
Google bersiap mengubah Android dari sekadar sistem operasi menjadi sistem kecerdasan yang lebih aktif. Lewat Gemini Intelligence, AI ini dirancang menyatu langsung ke level sistem dan mengambil alih banyak tugas rutin di ponsel.
Perubahan itu membuat Android tidak lagi hanya menunggu perintah, tetapi mulai menjalankan aksi lintas aplikasi secara otomatis. Bagi pengguna, ini berarti lebih sedikit langkah manual, namun juga kontrol yang lebih besar harus dibayar dengan akses data yang lebih luas.
Gemini naik kelas dari asisten menjadi agen
Google memperkenalkan Gemini Intelligence dalam episode khusus The Android Show pada awal Mei 2026. Dalam wujud baru ini, Gemini ditanam langsung ke Android, yang oleh Google kini disebut sebagai intelligence system.
Arah pengembangannya jelas: Gemini dibuat menjadi agentic AI, yaitu AI yang mampu menyelesaikan tugas multi-langkah secara mandiri. Google mencontohkan skenario seperti memeriksa buku yang dibutuhkan pengguna lalu langsung memasukkannya ke keranjang belanja.
Fungsi serupa juga diarahkan untuk kebutuhan lain, mulai dari memesan tiket konser, mencari detail tur, hingga memesan dan melacak makanan. Pola kerjanya menempatkan Gemini sebagai penghubung antaraplikasi yang bisa bergerak tanpa banyak campur tangan pengguna.
Bekerja di banyak aplikasi dan tab sekaligus
Salah satu perubahan terbesar ada pada kemampuan lintas aplikasi. Gemini dapat melihat foto di galeri, memeriksa email di Gmail terkait silabus, lalu membuka eBay atau Amazon untuk menambahkan buku yang diperlukan ke keranjang belanja.
Kemampuan itu juga meluas ke Google Chrome versi mobile. Artinya, Gemini tidak hanya berpindah antar aplikasi, tetapi juga bisa bekerja di beberapa tab browser secara bersamaan.
Bagi banyak pengguna, cara ini tentu terasa praktis karena mengurangi langkah berulang. Namun, semakin luas aksesnya ke konten pribadi, semakin besar pula kesan invasif dibanding asisten digital biasa.
Autofill dan Rambler jadi sorotan
Google juga menyoroti Autofill yang kini dibuat lebih pintar. Fitur ini diklaim mampu mengisi data yang sangat personal di berbagai formulir, bukan hanya di kolom yang sudah ditentukan seperti sebelumnya.
Fitur lain yang ikut menonjol adalah Rambler, mesin speech-to-text berbasis AI yang lebih baik. Sistem ini disebut mampu memahami konteks dan menghapus kata-kata pengisi atau elemen membingungkan dari pesan.
Jika berjalan sesuai klaim Google, keduanya bisa sangat membantu aktivitas harian. Autofill dapat memangkas waktu saat mengisi data, sedangkan Rambler berpotensi membuat diktat suara lebih rapi dan mudah dibaca.
Privasi dan kendali tetap jadi pertanyaan
Di balik kemudahan itu, ada kekhawatiran besar soal data pribadi. Gemini Intelligence berpotensi mengakses lebih banyak informasi daripada sebelumnya, termasuk data sensitif seperti ID dan detail perbankan.
Google menyebut sebagian besar fitur baru ini bersifat opt-in. Untuk Autofill yang memanfaatkan data dari galeri dan email, akses ke aplikasi terkait juga disebut memerlukan izin eksplisit terlebih dahulu.
Meski begitu, karena implementasinya berada di level sistem, mematikannya tampak tidak semudah menghapus aplikasi biasa. Pada tahap ini, belum ada kepastian penuh soal sejauh mana pengguna bisa benar-benar keluar dari sistem tersebut.
Mulai hadir bersama Android 17
Perubahan ini akan datang bersama sejumlah fitur baru Android 17. Peluncuran awal disebut akan dimulai pada Samsung Galaxy S26 dan Google Pixel 10 pada musim panas 2026.
Perangkat lain juga akan mendapat Android 17, tetapi belum jelas apakah semuanya akan menerima Gemini Intelligence. Fokus utamanya tampaknya tetap ada pada ponsel unggulan yang lebih dulu siap menjalankan fitur berbasis AI tersebut.
Ada pula kemungkinan pengalaman pengguna akan mengikuti pola fitur Galaxy AI di jajaran Samsung, termasuk pada seri S26. Jika itu terjadi, beberapa fungsi mungkin bisa diaktifkan atau dimatikan lewat pengaturan, meski belum ada kepastian apakah pendekatan yang sama berlaku untuk semua perangkat Android.





