Gelombang panas tidak lagi bisa dipandang sebagai gangguan cuaca biasa, terutama bagi lansia yang tinggal sendiri atau hidup dalam kondisi rumah yang tidak siap menghadapi suhu ekstrem. Saat perlindungan sosial dan layanan kesehatan belum cukup kuat, panas berlebih bisa berubah menjadi ancaman yang mematikan.
Pengalaman di Kanada pada akhir Juni hingga awal Juli 2021 memperlihatkan betapa cepatnya risiko itu meningkat. Dalam sekitar delapan hari, 619 orang meninggal, dan sebagian besar korban merupakan lansia yang tinggal sendirian.
Masalah utamanya bukan hanya suhu yang melonjak, tetapi juga sistem yang gagal menjangkau kelompok paling rentan. Sejumlah kajian menilai banyak korban jiwa muncul karena kegagalan sistem kesehatan, hunian yang tidak ramah panas, dan minimnya kesiapsiagaan menghadapi bencana.
Risiko Tidak Sama untuk Semua Lansia
Temuan yang dipublikasikan The Conversation Canada dan La Conversation menunjukkan bahwa usia bukan satu-satunya penentu kerentanan. Risiko meningkat ketika lansia tinggal di rumah dengan ventilasi buruk atau tanpa pendingin udara, memiliki keterbatasan mobilitas, hidup sendiri tanpa dukungan sosial, dan tidak terhubung dengan layanan kesehatan yang bisa memantau kondisi mereka saat gelombang panas berlangsung.
| Faktor Risiko | Dampak pada Lansia |
|---|---|
| Ventilasi buruk atau tanpa pendingin udara | Rumah lebih cepat menjadi berbahaya saat suhu ekstrem |
| Keterbatasan mobilitas | Lebih sulit mencari bantuan atau berpindah ke tempat aman |
| Tinggal sendiri tanpa dukungan sosial | Risiko terlambat mendapat pertolongan meningkat |
| Tidak terhubung dengan layanan kesehatan | Kondisi berisiko sulit dipantau selama gelombang panas |
Artinya, dua orang dengan usia yang sama belum tentu menghadapi bahaya yang sama. Faktor sosial, ekonomi, dan lingkungan tempat tinggal ikut menentukan apakah seseorang bisa bertahan ketika suhu ekstrem datang.
Situasi serupa juga terlihat saat gelombang panas berkepanjangan melanda sejumlah wilayah di Kanada, termasuk Ontario, Quebec, dan Kanada Atlantik, dengan suhu melampaui 40 derajat Celsius. Di Eropa, Italia mengeluarkan peringatan kesehatan akibat panas ekstrem, sementara Prancis dan Inggris mencatat suhu hingga 44 derajat Celsius.
Dampaknya merembet ke banyak sektor. Sekolah ditutup, layanan transportasi terganggu, dan pemerintah di berbagai negara harus meningkatkan perlindungan terhadap kelompok rentan.
Perlu Sistem yang Lebih Siap
Gambaran ini menegaskan bahwa perubahan iklim bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga tata kelola. Semakin baik sistem perlindungan sosial dan layanan kesehatan, semakin kecil risiko kematian akibat gelombang panas.
Melalui National Collaborative on Climate Change and Aging, para peneliti merekomendasikan langkah seperti memperbanyak ruang hijau untuk menurunkan suhu lingkungan, menetapkan standar hunian yang lebih tahan panas, serta membangun sistem kesehatan yang mampu mengidentifikasi lansia paling berisiko sebelum cuaca ekstrem terjadi.
Di tengah gelombang panas yang makin sering terjadi akibat perubahan iklim, perlindungan bagi lansia tidak bisa lagi bergantung pada kesiapan individu semata. Yang dibutuhkan adalah sistem yang mampu mengenali risiko lebih awal dan bertindak sebelum suhu ekstrem berubah menjadi korban jiwa.
Source: www.suara.com






