Minat beli asing juga tampak pada PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) dengan net buy Rp289,48 miliar. Setelah itu, PT Astra International Tbk (ASII) mencatat pembelian bersih Rp236,68 miliar, sedangkan PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dibeli asing senilai Rp214,84 miliar.
Arus beli juga mengalir ke PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) sebesar Rp143,05 miliar. Saham lain yang masuk daftar pembelian bersih asing adalah PT Vale Indonesia Tbk (INCO) Rp131,48 miliar, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) Rp113,79 miliar, PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) Rp103,41 miliar, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) Rp102,57 miliar, dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) Rp98,65 miliar.
Sentimen pasar masih selektif
Perbedaan antara jual bersih besar di satu sisi dan pembelian agresif di sisi lain menunjukkan pasar bergerak secara selektif. IHSG yang tetap naik menandakan ada saham-saham tertentu yang cukup kuat menopang indeks meski tekanan asing masih terasa.
Data pekan itu memberi gambaran bahwa modal asing belum keluar sepenuhnya dari pasar Indonesia. Yang terjadi justru pergeseran minat ke saham-saham tertentu, sementara emiten perbankan besar dan sejumlah saham komoditas tetap menjadi area yang paling sering dilepas.







