Pameran Menyibak Kabut mengembalikan perhatian publik pada Zaini lewat sekitar 50 karya yang jarang tampil di ruang publik. Pameran di Galeri Cipta 1 dan 2 Taman Ismail Marzuki, Jakarta, ini juga menjadi penanda 100 tahun kelahiran pelukis tersebut.
Yang menonjol dari pameran ini bukan hanya rentang karya yang dipamerkan, tetapi cara Zaini membuat objek sehari-hari terasa seperti pengalaman batin. Lukisan-lukisannya lebih sibuk menangkap suasana daripada menyalin bentuk secara teliti.
Karya yang bergerak dari objek ke perasaan
Salah satu karya yang langsung menarik perhatian pengunjung adalah Danau (1975), dengan semburat jingga, putih, biru tua, dan merah yang menyatu tanpa garis tegas. Komposisi itu menghadirkan kesan kontemplatif yang kuat dan menjadi ciri penting dalam banyak karya Zaini.
Kecenderungan yang sama terlihat pada karya awal seperti Rumah (1948), Potret Trisno Sumardjo (1949), dan Potret Nashar (1950). Dalam karya-karya tersebut, Zaini tidak mengejar realisme yang ketat, melainkan menangkap jejak suasana yang tertinggal dari objek.
Objek keseharian yang diolah jadi ruang hening
Ketua Asosiasi Galeri Seni Rupa Indonesia Maya Sujatmiko menilai kekuatan Zaini terletak pada kemampuannya mengubah rumah, perahu, binatang, dan bentang alam menjadi ruang yang hening. Warna, garis, dan bentuk saling melebur sehingga objek tidak lagi tampil sebagai benda semata.
Menurut Maya, olahan semacam itu memberi ruang perenungan bagi penikmatnya. Ia juga menyebut Zaini sebagai sosok yang inspiratif karena tidak hanya berkarya sebagai seniman, tetapi juga berperan sebagai pendidik.
Pencarian yang tak berhenti pada satu cara pandang
Kurator pameran Ibrahim Soetomo melihat karya-karya Zaini sebagai pertemuan antara garis yang tegas dan sapuan warna yang lembut. Ia juga menyoroti cara Zaini menghadirkan bentuk yang terang, lalu membiarkannya perlahan mengabur dalam bidang visualnya.
Ibrahim menyebut Zaini aktif di Dewan Kesenian Jakarta, tetapi tetap dikenal sebagai pribadi melankolis yang terus mempertanyakan seni lukis. Dari sana terlihat bahwa Zaini tidak berhenti mencari cara baru untuk memandang objek dan lingkungan di sekitarnya.
Warisan yang kembali dibaca publik
Pandangan lain datang dari kritikus seni rupa Bambang Bujono yang menilai Zaini pada mulanya berangkat dari objek. Namun, perhatian Zaini kemudian bergeser pada suasana yang lahir dari objek tersebut, bukan sekadar wujud fisiknya.
Melalui Menyibak Kabut, publik diajak melihat kembali karya-karya Zaini yang selama ini jarang muncul di ruang pamer. Pameran yang dibuka pada Sabtu, 20 Juni 2026, itu menampilkan karya-karya dari rentang 1948–1977 dan bisa dikunjungi hingga 11 Juli 2026.
Ajang ini juga menegaskan posisi Zaini sebagai pelukis yang ikut membentuk perkembangan ekosistem seni rupa modern Indonesia melalui karya, pemikiran, dan perannya dalam dunia kesenian.
Source: lifestyle.bisnis.com






