Ethereum sedang berada di fase ketika mainnet makin mampu menanggung lebih banyak transaksi, dan itu memunculkan pertanyaan baru tentang seberapa besar kebutuhan terhadap layer 2. Meski begitu, Arbitrum menilai perubahan ini bukan ancaman langsung, melainkan tanda bahwa ekosistem Ethereum sedang bergerak ke arah yang lebih matang dan lebih beragam.
Pandangan itu datang dari Ed Felten, chief scientist sekaligus co-founder Offchain Labs, perusahaan di balik Arbitrum. Dalam wawancara di EthCC di Cannes bersama DL News, Felten menegaskan bahwa peningkatan kemampuan mainnet tidak otomatis menghapus peran layer 2, karena ada kebutuhan berbeda yang tetap sulit digantikan oleh jaringan utama Ethereum.
Ethereum dan pergeseran fungsi layer 2
Ethereum selama ini dikenal kuat dalam keamanan dan desentralisasi, tetapi biaya operasionalnya tinggi. Felten menilai kondisi itu membuat mainnet punya keterbatasan performa, terutama ketika beban transaksi meningkat dan pengguna menuntut biaya yang lebih efisien.
Di sisi lain, layer 2 menawarkan block time yang lebih rendah, throughput yang lebih besar, dan respons yang lebih cepat. Jaringan seperti ini dapat memproses aktivitas tanpa menanggung penuh beban keamanan utama Ethereum, sehingga tetap menarik bagi aplikasi yang butuh transaksi murah dan cepat.
Narasi bahwa layer 2 akan menjadi jalur utama skalabilitas Ethereum memang lama menguat. Namun, arah itu mulai berubah setelah muncul perkembangan teknis yang membuat mainnet ikut lebih efisien dan lebih layak untuk menangani volume transaksi yang lebih besar.
Ethereum mainnet mulai mengejar
Vitalik Buterin sempat mengatakan pada Februari bahwa “L1 itself is scaling” dan menilai peran awal layer 2 di Ethereum “no longer makes sense” dalam bentuk lamanya. Pernyataan itu memperkuat pandangan bahwa Ethereum tidak hanya mengandalkan jaringan tambahan, tetapi juga ingin memperbesar kapasitas mainnet.
Buterin juga menyoroti bahwa banyak layer 2 belum sepenuhnya sejalan dengan visi cypherpunk Ethereum. Menurut dia, sebagian jaringan tidak mampu atau tidak mau melakukan desentralisasi secara memadai karena ada tuntutan regulasi yang membuat operator tetap ingin memegang kendali akhir.
Bagi Offchain Labs, isu itu tidak sesederhana hitung-hitungan teknis. Arbitrum memang disebut lebih maju dibanding banyak layer 2 lain, tetapi jaringan ini masih memiliki security council beranggotakan 12 orang terpilih untuk menangani ancaman keamanan darurat dan pembaruan penting.
Teknologi baru ikut mengubah peta persaingan
Felten melihat ada dua perkembangan yang membantu Ethereum mainnet makin kompetitif. Pertama, zero-knowledge virtual machines atau ZKVMs yang dapat memangkas biaya validasi blok transaksi secara signifikan.
Kedua, kenaikan gas limit yang memungkinkan lebih banyak gas digunakan per blok. Dengan begitu, validator bisa memasukkan lebih banyak transaksi dan mengurangi kemacetan jaringan yang selama ini menjadi salah satu hambatan utama Ethereum.
Teknologi yang sama, menurut Felten, juga bisa dipakai Arbitrum dan layer 2 lain untuk menjaga daya saing. Bahkan, layer 2 disebut memiliki ruang bergerak lebih cepat karena tingkat sentralisasinya yang relatif lebih tinggi dapat memudahkan adopsi teknologi baru.
Mengapa Arbitrum masih yakin punya masa depan
Di tengah tekanan pada banyak jaringan layer 2, Arbitrum tetap melihat peluang besar dari sisi bisnis dan institusi. Felten mengatakan banyak perusahaan besar mulai membangun layer 2 sendiri atau memakai layer 2 yang sudah ada karena biaya, skala, kualitas blockspace, dan keamanan dianggap lebih sesuai untuk kebutuhan mereka.
Dalam pandangan itu, layer 2 masih relevan bagi pasar enterprise karena menawarkan empat keunggulan utama:
- Biaya transaksi lebih rendah dibanding mainnet Ethereum.
- Eksekusi lebih cepat untuk aplikasi dengan volume besar.
- Skalabilitas lebih fleksibel untuk kebutuhan bisnis.
- Tetap memperoleh keamanan dari Ethereum sebagai lapisan dasar.
Secara adopsi, Arbitrum juga masih punya pijakan yang nyata. Setelah empat tahun, jaringan ini mengumpulkan sekitar $3 miliar dalam deposit ke protokol DeFi di jaringannya, meski kemudian dilampaui oleh blockchain Plasma yang baru diluncurkan.
Ethereum sendiri masih jauh lebih besar dalam keuangan onchain dengan $76 miliar deposit DeFi. Data itu menunjukkan posisi mainnet tetap dominan, tetapi sekaligus menegaskan bahwa layer 2 masih memiliki ruang untuk menawarkan utilitas yang berbeda dan tetap dibutuhkan di ekosistem yang sama.







