Gigitan Kutu Roda Tak Beracun, Tapi Rasa Mati Rasanya Bisa Bertahan Berhari-Hari

Gigitan kutu roda sering membuat orang kaget bukan karena hewannya terlihat ganas, melainkan karena efeknya yang bisa menetap beberapa hari. Serangga ini memang bukan agresor terhadap manusia, tetapi akan menggigit saat tubuhnya terganggu.

Yang membuatnya menarik perhatian adalah fakta bahwa gigitannya tidak beracun, namun tetap bisa meninggalkan rasa sakit awal selama beberapa menit. Setelah itu, bagian yang tergigit dapat terasa mati rasa selama beberapa hari, dan luka bekasnya baru pulih sepenuhnya dalam beberapa minggu.

Serangga besar dengan bentuk yang mudah dikenali

Kutu roda atau Arilus cristatus dikenal sebagai spesialis kutu pembunuh dari Amerika Utara. Habitatnya tersebar di bunga matahari, kapas, batang pohon akasia, kebun buah, pohon, dan sebagian Amerika Tengah.

Secara fisik, kutu roda termasuk serangga besar dengan panjang hingga 2 inci. Ciri paling khas ada pada jambul berbentuk roda di bagian atas toraksnya, yang tersusun seperti gerigi dengan sekitar 12 tuberkel.

Tubuhnya terdiri dari kepala, toraks, perut, dan enam kaki. Warnanya bervariasi dari abu-abu muda hingga coklat keabu-abuan, dengan mulut seperti paruh di depan kepala yang menyerupai belalai gajah.

Sayap membrannya terlipat rapat di sepanjang punggung saat istirahat. Susunan itu membentuk pola X, sementara paruhnya seperti cakar dengan tiga segmen dan antenanya beruas.

Pemburu ganas sejak masih nimfa

Sifat predator kutu roda sudah tampak sejak fase nimfa. Bahkan, sesama nimfa bisa saling memangsa, sehingga perilaku kanibal sudah muncul sejak awal hidupnya.

Mangsa utamanya meliputi ulat, kutu daun, tawon, dan kumbang jepang. Kutu roda menangkap mangsa dengan kaki depan, lalu menusuknya dengan paruh untuk melumpuhkan dan melarutkan isi tubuh sebelum meminum cairannya.

Saat menghadapi predator yang lebih besar seperti burung, kutu roda punya pertahanan yang tidak biasa. Serangga ini dapat melepaskan bau busuk, dan jika cara itu gagal, ia bisa menggigit dirinya sendiri untuk membelah diri.

Mengapa manusia bisa terkena gigitan

Gigitannya biasanya muncul saat manusia mengganggu tubuhnya. Dalam situasi itu, kutu roda memakai gigitan sebagai reaksi bertahan, bukan sebagai serangan aktif.

Meski tidak beracun, efeknya tetap bisa terasa lama. Rasa sakit awal berlangsung beberapa menit, lalu disusul mati rasa yang dapat bertahan beberapa hari.

Meski begitu, kutu roda pada dasarnya lebih memilih menghindari manusia. Serangga ini tidak dikenal sebagai hewan yang mencari konflik, melainkan lebih sering bertahan ketika merasa terusik.

Peran di kebun dan kebiasaan unik lainnya

Bagi petani dan tukang kebun, kutu roda justru dianggap berguna. Serangga ini membantu membasmi hama yang memakan tanaman karena memangsa berbagai serangga lain, termasuk beberapa jenis yang merugikan kebun.

Kutu roda dewasa kawin pada musim panas dan gugur. Betina kemudian menghasilkan telur berbentuk tong yang diletakkan tegak dalam jumlah banyak, sering kali membentuk pola heksagonal.

Telur-telur itu melewati musim dingin sebelum menetas pada awal musim semi. Setelah itu muncul nimfa pada April atau Mei, lalu berkembang sekitar 3-4 bulan melalui lima tahap instar sebelum menjadi dewasa pada pertengahan musim panas.

Kutu roda juga dapat menghasilkan suara dengan menggosokkan ujung belalainya pada alur di bawah toraksnya. Suara itu dipakai untuk berkomunikasi antar sesama spesies, sekaligus menegaskan bahwa serangga kecil ini punya pertahanan, perilaku berburu, dan mekanisme interaksi yang sangat khas.

Source: www.idntimes.com
Terkait