Elon Musk kembali memanaskan konflik panjang dengan OpenAI setelah mengaku tersingkir dari perusahaan yang ikut ia dirikan. Pengakuan itu muncul di tengah sidang yang bukan hanya menguji gugatan hukum, tetapi juga masa depan pengembang ChatGPT dan arah kendali atas salah satu perusahaan AI paling berpengaruh di dunia.
Sengketa ini memperlihatkan pertarungan yang lebih besar dari sekadar bisnis. Di baliknya ada soal misi awal, struktur kepemilikan, dan siapa yang berhak menentukan masa depan OpenAI.
Dalam kesaksiannya di pengadilan Oakland, California, Musk menegaskan bahwa OpenAI semula dirancang sebagai lembaga amal untuk kepentingan umat manusia. Ia mengaku terlibat sejak tahap paling awal, mulai dari mencetuskan ide, memberi nama, merekrut tim inti, hingga membantu pendanaan awal.
Musk juga mengatakan dirinya sengaja tidak memilih jalur perusahaan berorientasi profit saat memulai OpenAI. Ia menyebut kekhawatirannya muncul karena lembaga amal seharusnya tidak diperlakukan seperti aset yang bisa diambil alih.
“Jika kita membiarkan perampokan terhadap lembaga amal, maka seluruh fondasi donasi amal di Amerika akan hancur. Itulah kekhawatiran saya,” kata Musk pada hari pertama persidangan.
Gugatan yang dia ajukan menuduh OpenAI dan para petingginya mengkhianati misi awal perusahaan. Musk menilai perubahan struktur menjadi entitas profit telah menjauhkan organisasi itu dari tujuan semula yang ia bayangkan.
OpenAI membantah keras tudingan tersebut. Pengacara OpenAI, William Savitt, menyebut Musk justru sejak awal mendorong perusahaan itu menjadi profit dan ingin memegang kendali penuh.
Savitt menilai inti konflik ini bukan semata soal misi, melainkan soal kendali atas arah perusahaan. Menurut dia, persoalan ini muncul karena Musk tidak mendapatkan keinginannya.
OpenAI juga menyatakan bahwa Musk menggugat setelah gagal mengambil alih arah organisasi itu. Setelah itu, pada 2023, Musk mendirikan perusahaan AI miliknya sendiri, xAI.
Persidangan ini membawa tuntutan besar dari Musk. Ia meminta ganti rugi hingga US$150 miliar dari OpenAI dan investor utamanya, Microsoft.
Musk juga menuntut OpenAI kembali menjadi organisasi nirlaba. Selain itu, ia meminta CEO Sam Altman dan Presiden Greg Brockman disingkirkan dari jabatan mereka.
Sidang ikut memunculkan teguran dari hakim terhadap Musk. Hakim Distrik AS Yvonne Gonzalez Rogers meminta Musk lebih mengendalikan aktivitas media sosialnya selama proses persidangan setelah unggahannya dinilai menyerang Altman.
Baik Musk maupun Altman sama-sama menyatakan akan mengurangi aktivitas media sosial mereka. Sikap itu menunjukkan bahwa perseteruan ini tidak hanya berlangsung di ruang sidang, tetapi juga di ruang publik yang selama ini sering mereka gunakan untuk saling menyerang.
Hubungan keduanya berawal jauh sebelum konflik ini meledak. Musk dan Altman mendirikan OpenAI pada 2015 dengan tujuan mengembangkan AI untuk kepentingan umat manusia dan menghadapi pesaing seperti Google.
Perusahaan itu kemudian tumbuh jauh melampaui bentuk awalnya sebagai laboratorium riset nirlaba di apartemen Brockman. Kini OpenAI disebut bernilai lebih dari US$850 miliar dan menghabiskan miliaran dolar untuk sumber daya komputasi.
Tekanan bisnis juga makin besar karena OpenAI menghadapi persaingan dari rival seperti Anthropic. Di sisi lain, IPO potensial disebut dapat menilai perusahaan hingga US$1 triliun.
Sementara itu, xAI milik Musk disebut masih tertinggal jauh dalam penggunaan dibanding OpenAI. Bisnis tersebut kini digabungkan ke SpaceX, yang juga mempertimbangkan IPO tahun ini.
Konflik Musk dan OpenAI kini menjadi cermin tarik-menarik antara idealisme awal dan realitas industri AI yang bernilai sangat besar. Sidang ini menunjukkan bahwa perdebatan soal siapa yang mengendalikan OpenAI masih jauh dari selesai.
Source: www.cnbcindonesia.com






