Final Piala Dunia pada Minggu, 19 Juli 2026, di kawasan New York-New Jersey menghadapi ancaman yang tidak biasa: kabut asap dari kebakaran hutan Kanada. Kualitas udara di New York sempat memburuk dari kategori “tidak sehat” menjadi “sangat tidak sehat”, sehingga berpotensi memengaruhi laga puncak.
Masalah di sekitar pertandingan bukan hanya soal kondisi di lapangan. Penonton juga harus menghadapi akses transportasi menuju stadion di East Rutherford, New Jersey, yang terbatas dan masih berbiaya tinggi meski telah mendapat subsidi.
Kualitas Udara Jadi Penentu Jelang Final
Asap dari kebakaran hutan di wilayah liar Kanada bergerak ke selatan dalam beberapa hari terakhir dan menyelimuti sejumlah kota di timur Amerika Serikat. New York menjadi salah satu wilayah yang terdampak paling jelas oleh kondisi tersebut.
Pejabat manajemen darurat New York City sempat memberlakukan kode merah di seluruh kota pada 14-16 Juli. Warga diminta tetap berada di dalam ruangan serta menghindari aktivitas fisik berat di luar ruangan.
Kabut bahkan membuat Patung Liberty di seberang Sungai Hudson sempat tidak terlihat dari Manhattan. Sejumlah penerbangan dari Bandara Newark, New Jersey, juga dibatalkan akibat gangguan jarak pandang dan kondisi udara.
Gangguan serupa sudah terjadi pada pertandingan NWSL antara Gotham dan Washington Spirit di Queens, 15 Juli. Laga itu dimainkan dalam kabut oranye-cokelat dengan dua jeda tambahan pada setiap babak sesuai kebijakan liga.
Apabila FIFA menerapkan penghentian tambahan di luar hydration break, jalannya final dapat berubah bagi pemain, penonton stadion, dan pemirsa televisi. FIFA masih berharap hujan pada Sabtu, 18 Juli, membantu membersihkan sebagian besar asap dari kawasan New York.
Stadion Pernah Dikritik karena Panas Ekstrem
Venue final adalah Stadion MetLife di East Rutherford, yang memakai nama Stadion New York New Jersey selama turnamen. Lokasi ini sebelumnya telah disorot karena risiko panas ekstrem pada musim panas.
Pemain Chelsea, Enzo Fernandez, pernah menyebut kondisi bermain di stadion tersebut “sangat berbahaya” setelah semifinal Piala Dunia Klub tahun lalu. Pernyataan itu menambah perhatian terhadap tantangan cuaca yang harus dihadapi penyelenggara pada partai puncak.
Kompas.com yang mengutip The Guardian melaporkan FIFA memilih New York karena daya tarik global kota tersebut serta zona waktu yang menguntungkan pemirsa televisi Eropa. Tujuh pertandingan sebelumnya di kawasan New York-New Jersey dilaporkan selalu terjual habis.
Tarif Transportasi Masih Membebani Penonton
Akses dari Manhattan menuju stadion menjadi persoalan tersendiri karena pilihan transportasi umum disebut terbatas. Kemacetan di Terowongan Lincoln juga berpotensi memperlambat perjalanan penonton menuju New Jersey.
Pada hari final, parkir di stadion hanya tersedia untuk tamu dan VIP. Pemerintah New York dan New Jersey kemudian melakukan intervensi untuk menurunkan tarif kereta transit New Jersey.
| Moda Perjalanan | Tarif | Keterangan |
|---|---|---|
| Kereta transit New Jersey | US$98 pulang-pergi | Turun dari US$150 setelah subsidi |
| Bus antar-jemput dari Manhattan | US$20 | Alternatif menuju stadion |
Tarif kereta sebesar US$98 masih dianggap mahal, terutama karena durasi perjalanan hanya sekitar 20 menit. Bus antar-jemput dari Manhattan disediakan sebagai opsi yang lebih terjangkau bagi penonton.
Pengamanan untuk Kehadiran Donald Trump
FIFA juga menyiapkan prosedur bila Presiden Amerika Serikat Donald Trump hadir pada final. Marine One dijadwalkan terbang di atas stadion sebelum mendarat di Bandara Teterboro yang letaknya dekat dengan arena pertandingan.
FIFA telah mengonfirmasi Trump akan menyerahkan trofi bersama Presiden FIFA Gianni Infantino. Pengaturan itu ditujukan agar seremoni tidak terganggu, menyusul kehadiran Trump dalam perayaan kemenangan Chelsea di Piala Dunia Antarklub tahun lalu.
Final tersebut diperkirakan disaksikan 1,6 miliar pemirsa televisi di seluruh dunia. Kelancaran acara kini akan sangat bergantung pada perbaikan kualitas udara, pengaturan perjalanan penonton, dan pengamanan di sekitar stadion.
