Gencatan Senjata AS-Iran Bawa Harapan Baru ke Lebanon, Tapi Israel Masih Membayangi

Warga Lebanon kembali bergerak ke selatan setelah muncul sinyal gencatan senjata baru antara Amerika Serikat dan Iran, tetapi kepastian di lapangan masih jauh dari utuh. Banyak orang pulang dengan waspada karena sikap Israel belum berubah dan pengalaman sebelumnya membuat janji damai sulit dipercaya.

Situasi ini paling terasa di Lebanon selatan, wilayah yang paling terdampak sejak eskalasi perang pada 2 Maret. Video pada Senin pagi menunjukkan warga mulai kembali ke beberapa area, meski otoritas masih meminta penduduk desa-desa perbatasan menunggu sampai keamanan lebih jelas.

Rumah sudah tak sama, kepulangan pun tak selalu mungkin

Harapan untuk pulang tidak otomatis berarti kehidupan bisa kembali normal. Ali Saleh, 55 tahun, dari desa Jwaya di selatan, masih mengungsi di sebuah stadion di Beirut sejak awal Maret dan mengatakan ia tidak akan pulang karena rumahnya rusak dan kondisi keuangan keluarganya berat.

Kerusakan di selatan Lebanon sangat besar, sementara banyak desa disebut rata dengan tanah. Lebih dari 1,2 juta orang juga mengungsi dari selatan, pinggiran selatan Beirut, dan desa-desa di Lembah Bekaa.

Dalam eskalasi yang sama, Israel disebut telah menewaskan sedikitnya 3.783 orang di Lebanon dan melukai 11.699 lainnya. Di saat bersamaan, militer Israel masih menduduki wilayah luas di selatan Lebanon.

Kesepakatan baru, tetapi kepercayaan masih tipis

Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyebut kesepakatan AS-Iran itu mencakup “penghentian segera dan permanen operasi militer di semua front, termasuk di Lebanon”. Presiden Lebanon Joseph Aoun menyambut pengumuman tersebut dan mengatakan masyarakat menunggu agar pemahaman itu berubah menjadi langkah nyata yang mengakhiri siklus kekerasan dan membuka jalan bagi stabilitas, keamanan, pemulihan, dan rekonstruksi.

Ketua parlemen Lebanon Nabih Berri juga memuji kesepakatan itu. Ia berterima kasih kepada Iran dan Amerika Serikat atas klausul yang menurutnya memuat penghentian agresi Israel terhadap seluruh Lebanon untuk menjaga kedaulatan negara itu.

Meski begitu, banyak warga dan pengamat belum langsung percaya. Analis politik Lebanon Qassem Kassir menilai orang-orang memang sudah mulai kembali ke desa masing-masing, tetapi masih menunggu implementasi penuh gencatan senjata dan penarikan Israel dari wilayah yang mereka duduki.

Jejak gagal dari gencatan senjata sebelumnya masih terasa

Keraguan itu bukan tanpa alasan. Pada November 2024, kesepakatan gencatan senjata meminta penarikan pasukan Israel dari tanah Lebanon dan penghentian permusuhan, sementara Hezbollah diwajibkan menarik kehadiran bersenjata ke utara Sungai Litani.

Namun, laporan yang dikutip dalam perkembangan konflik menyebut Israel tidak pernah benar-benar berhenti menembaki Lebanon. Hezbollah yang didukung Korps Garda Revolusi Islam Iran disebut mulai bersiap untuk putaran pertempuran berikutnya, sementara Israel tetap mempertahankan lima titik di perbatasan Israel-Lebanon.

Pada 16 April, Presiden AS Donald Trump juga mengumumkan gencatan senjata antara Lebanon dan Israel. Pengumuman itu sempat mengakhiri serangan ke pusat Beirut dan mengurangi frekuensi serangan ke pinggiran kota, meski serangan masih terjadi, termasuk pada Minggu.

Kemudian pada 3 Juni, Israel dan Lebanon kembali menyepakati gencatan senjata setelah perundingan langsung. Tetapi kesepakatan itu juga tidak banyak mengubah situasi, karena Israel tetap menyerang Lebanon dan Hezbollah terus menembakkan roket ke pasukan Israel di wilayah Lebanon serta melintasi perbatasan.

Sikap Israel masih keras

Pada Senin siang, Reuters melaporkan Hezbollah belum melakukan operasi apa pun sejak pengumuman kesepakatan AS-Iran. Tetapi media negara Lebanon melaporkan serangan drone Israel terhadap sebuah mobil di Lebanon selatan yang menewaskan pengemudinya.

Para pejabat Israel juga menanggapi pengumuman itu dengan nada menantang. Sejumlah politisi utama berulang kali menegaskan mereka tidak akan menerima ancaman dari Lebanon dan akan terus menyerang Hezbollah jika dianggap perlu.

Menteri Pertahanan Israel Israel Katz mengatakan Benjamin Netanyahu dan dirinya menjalankan kebijakan yang jelas untuk mempertahankan tentara Israel di zona keamanan di Lebanon, Suriah, dan Gaza tanpa batas waktu. Ia juga menegaskan Israel menolak penarikan pasukan dari Lebanon, meski ada tekanan saat ini maupun di masa mendatang.

Sikap seperti itu membuat banyak analis tetap skeptis. Karim Safieddine dari Tahrir Institute mengatakan Netanyahu bisa saja mengejutkan banyak pihak dan mencoba memaksakan syaratnya sendiri dengan dukungan Trump.

Warga tetap ingin pulang, tapi belum benar-benar aman

Di tengah semua ketidakpastian itu, sebagian warga tetap memilih bergerak pulang begitu ada tanda jeda tembak-menembak. Namun, kepulangan kali ini lebih mirip langkah hati-hati daripada tanda bahwa keadaan sudah pulih.

Kassir menilai gencatan senjata kali ini berbeda dan perang yang lebih besar sudah selesai. Meski begitu, Lebanon masih membutuhkan penarikan Israel, kembalinya warga ke desa mereka, dan rencana pertahanan yang memiliki konsensus nasional.

Selama kepercayaan terhadap Washington dan Israel tetap rendah, warga Lebanon selatan masih harus menimbang pilihan yang sama beratnya: pulang ke rumah yang rusak atau tetap menunggu kepastian yang belum benar-benar datang.

Terkait