Harga emas dunia kembali menguat pada perdagangan Kamis setelah dolar Amerika Serikat melemah dan kekhawatiran pasar terhadap konflik di Timur Tengah meningkat. Kondisi itu mendorong minat investor pada aset lindung nilai, sehingga harga emas spot naik 1,9 persen menjadi US$ 4.629,83 per ons.
Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Juni juga ikut naik 1,8 persen ke US$ 4.642,90 per ons. Meski begitu, harga emas masih tercatat melemah sekitar 0,9 persen secara bulanan dan belum sepenuhnya lepas dari tekanan sebelumnya.
Dolar yang melemah membuat emas kembali menarik
Pelemahan dolar AS terhadap yen Jepang menjadi salah satu pemicu utama kenaikan harga emas. Saat dolar turun, emas yang dipatok dalam mata uang tersebut menjadi lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.
Kondisi ini membantu memperbaiki sentimen pasar setelah logam mulia itu sempat tertekan pada sesi perdagangan sebelumnya. Pergerakan tersebut menegaskan bahwa arah dolar masih menjadi faktor penting dalam menentukan minat terhadap emas.
Ketegangan Timur Tengah dorong permintaan aset aman
Selain faktor mata uang, pasar juga mencermati risiko geopolitik yang belum mereda di Timur Tengah. Kekhawatiran akan eskalasi konflik AS-Iran membuat investor kembali mencari aset aman, dan emas menjadi salah satu pilihan utama.
Analis independen Ross Norman mengatakan pasar mulai melihat potensi pemulihan harga emas di tengah ketidakpastian yang meningkat. Ia menilai ada tanda-tanda emas mulai menemukan titik dasar sementara seiring memburuknya sentimen geopolitik.
Laporan sebelumnya menyebut Presiden AS Donald Trump dijadwalkan menerima pengarahan terkait rencana serangan militer terhadap Iran. Informasi itu meningkatkan kehati-hatian pasar karena dapat membuka ruang bagi ketegangan yang lebih luas.
Tekanan bulanan masih terasa
Walau bergerak naik pada perdagangan Kamis, emas belum sepenuhnya keluar dari fase pelemahan. Logam mulia itu sempat turun sekitar 12 persen sejak konflik dimulai, mencerminkan perubahan ekspektasi pasar terhadap inflasi dan suku bunga.
Kenaikan harga energi ikut memunculkan kekhawatiran inflasi yang lebih tinggi, sehingga pasar menilai suku bunga bisa bertahan lebih lama di level tinggi. Dalam kondisi seperti itu, emas cenderung kurang diuntungkan karena tidak menghasilkan imbal hasil.
Analis komoditas WisdomTree, Nitesh Shah, menilai pergerakan emas saat ini mulai sesuai dengan pola umum saat risiko geopolitik meningkat. Ia menyebut emas cenderung menguat ketika pasar melihat kemungkinan eskalasi konflik yang lebih besar.
Logam mulia lain ikut menguat
Penguatan tidak hanya terjadi pada emas, tetapi juga pada logam mulia lain. Harga perak naik 2,9 persen menjadi US$ 73,57 per ons, platinum naik 4,1 persen ke US$ 1.955,70, dan paladium naik 2,2 persen menjadi US$ 1.490,36 per ons.
Namun, ketiga logam tersebut masih berada dalam tren penurunan bulanan untuk kedua kalinya secara berturut-turut. Pergerakan ini menunjukkan pasar logam mulia masih sangat sensitif terhadap arah dolar, prospek suku bunga, dan perkembangan konflik geopolitik yang terus dipantau investor.
Source: www.beritasatu.com






