EV Murah Masih Bertahan, Kelas Menengah Justru Makin Terjepit

Author: Cung Media

Kenaikan harga mobil listrik di Indonesia mulai membuat kelas menengah makin sulit masuk ke pasar EV. Model murah masih punya daya tarik, tetapi segmen menengah justru menghadapi tekanan paling berat dari harga, cicilan, dan keraguan soal nilai jual kembali.

Pengamat otomotif Yannes Martinus Pasaribu menilai pasar kendaraan listrik kini tidak bergerak seragam. Menurut dia, respons konsumen berbeda tajam antara kelas bawah, menengah, dan premium, sehingga daya tarik EV sangat ditentukan oleh rentang harga yang dibidik.

EV murah masih punya ruang di kota besar

Di bawah Rp250 juta, EV masih dinilai masuk akal untuk middle upper class dan konsumen urban. Segmen ini dianggap relevan karena biaya listrik dan servis yang lebih rendah masih memberi keuntungan dibanding mobil berbahan bakar minyak.

Model di rentang harga tersebut juga bisa menjadi alternatif bagi pembeli yang sebelumnya melirik low cost green car atau LCGC. Dalam kondisi mobilitas perkotaan yang padat, efisiensi operasional membuat EV murah tetap kompetitif.

Sejumlah model sudah mengalami penyesuaian harga sepanjang 2026. BYD Atto 1 varian Dynamic naik dari Rp195 juta menjadi Rp199 juta, Wuling Air ev dari Rp206 juta menjadi Rp214 juta, dan Geely EX2 Pro bergeser dari harga promosi Rp229,9 juta menjadi harga reguler Rp239,9 juta.

Rentang Rp300 juta-Rp500 juta paling berat ditembus

Tantangan terbesar justru muncul pada EV di kisaran Rp300 juta hingga Rp500 juta. Segmen ini selama ini menyasar kelas menengah perkotaan, tetapi tekanan daya beli membuat keputusan membeli menjadi jauh lebih ketat.

Yannes menyebut EV di atas Rp300 juta hingga Rp500 juta makin berat bagi middle class karena cicilan tinggi, daya beli melemah, bunga leasing mahal, dan resale value belum terbukti. Kombinasi itu mendorong banyak calon pembeli menunda keputusan atau tetap memilih kendaraan konvensional.

Kekhawatiran terhadap nilai jual kembali ikut menahan minat sebagian konsumen. Pasar mobil listrik bekas di Indonesia masih relatif muda, sehingga rekam jejak harganya belum sekuat mobil bermesin pembakaran internal.

Penyesuaian harga di segmen ini terlihat pada Chery Omoda E5 Pure yang naik dari Rp369,9 juta menjadi Rp379,9 juta. Perubahan seperti ini mempertegas semakin sempitnya ruang kelas menengah untuk masuk ke EV menengah.

Pasar premium tetap ada, tapi terbatas

Di atas Rp600 juta, pasar EV masih bertahan meski jumlahnya terbatas. Segmen premium tetap menarik bagi konsumen yang lebih mengutamakan teknologi, fitur, dan pengalaman berkendara daripada hitung-hitungan biaya.

Yannes mengatakan pasar itu ditopang oleh early adopter dan konsumen upper class yang mapan. Kelompok ini dinilai lebih tahan terhadap kenaikan harga dan perubahan skema pembiayaan karena daya belinya lebih kuat.

Dengan kondisi tersebut, pasar kendaraan listrik di Indonesia tampak terbelah ke dua kutub. EV murah masih punya peluang tumbuh di perkotaan, sementara EV menengah justru menghadapi tekanan paling besar dari harga, cicilan, dan ketidakpastian nilai jual kembali.

Terbaru