Demam AI Bikin RAM Kian Mahal, Harga Diprediksi Meroket Lagi Sepanjang 2026

Author: Cung Media

Harga RAM global diperkirakan belum akan tenang sepanjang 2026. Lonjakan permintaan infrastruktur kecerdasan buatan menjadi pendorong utama yang membuat pasokan memori untuk perangkat konsumen semakin ketat.

Tekanan terbesar diprediksi muncul pada paruh kedua tahun itu, saat harga memori disebut bisa melonjak tajam dari kuartal ke kuartal. Dampaknya berpotensi terasa langsung ke laptop, PC rakitan, ponsel, hingga konsol permainan.

AI Menggeser Arah Pasar Memori

Perubahan besar di industri semikonduktor membuat produsen memori lebih banyak mengalihkan pasokan ke pusat data dan server. Infrastruktur AI membutuhkan komponen memori berspesifikasi tinggi dalam jumlah besar, sehingga pasar bergerak mengikuti kebutuhan data center.

Akibat pergeseran itu, pasokan untuk perangkat umum menjadi lebih sempit. Komputer personal, ponsel, dan konsol permainan ikut merasakan tekanan harga yang semakin sulit dikendalikan.

Lonjakan Harga Masih Berpotensi Berlanjut

Ethan Tan, konsultan industri memori dan mantan eksekutif Samsung China, menyampaikan bahwa harga memori dapat melonjak 40 hingga 50 persen pada kuartal ketiga dibandingkan kuartal sebelumnya. Setelah itu, kenaikan lain sebesar 30 hingga 40 persen masih diperkirakan terjadi pada kuartal keempat.

Menurut proyeksi yang ia sampaikan kepada analis Jefferies Equity Research, kenaikan tersebut jauh di atas ekspektasi awal investor Barat maupun riset internal Jefferies. Laporan TechSpot juga menyebut krisis pasokan memori global saat ini justru diperkirakan memburuk, dengan tanda pemulihan yang lebih jelas baru terlihat pada 2028.

Periode Perkiraan Kenaikan Harga Memori Catatan
Kuartal 3 2026 40 hingga 50 persen Naik dibandingkan kuartal sebelumnya
Kuartal 4 2026 30 hingga 40 persen Masih melanjutkan tekanan harga
2027 40 hingga 45 persen secara tahunan Krisis kelangkaan diperkirakan berlanjut
2028 Turun 15 hingga 20 persen Potensi awal pemulihan harga

Produsen Besar Lebih Memilih Server

Samsung, SK Hynix, dan Micron masih menguasai hampir seluruh pasokan chip DRAM dan NAND global. Tiga produsen besar itu disebut lebih memprioritaskan produksi untuk server karena menawarkan margin keuntungan yang lebih tinggi.

Keputusan tersebut memberi dampak langsung ke pasar konsumen. Saat pasokan untuk perangkat umum dikurangi, harga komponen memori ikut terdorong naik dan membuat biaya perakitan perangkat elektronik semakin mahal.

Efeknya Sampai ke Harga Gadget dan PC

Tekanan biaya ini sudah memaksa sejumlah perusahaan teknologi besar menyesuaikan harga produk mereka. Apple, Sony, dan Microsoft termasuk nama yang disebut terdampak oleh lonjakan biaya perangkat keras.

Bagi konsumen, efek paling nyata adalah biaya upgrade yang makin berat. Banyak pembeli diperkirakan menunda pembelian laptop, PC rakitan, ponsel, atau konsol baru sampai harga komponen lebih stabil.

Pasokan Tambahan Belum Cukup Menolong

Ethan Tan menghitung kemajuan teknologi semikonduktor modern hanya akan menaikkan pasokan sekitar 7 hingga 8 persen pada 2026. Kenaikan output itu dinilai belum cukup untuk mengejar lonjakan permintaan global.

Di tengah kondisi tersebut, pemasok memori asal China seperti CXMT juga diperkirakan belum mampu menjadi penyeimbang besar pada 2026 dan 2027. Keterbatasan akses terhadap teknologi fabrikasi tingkat lanjut, termasuk mesin litografi EUV, masih menjadi hambatan utama.

Meski begitu, ada peluang perbaikan di segmen tertentu. Teknologi memori NAND domestik China diyakini bisa mengejar ketertinggalan dengan industri global pada 2028, ketika pasar juga diperkirakan mulai menunjukkan pemulihan yang lebih nyata.

Selama pusat data AI terus menyerap pasokan besar, pasar konsumen kemungkinan tetap berada di posisi yang kurang diuntungkan. Itu berarti RAM mahal belum akan cepat kembali ke level yang lebih bersahabat bagi pengguna umum.

Source: www.suara.com
Terbaru