
Kehadiran hunian sementara di Desa Tunyang, Kecamatan Timang Gajah, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, mulai memberi dampak nyata bagi para penyintas bencana. Warga yang sebelumnya bertahan di tenda darurat kini menempati tempat tinggal yang lebih tertata, sehingga aktivitas harian mereka perlahan kembali berjalan lebih baik.
Perubahan itu terasa jelas bagi Kartini, salah satu penyintas yang kehilangan suami akibat bencana hidrometeorologi di Bener Meriah. Ia kini tinggal bersama dua anaknya di huntara dan menyebut situasinya jauh lebih ringan dibanding saat masih berada di tenda.
Kehidupan yang mulai tertata
Kartini menyampaikan rasa terima kasihnya ketika bertemu Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, yang meninjau langsung lokasi huntara. Ia mengingat kembali janji pembangunan hunian layak yang pernah disampaikan kepadanya saat masih berada di pengungsian sementara.
Menurut Kartini, hunian sementara itu bukan hanya memberi tempat berteduh. Keberadaannya juga membantu penyintas kembali menata kebutuhan dasar keluarga dalam kondisi yang lebih manusiawi.
Ia menegaskan bahwa hidup di huntara terasa lebih mudah dibandingkan saat harus bertahan di tenda darurat. Situasi yang lebih layak itu memberi ruang bagi keluarga penyintas untuk menjalani hari dengan beban yang sedikit berkurang.
Perubahan yang terlihat di lapangan
Dalam kunjungan tersebut, Tito menilai kondisi para penyintas sudah jauh membaik dibanding dua bulan sebelumnya. Ia melihat pembangunan huntara telah selesai dan dilengkapi fasilitas publik yang dinilai memadai bagi warga.
Tito juga menyebut suasana di lokasi kini berbeda jauh dari kunjungan sebelumnya. Jika sebelumnya banyak warga masih menangis, kali ini mereka terlihat lebih tenang dan bahkan tersenyum.
Perubahan itu menunjukkan bahwa hunian sementara tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal darurat. Huntara juga menjadi titik awal pemulihan psikologis bagi warga yang terdampak bencana.
Kartini sendiri masih mengingat pertemuan pertamanya dengan Tito saat situasi pengungsian belum stabil. Dalam pertemuan singkat di Desa Tunyang, Tito bahkan masih mengenalinya dan sempat menanyakan kabar anak-anaknya.
Bantuan lanjutan untuk penyintas
Selain meninjau kondisi huntara, Tito menyampaikan bahwa bantuan lanjutan akan segera disalurkan kepada para penyintas. Bantuan itu terdiri dari bantuan jamian hidup atau jadup sebesar Rp15.000 per orang per hari selama tiga bulan, bantuan isi hunian senilai Rp3 juta, serta bantuan ekonomi Rp5 juta per kepala keluarga.
Rangkaian bantuan tersebut diharapkan memperkuat proses pemulihan warga setelah mengalami kehilangan besar. Dukungan ini juga dimaksudkan agar para penyintas tidak hanya punya tempat tinggal, tetapi juga pegangan untuk memenuhi kebutuhan awal setelah berpindah dari tenda ke hunian sementara.
Bagi warga seperti Kartini, bantuan semacam ini menjadi penopang penting dalam masa transisi. Setelah kehilangan anggota keluarga dan melewati masa sulit di pengungsian, kepastian bantuan memberi ruang bagi mereka untuk menata ulang kehidupan secara perlahan.
Pendataan hunian tetap perlu dipercepat
Di sisi lain, Tito meminta Pemerintah Kabupaten Bener Meriah mempercepat pendataan calon penerima hunian tetap. Pendataan ini dinilai penting karena ada dua model pembangunan huntap yang perlu divalidasi, yakni huntap in-situ di lokasi semula dan huntap komunal dalam satu kompleks.
Ia menekankan bahwa data yang cepat dan akurat akan membantu proses berikutnya berjalan lebih terarah. Tito juga meminta agar warga didatangi langsung untuk memastikan pilihan hunian yang paling sesuai dengan kebutuhan mereka.
Langkah itu menjadi bagian penting dari tahapan pemulihan pascabencana di Bener Meriah. Saat hunian sementara sudah berdiri dan memberi rasa aman, perhatian berikutnya kini tertuju pada hunian tetap yang akan menentukan keberlanjutan kehidupan para penyintas di masa mendatang.
Source: www.medcom.id




