Huntara Bener Meriah Tumbuh Dalam Dua Bulan, Tito Sebut Layak Jadi Contoh Nasional

Author: Cung Media

Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, menilai hunian sementara di Desa Tunyang, Kecamatan Timang Gajah, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, dibangun dengan cepat dan layak. Dari hasil peninjauan di lokasi itu, Tito menyebut kawasan tersebut bisa menjadi contoh bagi daerah lain yang tengah menyiapkan hunian sementara bagi warga terdampak bencana.

Penilaian itu muncul setelah Tito melihat perubahan besar pada area yang sebelumnya masih berupa lahan awal. Dalam kunjungan sebelumnya bersama Bupati dan Wakil Gubernur, lokasi itu belum menunjukkan bentuk permukiman, namun kini sudah berdiri hunian yang tertata lebih rapi.

Lahan datar jadi kunci percepatan

Tito menilai salah satu faktor utama yang membuat pembangunan berjalan cepat adalah kesiapan lahan dari pemerintah daerah. Bupati Bener Meriah disebut sudah menyiapkan area datar sehingga proses pembangunan bisa dilakukan lebih mudah, meski Aceh dikenal memiliki banyak wilayah berbukit.

Menurut Tito, ketersediaan lahan seperti itu tidak selalu mudah ditemui di daerah lain. Kondisi di Tunyang menjadi penting karena pembangunan hunian sementara kerap tersendat bukan hanya oleh kebutuhan material, tetapi juga oleh medan yang sulit diolah.

Keberadaan lahan datar juga membantu proses penataan kawasan sejak awal. Dengan kondisi tersebut, pengerjaan fisik dapat berjalan lebih efisien dan hasil akhirnya lebih mudah diatur agar tertib dan fungsional.

Tata kawasan dinilai manusiawi

Selain cepat selesai, kawasan huntara di Desa Tunyang juga mendapat perhatian karena dinilai layak untuk ditempati. Permukaan tanah yang relatif datar dan berbatu membuat area tidak mudah becek saat hujan, sementara jalan di dalam kawasan sudah diperkeras untuk memudahkan mobilitas warga.

Tito menegaskan bahwa hunian sementara tidak boleh dipahami sekadar sebagai tempat singgah. “Penataan seperti ini penting, karena huntara bukan hanya tempat tinggal sementara, tapi juga ruang hidup yang harus layak,” ujarnya.

Pernyataan itu menegaskan bahwa aspek kenyamanan tetap menjadi bagian penting dalam penanganan pascabencana. Hunian sementara perlu memberi rasa aman sekaligus mendukung aktivitas harian para penyintas selama belum memiliki rumah tetap.

Fasilitas dasar disiapkan dalam satu kawasan

Di lokasi tersebut, setiap unit hunian sementara didukung fasilitas dasar yang ditempatkan dalam satu kawasan. Fasilitas itu mencakup dapur umum, toilet dan kamar mandi, ruang berkumpul, serta tempat ibadah yang bisa digunakan bersama oleh para penghuni.

Kawasan itu juga dilengkapi ruang terbuka untuk aktivitas warga. Area bermain anak dan fasilitas olahraga tersedia agar lingkungan huntara tidak hanya berfungsi sebagai tempat berteduh, tetapi juga menunjang kehidupan sosial dan kegiatan sehari-hari.

Penataan terintegrasi semacam ini dinilai membantu para penyintas melewati masa transisi dengan lebih baik. Kehadiran fasilitas bersama membuat kebutuhan dasar warga lebih mudah diakses tanpa harus keluar jauh dari kawasan hunian.

Bisa jadi rujukan untuk daerah lain

Tito menilai model hunian sementara di Bener Meriah bisa menjadi rujukan bagi daerah lain, terutama wilayah dengan tantangan geografis serupa. Ketersediaan lahan datar dan kemudahan akses pembangunan sering menjadi kendala utama di banyak daerah, sehingga pengalaman Tunyang dinilai relevan untuk dipelajari.

Meski begitu, Tito mengingatkan bahwa huntara tetap bersifat sementara. Pemerintah terus mendorong percepatan pembangunan hunian tetap agar warga bisa segera menempati rumah permanen yang lebih layak.

“Kita ingin memastikan selama di huntara, masyarakat tetap tinggal di tempat yang layak, sambil menunggu huntap selesai dibangun,” kata Tito.

Kondisi di Tunyang memperlihatkan bahwa penanganan pascabencana membutuhkan lebih dari sekadar kecepatan pembangunan. Tata ruang yang baik, fasilitas dasar yang memadai, dan lingkungan yang nyaman menjadi bagian penting agar hunian sementara tetap manusiawi bagi warga yang masih menunggu rumah tetap selesai dibangun.

Source: www.medcom.id
Terbaru