Di dekat Palazzo Farnese, Ponte Sisto, dan via Giulia di Distrik Regola, ada sebuah gereja tua Roma yang menyimpan kisah jauh lebih besar dari tampilannya. Gereja Tritunggal Mahakudus Bagi Para Peziarah di Roma pernah menjadi pusat penyambutan peziarah, kaum miskin, dan orang sakit, lalu bertahan sebagai salah satu permata tersembunyi kota itu.
Bangunan yang berdiri di atas situs religius abad ke-12 bernama San Benedetto de Arenula ini mulai dibangun sekitar 1587 dan diresmikan pada awal abad ke-17. Sejak awal, fungsinya memang bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga ruang pelayanan bagi mereka yang datang berziarah ke Roma.
Warisan Barok yang masih terasa kuat
Dari luar hingga ke bagian dalam, gereja ini menampilkan gaya Barok yang megah dan ekspresif. Interiornya dipenuhi karya seni bernilai tinggi, termasuk altar utama dengan lukisan Tritunggal Mahakudus karya Guido Reni dari awal abad ke-17.
Pengunjung juga akan menemukan kapel samping dengan lukisan dan patung Barok yang kaya detail. Langit-langitnya dihiasi fresco, sementara stucco berlapis warna emas membuat suasana ruang terasa sangat dramatis.
Sejumlah pahatan marmer di altar dan lorong gereja berasal dari abad ke-17 dan 18. Di antara karya penting lainnya ada lukisan cat minyak “Trinitas dan Malaikat” karya Guido Reni dari 1625 serta fresco para penginjil karya Giovanni Battista Ricci sekitar 1613.
Dari rumah sakit peziarah hingga catatan sejarah Italia
Peran gereja ini dalam sejarah Roma sangat erat dengan pelayanan pada masa Yubileum. Pada Yubileum 1625, gereja menambahkan rumah sakit besar di dekatnya ke dalam pengelolaannya dan menjadikannya pusat keramahan bagi para peziarah di kota itu.
Dalam dua abad beroperasi, bangunan tersebut disebut pernah menampung hingga 400.000 orang. Tradisi itu masih berlanjut dalam bentuk baru, karena gereja ini juga menyambut para peziarah pada Yubileum 2025.
Tempat ini juga bersinggungan dengan sejarah Italia modern. Pada 1849, rumah sakit yang dikelola gereja diubah menjadi rumah sakit militer selama bentrokan dengan tentara Prancis.
Lebih dari 1.500 orang terluka dirawat di sana, termasuk Goffredo Mameli. Patriot Italia, penyair, dan penulis lirik “Il Canto degli Italiani” itu kemudian meninggal di rumah sakit tersebut pada usia 21 tahun akibat luka yang dideritanya.
Delapan kapel dengan karakter masing-masing
Di dalam gereja terdapat delapan kapel yang masing-masing memiliki ciri seni berbeda. Empat yang paling dikenal adalah Kapel Salib Mahakudus dengan ukiran kayu polikrom “Yesus Kristus yang disalibkan” dari abad ke-18, serta Kapel St. Filipus Neri dengan lukisan altar karya Filippo Bigioli pada 1853.
Di sayap kiri gereja ada Kapel Madonna, St. Yusuf, dan St. Benediktus yang didedikasikan untuk menghormati Bunda Maria penolong umat Kristen. Lukisan altar yang menggambarkan St. Yusuf dan St. Benediktus dari Nursia dibuat oleh Giambattista Ricci pada abad ke-17.
Di sayap kanan terdapat Kapel St. Matius yang menyimpan patung marmer “St. Matius dan Malaikat” karya Jacob Cornelisz Cobaert dan Pompeo Ferruci dari abad ke-17. Kehadiran kapel-kapel ini membuat gereja tersebut menarik bagi pencinta seni sekaligus sejarah.
Tradisi Misa Latin yang masih dijalankan
Gereja Tritunggal Mahakudus Bagi Para Peziarah juga dikenal karena ritus Misa latin tradisional atau Tridentine Mass. BBC menjelaskan bahwa ritus ini dipakai di Gereja Katolik Roma sejak 1570 hingga digantikan tata perayaan baru setelah Konsili Vatikan II pada 1960-an.
Dalam ritus tersebut, misa dilakukan dalam bahasa latin atau Romawi kuno. Imam memimpin liturgi menghadap ke timur, sementara umat mengikuti dengan doa pribadi dan tidak berperan aktif seperti dalam tata misa modern.
Penggunaan ritus ini dibatasi dan tidak bisa dilakukan di setiap paroki karena harus mendapat izin khusus dari otoritas Vatikan. Pengelolaan gereja dan liturginya dipercayakan kepada komunitas religius Persaudaraan Imam Santo Petrus atau FSSP.
Di tengah arus wisata Roma yang padat, gereja ini tetap menonjol karena memadukan warisan seni, pelayanan peziarah, dan tradisi liturgi yang jarang ditemui di banyak tempat lain.
