Empat Kelas Baru Berdiri di Atas Karang, SMAN 8 Kupang Masih Kurang 3 Ruang

Author: Cung Media

Empat ruang kelas baru kini memberi perubahan besar bagi SMAN 8 Kupang, Nusa Tenggara Timur, yang selama ini bergulat dengan keterbatasan tempat belajar. Bangunan itu berdiri di atas lahan berkarang dan tidak rata, tetapi kebutuhan sekolah belum sepenuhnya terjawab.

Setelah pembangunan selesai, sekolah masih kekurangan tiga ruang kelas, ruang Unit Kesehatan Sekolah atau UKS, pagar pengaman, serta perataan batu karang di bagian depan. Kebutuhan tersebut penting karena sekolah berada di kawasan perbatasan Kota Kupang dan Kabupaten Kupang yang dekat dengan pantai.

Ruang Belajar Bertambah, Laboratorium Kembali Berfungsi

Sebelum tambahan bangunan tersedia, keterbatasan ruang membuat aula dan sejumlah laboratorium digunakan sebagai kelas darurat. Aula disekat menjadi tiga ruang, sementara laboratorium Biologi, Kimia, dan Komputer dipakai untuk kegiatan belajar harian.

Kepala SMAN 8 Kupang, Samuel Djami Riwu, menyebut sekolah tersebut sebelumnya kekurangan tujuh ruang kelas. Kehadiran empat ruang baru menurunkan kekurangan itu menjadi tiga ruang.

Aspek Sebelum Revitalisasi Setelah Revitalisasi
Kekurangan ruang kelas 7 ruang 3 ruang
Ruang belajar darurat Aula dan tiga laboratorium dipakai sebagai kelas Laboratorium kembali digunakan untuk praktik
Jumlah siswa per kelas Lebih dari 40 siswa Sekitar 30-an siswa

Perubahan jumlah ruang belajar ikut mengurangi kepadatan dalam satu rombongan belajar. Jika sebelumnya satu kelas dapat diisi lebih dari 40 siswa, kini jumlahnya berada di kisaran 30-an siswa.

Dengan kondisi itu, laboratorium dapat kembali digunakan untuk praktik mata pelajaran sesuai fungsinya. Samuel menjelaskan pemanfaatan laboratorium sebagai kelas sebelumnya merupakan langkah sementara agar kegiatan belajar tetap berlangsung.

“Kita siasati karena animo anak-anak sekolah di sini cukup besar,” ujar Samuel. SMAN 8 Kupang memiliki sekitar 850 siswa, dengan minat pendaftaran yang disebut meningkat setelah fasilitas sekolah membaik.

Membangun di Tengah Lahan Berbatu

Revitalisasi sekolah pada 2025 tersebut bernilai Rp1,2 miliar dan menghasilkan empat ruang kelas baru serta dua toilet. Pekerjaan pembangunan melibatkan tenaga kerja dari warga sekitar, bukan kontraktor.

Pengawas Pembina SMAN 8 Kupang, Noh Kana Hau, mengatakan pembangunan di lokasi itu membutuhkan perjuangan dan tanggung jawab besar. Para pekerja harus menghadapi batu karang berukuran besar maupun kecil yang tersebar di berbagai titik lahan.

Kontur tanah yang naik-turun juga membuat pekerjaan konstruksi tidak semudah membangun di atas lahan datar. Kondisi geografis sekolah menjadi salah satu alasan perataan area karang tersisa masih diperlukan untuk pengembangan fasilitas berikutnya.

UKS dan Pagar Menjadi Usulan Mendesak

Selain ruang kelas, sekolah menilai keberadaan ruang UKS sebagai kebutuhan yang mendesak. Selama ini, siswa yang pingsan atau sakit ditangani sementara di ruang kesiswaan sebelum dibawa ke puskesmas.

“UKS ini sebenarnya cukup mendesak karena anak-anak sering ada yang pingsan atau semaput,” kata Samuel. Ketiadaan ruangan khusus membuat penanganan awal bagi siswa belum dapat dilakukan dalam fasilitas yang semestinya.

Pagar pengaman juga menjadi kebutuhan lanjutan di lingkungan sekolah yang masih memiliki area terbuka. Fasilitas tersebut diharapkan dapat mendukung keamanan siswa, terutama di lahan dengan kontur yang belum sepenuhnya rata.

Noh berharap pemerintah pusat dapat kembali mengintervensi pembenahan fasilitas di sekolah tersebut. Empat kelas baru telah mengurangi tekanan kebutuhan ruang kelas, tetapi tiga ruang tambahan dan sarana pendukung masih dibutuhkan agar kegiatan belajar berjalan lebih layak.

Terbaru