IHSG kembali memasuki fase yang tak asing bagi pasar modal Indonesia, tetapi kali ini tekanannya datang dengan kondisi yang berbeda. PT Henan Putihrai Sekuritas menilai siklus kedelapan yang sedang berlangsung sudah menekan IHSG 41,72 persen dari puncaknya per 15 Juni 2026, menjadikannya koreksi ketiga terdalam dalam sejarah modern pasar modal Indonesia.
Yang membuat situasi ini menarik bukan hanya besarnya penurunan, melainkan apakah pola lama masih bisa bekerja. Dalam tujuh siklus sebelumnya, IHSG selalu melewati empat fase yang relatif konsisten sebelum akhirnya kembali ke puncak lama dan membentuk puncak baru.
Empat fase yang berulang
Henan Putihrai Sekuritas mencatat bahwa pola pemulihan IHSG pada periode-periode besar sebelumnya cenderung berulang. Tujuh siklus yang dijadikan pembanding meliputi Bom Bali, Global Financial Crisis, Krisis Utang Eropa dan Black Monday, Taper Tantrum, Devaluasi Yuan China, COVID-19, serta Badai Tarif Trump.
Kerangka itu kini dipakai untuk membaca Siklus 8, meski lingkungan makro saat ini tidak sama dengan periode-periode sebelumnya. Bagi pasar, pertanyaannya sederhana: apakah urutan sinyal yang biasa muncul sebelum pemulihan masih akan terlihat lagi?
Tiga sinyal yang paling diperhatikan
Untuk menjawabnya, Henan Putihrai Sekuritas menyoroti tiga sinyal utama. Sinyal pertama adalah keputusan MSCI pada 18 Juni, yang dinilai menjadi faktor paling konkret dalam waktu dekat.
Sinyal kedua adalah stabilisasi rupiah secara organik ke kisaran Rp 15.000—Rp16.000. Sinyal ketiga adalah arah BI Rate menuju pemangkasan, yang secara historis kerap muncul sebelum atau bersamaan dengan fase pemulihan pasar.
Urutan ini penting karena mencerminkan apa yang biasanya terjadi saat kepercayaan pasar mulai kembali. Dalam koreksi sebelumnya, Bank Indonesia hampir selalu memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga guna mendorong modal kembali ke ekuitas.
Kenapa kali ini lebih rumit
Masalahnya, ruang itu tidak sepenuhnya tersedia pada Siklus 8. Pemangkasan suku bunga berisiko menekan rupiah lebih jauh, padahal stabilitas mata uang justru menjadi kebutuhan utama dalam kondisi sekarang.
Karena itu, pemulihan pasar harus datang dari sumber lain. Salah satunya adalah pelemahan dolar AS yang berada di luar kendali Indonesia, atau resolusi struktural domestik yang mampu meyakinkan investor asing tanpa bergantung pada insentif suku bunga.
Di antara berbagai kemungkinan itu, pengumuman MSCI pada 18 Juni disebut sebagai jalur pemulihan yang paling nyata dalam waktu dekat. Namun perhatian pasar tidak cukup hanya berhenti pada IHSG, karena investor asing mengambil keputusan dalam dolar, bukan rupiah.
Rupiah lebih dulu, baru IHSG
Henan Putihrai Sekuritas menyarankan pelaku pasar untuk lebih dulu memantau rupiah sebelum membaca arah IHSG. Logikanya, investor asing biasanya melihat nilai tukar lebih dahulu sebelum kembali masuk ke saham Indonesia.
Jika rupiah bisa bertahan stabil setelah pengumuman MSCI, apa pun hasilnya, kondisi itu dinilai lebih bermakna dibanding sekadar pergerakan indeks sesaat. Stabilitas rupiah memberi sinyal bahwa tekanan mulai mereda dan modal asing mulai merasa lebih nyaman untuk kembali.
Dengan begitu, Siklus 8 tidak hanya menjadi ujian bagi IHSG, tetapi juga bagi apakah pola lama pasar modal Indonesia masih relevan di tengah tekanan baru. Fokus utamanya kini ada pada rangkaian sinyal yang muncul, bukan semata-mata pada angka indeks harian.
Source: www.viva.co.id






