Harga Laptop Melonjak, Tablet Honor Rp 5 Jutaan Justru Terasa Lebih Masuk Akal

Lonjakan harga laptop di Indonesia mulai mengubah cara konsumen membelanjakan uangnya. Di tengah krisis memori global yang membuat perangkat itu makin mahal, tablet justru terasa lebih masuk akal, terutama bagi pembeli yang punya bujet sekitar Rp 5 jutaan.

Perubahan ini ikut dirasakan Honor. Dalam dua bulan terakhir, perusahaan mencatat kenaikan penjualan tablet yang terjadi seiring naiknya harga laptop di pasar domestik, dan lonjakannya disebut cukup jelas.

Menurut Aryo Meidianto, Head of Public Relations PT Trinova Digital Indonesia selaku distributor Honor di Indonesia, penjualan tablet naik sekitar 30-40% dibandingkan sebelumnya. Kenaikan itu muncul setelah harga laptop mulai terdampak tekanan pasar.

Tablet unggul di bujet Rp 5 jutaan

Bagi banyak konsumen, masalah utama bukan hanya kebutuhan, tetapi juga perbandingan nilai di harga yang sama. Pada kisaran Rp 5 jutaan, tablet dinilai menawarkan perangkat yang ringan dengan spesifikasi yang lebih baru.

Di rentang harga serupa, pilihan laptop disebut semakin terbatas. Konsumen bahkan dinilai mungkin hanya mendapatkan laptop bekas dengan usia pakai yang sudah lama.

Situasi ini membuat tablet naik kelas di mata pembeli. Perangkat tersebut tidak lagi dipandang sebagai pelengkap, melainkan sebagai opsi yang lebih efisien untuk kebutuhan harian.

Honor melihat tren itu langsung memengaruhi komposisi bisnisnya di Indonesia. Saat ini, lini produk Honor disebut lebih didominasi tablet dibandingkan smartphone.

Penjualan tablet Honor juga disebut lebih tinggi daripada penjualan smartphone. Kondisi itu menandakan bahwa kategori tablet kini menjadi pendorong utama penjualan perangkat Honor di pasar lokal.

Harga yang lebih terkendali jadi pembeda

Di saat konsumen makin sensitif terhadap harga, Honor berusaha menjaga agar banderol produknya tidak ikut melonjak. Perusahaan juga menyusun strategi agar tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar tidak langsung membebani harga jual.

Aryo menjelaskan Honor memakai strategi bulk buying untuk menekan kenaikan harga perangkat. Perusahaan lebih dulu menghitung masa end-of-life suatu perangkat, lalu memesan dalam jumlah besar sesuai proyeksi tersebut.

Dengan cara itu, Honor berupaya mengunci biaya pengadaan lebih awal. Strategi ini dipakai agar perubahan harga di kemudian hari tidak langsung diteruskan ke konsumen.

Aryo juga menyebut vendor yang punya stok lebih sedikit cenderung lebih rentan terhadap kenaikan harga. Saat barang habis lalu harus memesan ulang, harga baru bisa saja sudah naik.

Smartphone tetap jalan, tapi lebih hati-hati

Meski tablet sedang menguat, Honor menegaskan tidak akan meninggalkan pasar smartphone di Indonesia. Perusahaan tetap akan merilis ponsel, tetapi dengan perhatian yang lebih ketat pada daya beli masyarakat.

Menurut Aryo, Honor mencoba berada di rentang harga yang paling kuat di pasar saat ini. Kisaran yang dibidik ada di sekitar Rp 3 juta sampai Rp 6-7 juta.

Pilihan itu menunjukkan pembacaan terhadap konsumen yang makin selektif. Produk yang terlalu mahal berisiko sulit menjangkau pasar luas ketika tekanan ekonomi masih terasa.

Tablet sendiri mendapat momentum karena posisinya berada di antara smartphone dan laptop. Untuk pengguna yang tidak membutuhkan fungsi komputasi penuh seperti laptop, tablet menjadi jalan tengah yang lebih murah dan tetap relevan.

Perangkat ini juga diuntungkan oleh persepsi nilai yang lebih baik. Dengan uang yang sama, konsumen merasa bisa memperoleh produk baru dengan desain ringan dan spesifikasi lebih segar ketimbang membeli laptop lama.

Honor baru menggelar hands-on Honor Pad X8b di Jakarta. Langkah itu sekaligus mempertegas fokus perusahaan pada kategori yang sedang tumbuh di tengah perubahan pola belanja perangkat komputasi.

Source: inet.detik.com

Baca Juga

Back to top button