Fujifilm X Half Raih Penghargaan, Tapi Harga dan Nostalgia Filmmya Masih Diperdebatkan

Fujifilm X Half kembali jadi bahan pembicaraan setelah Camera Grand Prix 2026 memberinya Editor’s Choice R&D Award. Penghargaan itu menegaskan bahwa kamera kompak bernuansa film ini punya konsep yang kuat, tetapi juga tidak otomatis membuat semua fotografer sepakat.

Di satu sisi, X Half dipuji sebagai ide segar di kelas compact digital. Di sisi lain, banyak yang masih menilai kamera ini terlalu banyak berkompromi untuk sebuah perangkat digital modern.

Konsep retro yang menarik perhatian

Camera Grand Prix 2026 memilih X Half dari produk yang dirilis di pasar Jepang antara 1 April 2025 dan 31 Maret 2026. Para editor menilai kamera ini menonjol karena meniru pengalaman kamera film half-frame dalam bentuk digital yang ringkas.

Fujifilm membekali X Half dengan desain kecil dan ringan, dengan bobot 240 gram. Bentuknya dibuat menyerupai kamera film, sehingga mudah menarik minat pengguna yang mencari perangkat harian yang sederhana dan menyenangkan.

Kamera ini juga membawa sejumlah fitur yang jarang ditemui di segmen compact modern. Ada efek filter seperti Expired Film, Mirror, dan Light Leak, serta mode Film Camera yang meniadakan tampilan live view dan playback gambar.

Dalam mode itu, pengguna harus memutar tuas film untuk mengambil bidikan berikutnya. Nuansa ini dirancang untuk meniru ritme kamera film, tetapi justru di titik itu perdebatan tentang X Half mulai menguat.

Mengapa kamera ini memecah pendapat

Sejak diumumkan pada Mei 2025, X Half langsung menarik perhatian penggemar kamera dan fotografer. Daya tarik utamanya datang dari pendekatan nostalgia, termasuk konsep half-frame dan fitur dua-dalam-satu diptych.

Sebagian orang melihatnya sebagai pendekatan yang segar dan menyenangkan. Namun, sebagian lain menganggap kamera ini terlalu bergantung pada gimmick nostalgia dan tidak memberi spesifikasi yang sepadan.

Kritik terhadap X Half bahkan cukup keras sampai masuk daftar “worst cameras of 2025” versi DCW. Adam Waring mengkritiknya dengan menyebut kamera ini membawa semua ketidaknyamanan film ke era digital dan mematok harga tinggi untuk itu.

Ada pula penilaian bahwa X Half lebih menonjol di sisi kreativitas daripada kemampuan teknis. Di tengah naiknya harga kamera kompak, beberapa pengulas juga menilai banderolnya terasa mahal untuk perangkat dengan spesifikasi yang relatif sederhana.

Harga ikut memperbesar perdebatan

Tekanan soal harga membuat posisi X Half di pasar ikut dipertanyakan. Fujifilm sempat menurunkan harga kamera ini dari $849 menjadi $649 di Amerika Serikat, serta dari £649 menjadi £549 di Inggris.

Sebelumnya, kamera ini juga pernah dibundel gratis di peritel AS Adorama saat pembelian Fujifilm X-T5 dengan kit XF 16-80mm f/4.0 R OIS WR. Langkah seperti ini membuat sebagian pihak mempertanyakan seberapa kuat permintaan pasar terhadap X Half.

Meski begitu, minat terhadap kamera ini tidak hilang. X Half tetap dipuji karena daya tarik nostalgianya dan karena berhasil memperkenalkan fotografi bergaya film ke generasi baru.

Mengapa penghargaan ini tetap penting

Penilaian juri Camera Grand Prix 2026 menegaskan alasan X Half tetap relevan di tengah kritik. Mereka menilai kamera ini sebagai konsep baru di kelas compact digital, dengan pendekatan yang menonjolkan kemudahan penggunaan sehari-hari dan karakter visual yang khas.

Bagi pendukungnya, justru di situlah nilai utama X Half. Kamera ini tidak berusaha menjadi alat paling teknis di kelasnya, melainkan menawarkan pengalaman memotret yang lebih ringan, kreatif, dan penuh karakter.

Bagi penentangnya, pendekatan itu masih sulit diterima karena harga dan spesifikasinya tidak selalu terasa seimbang. Selama perdebatan itu berlanjut, X Half tampak akan tetap berada di posisi yang unik: dipuji sebagai desain berani, tetapi juga dipertanyakan sebagai kamera yang cocok untuk semua orang.

Baca Juga

Back to top button