Gelombang PHK mulai menyentuh pekerjaan bergaji tinggi yang dulu dianggap paling aman. Posisi elite di perusahaan besar kini justru ikut dipangkas ketika efisiensi berubah menjadi restrukturisasi jangka panjang.
Tekanan terbesar datang dari sektor teknologi, jasa keuangan, dan konsultan bisnis. Di tiga sektor ini, perusahaan mengejar biaya operasional yang lebih ramping di tengah ketidakpastian ekonomi dan perubahan teknologi.
Teknologi yang dulu paling diburu, kini paling rapuh
Pada masa tech-boom, software engineers, data scientists, dan product managers termasuk talenta termahal di pasar kerja. Perusahaan berebut merekrut mereka dengan gaji tinggi dan fasilitas opsi saham.
Situasinya berubah ketika era easy money berakhir. Pengetatan kebijakan moneter global dan suku bunga yang tinggi membuat aliran modal ventura mengering, sehingga startup hingga raksasa Big Tech mulai memangkas biaya lebih agresif.
Data Janco Associates yang mengacu pada Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat menunjukkan tingkat pengangguran di sektor teknologi informasi naik menjadi 3,8% pada April 2026 dari 3,6% pada Maret 2026. Pada saat yang sama, sektor teknologi lain seperti telekomunikasi dan pengolahan data mengalami pengurangan 11% atau 342 ribu pekerjaan, dengan puncak kondisi pada November 2022.
Sejumlah perusahaan besar juga mengaitkan pemangkasan dengan adopsi AI. Meta mengurangi sekitar 8.000 pegawai atau 10% untuk merampingkan operasional dan membiayai investasi di bidang AI.
Nike ikut memangkas 2% atau 1.400 karyawan, dengan sebagian besar berasal dari departemen teknologi. Snap juga akan memecat 16% karyawan atau 1.000 peranan dengan alasan meningkatkan efisiensi.
AI ikut mengikis pekerjaan kerah putih
Ancaman besar tidak hanya datang dari kondisi makroekonomi, tetapi juga dari AI generatif yang makin cepat diadopsi. Teknologi ini tidak lagi sekadar menggantikan pekerjaan repetitif, tetapi mulai mengikis pekerjaan para pekerja kerah putih berketerampilan tinggi.
Analis hukum, mid-level coders, analis riset pasar, dan spesialis keuangan kini bisa direplikasi sistem AI dengan biaya lebih murah dan waktu yang lebih efisien. Banyak perusahaan menilai AI dapat memangkas jumlah tim hingga separuh tanpa menurunkan produktivitas.
Victor Janulaitis, Kepala Eksekutif Janco, mengatakan perusahaan menunda atau mengurangi perekrutan tenaga IT karena inflasi dan ketidakpastian ekonomi. Ia menegaskan perusahaan cenderung berhitung ulang sebelum menambah spesialis AI.
Finansial dan konsultan ikut tertekan
Tekanan serupa juga muncul di perbankan investasi dan konsultan manajemen papan atas. Penurunan aktivitas merger dan akuisisi, serta penawaran umum perdana secara global, membuat banyak posisi analis berpendapatan tinggi kehilangan urgensinya.
Kondisi ini menciptakan surplus tenaga kerja ahli di pasar. Jumlah pelamar berkualifikasi tinggi jauh melampaui lowongan yang tersedia, sementara perusahaan yang sedang efisiensi cenderung mencari kandidat yang lebih fleksibel dan murah.
Dampak bagi pekerja bergaji tinggi sering lebih berat
Bagi pekerja bergaji tinggi, kehilangan pekerjaan sering memicu tekanan finansial yang besar. Banyak dari mereka sudah menyesuaikan pengeluaran dengan pendapatan lama, mulai dari cicilan hunian premium, kendaraan mewah, hingga biaya sekolah internasional untuk anak.
Saat penghasilan berhenti, gaya hidup itu sulit diturunkan cepat. Tabungan pun kerap terkuras untuk menutup biaya hidup yang tetap tinggi, sementara pencarian kerja baru memakan waktu lebih lama dari perkiraan.
Perusahaan juga sering enggan merekrut kandidat yang dianggap overqualified karena khawatir pada ekspektasi gaji yang tinggi. Akibatnya, para profesional senior terdorong melakukan reskilling atau menurunkan ekspektasi kompensasi agar bisa kembali masuk ke pasar kerja yang makin kompetitif.
