Karya seni Heri Dono yang identik dengan bahasa visual kuat kini berpindah dari kanvas dan instalasi ke tubuh pemakainya. Melalui kolaborasi dengan Adelle Jewellery dan G3N Project, gagasan tentang bidadari yang terperangkap jaring diterjemahkan menjadi perhiasan eksklusif bertatah berlian dan batu mulia.
Kolaborasi ini menawarkan cara berbeda untuk menikmati seni kontemporer Indonesia. Perhiasan tidak hanya diposisikan sebagai aksesori, melainkan benda pakai yang membawa narasi, identitas budaya, dan kemungkinan untuk diwariskan.
Dari metafora kebebasan ke perhiasan
Titik berangkat koleksi ini berasal dari salah satu karya ikonik Heri Dono yang dibuat pada 1996, menjelang era Reformasi. Karya tersebut menampilkan sosok bidadari dalam jaring sebagai metafora kebebasan, harapan, serta gagasan yang kerap dibatasi oleh ruang sosial dan politik.
Makna itu tidak dilepaskan saat visual karya tersebut dialihkan ke medium perhiasan. Berlian dan batu mulia digunakan untuk membawa simbol bidadari dalam jaring ke format yang lebih personal dan dekat dengan keseharian pemiliknya.
Heri Dono memandang pertemuan seni murni dengan bidang lain sebagai ruang penting bagi perkembangan imajinasi. Ia menilai kolaborasi lintas disiplin dapat membantu karya seni menjangkau masyarakat yang lebih luas.
“Di dalam seni murni kadang terjadi stagnasi selera. Kolaborasi seperti ini membuka wilayah baru bagi imajinasi untuk bergerak lebih jauh dan menjangkau masyarakat yang lebih luas,” ujar Heri Dono.
Empat bentuk untuk pengalaman yang berbeda
Koleksi ini terdiri atas empat bentuk karya, yaitu bros, pendant, anting, dan karya kinetik. Seluruhnya mengadaptasi karakter visual khas Heri Dono dengan pengerjaan perhiasan yang menitikberatkan ketelitian.
| Bentuk karya | Pendekatan koleksi |
|---|---|
| Bros | Membawa adaptasi visual khas Heri Dono dalam format perhiasan. |
| Pendant | Menggunakan berlian dan batu mulia untuk menerjemahkan narasi karya. |
| Anting | Menjadi medium benda pakai dengan karakter artistik yang kuat. |
| Karya kinetik | Memperluas pengalaman visual koleksi melalui bentuk yang berbeda. |
Pilihan beberapa jenis perhiasan itu menunjukkan upaya untuk tidak membatasi karya pada satu fungsi aksesori. Skala dan cara mengenakannya berbeda, tetapi cerita tentang kebebasan yang terkekang tetap menjadi fondasi koleksi.
Menurut laporan Kompas.com, kolaborasi tersebut diperkenalkan dalam acara The Collectors Gallery: Gems & Arts di Hotel Park Hyatt Jakarta pada 17–18 Juli 2026. Koleksi hasil kerja sama itu dijadwalkan segera diluncurkan pada tahun yang sama.
Menjaga ekspresi artistik sekaligus fungsi pakai
Owner Adelle Jewellery, Michael Surya, melihat perhiasan sebagai karya seni yang dapat menyimpan cerita dan identitas budaya. Ia menyebut kolaborasi ini sebagai langkah awal untuk membawa budaya Indonesia ke panggung internasional melalui bahasa desain yang universal.
Tantangan utamanya adalah mempertahankan karakter visual Heri Dono yang kuat dalam bentuk yang tetap elegan dan fungsional. Desainnya juga diupayakan relevan untuk perempuan maupun laki-laki tanpa menghilangkan ekspresi artistik karya asal.
“Kami ingin menghadirkan sebuah karya seni yang dapat dipakai, diwariskan, sekaligus membawa cerita Indonesia kepada dunia,” kata Michael Surya. Menurutnya, keseimbangan antara ekspresi artistik dan fungsi benda pakai menjadi bagian penting dalam proses penerjemahan visual ke perhiasan.
Kolaborasi sebagai jalur baru ekosistem seni
General Manager G3N Project Andry Ismaya Permadi menilai seni tidak hanya hidup di galeri. Dialog dengan industri kreatif lain dinilai dapat membuat karya seni hadir di hadapan publik yang lebih luas.
“Seni memiliki kemampuan untuk menghubungkan disiplin yang berbeda dan menciptakan nilai kebaruan. Ketika seniman, brand, dan ekosistem kreatif bekerja bersama, yang lahir bukan hanya sebuah produk, tetapi sebuah warisan budaya yang relevan dengan zaman,” ujar Andry.
Kolaborasi Heri Dono, Adelle Jewellery, dan G3N Project menempatkan seni kontemporer dalam konteks yang lebih intim bagi pemiliknya. Di balik kilau berlian dan batu mulia, koleksi ini tetap membawa ingatan tentang bidadari dalam jaring serta harapan akan ruang kebebasan yang lebih luas.







