Mantan direktur ZeniMax Online Studios, Matt Firor, menyesalkan pembatalan Project Blackbird, MMO baru yang sempat digarap oleh tim di balik The Elder Scrolls Online. Meski begitu, ia menegaskan keputusan Xbox itu bisa dipahami dari sisi bisnis, walau tetap menjadi pukulan berat bagi para pengembang yang sudah lama membangun proyek tersebut.
Firor juga menilai pembatalan ini bukan keputusan yang diambil karena alasan personal. Dalam wawancara dengan MinnMax, ia menggambarkan bahwa dunia pengembangan gim memang sering berubah arah saat pertimbangan finansial mulai mendominasi, terutama untuk proyek yang menuntut investasi besar sejak awal.
Project Blackbird dibangun dalam skala besar
Project Blackbird bukan proyek yang muncul mendadak menjelang pembatalan. Berdasarkan informasi yang beredar, pengembangannya sudah dimulai sejak 2018 dan ZeniMax bahkan menyiapkan mesin baru khusus untuk mendukung game ini.
Skala tim terus membesar seiring waktu. Pada 2022, lebih dari 200 pengembang disebut terlibat, lalu jumlah itu meningkat menjadi 300 pada Maret 2025, hanya beberapa bulan sebelum Xbox menghentikan proyek tersebut.
Mengapa Xbox menghapus MMO ini
Firor menilai Microsoft memandang Blackbird sebagai bagian dari perhitungan bisnis yang harus menghasilkan kepastian. Ia mengatakan industri gim sering bergerak di bawah tekanan angka dan proyeksi, sementara perusahaan publik cenderung mencari model usaha yang hasilnya lebih mudah ditebak dari tahun ke tahun.
Ia juga menegaskan bahwa situasi seperti ini tidak hanya terjadi di Xbox. Firor menyebut perusahaan besar lain seperti EA dan Activision sebagai contoh bahwa keputusan serupa sudah lama menjadi bagian dari industri gim yang sangat bergantung pada evaluasi investasi.
Pembatalan Blackbird terjadi bersamaan dengan langkah Xbox terhadap Everwild dan Perfect Dark, serta penutupan The Initiative. Deretan keputusan itu menunjukkan bahwa efisiensi dan peninjauan ulang proyek besar menjadi prioritas ketika perusahaan ingin menekan risiko dan menjaga arah bisnis tetap terkendali.
Dampak emosional bagi ZeniMax Online Studios
Bagi Firor, dampaknya jauh lebih besar dari sekadar keputusan korporasi. Ia menyebut pembatalan Blackbird sebagai “pretty devastating blow” karena konsep dasar game itu banyak berangkat dari gagasannya sendiri, termasuk dunia dan arah awal desainnya.
Ia menjelaskan bahwa ide tersebut sudah lama ia pikirkan sebelum menjadi proyek penuh di tangan tim. Walau banyak detail kemudian dikembangkan bersama para desainer dan pengembang lain, Firor merasa Blackbird tetap membawa jejak kuat dari visi awal yang ia bentuk.
Proyek ambisius dengan biaya awal tinggi
Firor juga menyoroti biaya awal yang besar sebagai salah satu alasan Blackbird menjadi rentan. Mesin khusus yang dibangun untuk game itu dirancang agar ZeniMax bisa menjaga ritme pembaruan konten MMO secara stabil, tetapi investasi di awal justru membuat proyek ini lebih berat saat efisiensi biaya mulai dicari.
Menurut Firor, kondisi tersebut makin terasa di tengah suasana perusahaan yang semakin ketat menimbang pengeluaran. Setelah akuisisi Activision Blizzard senilai $69 miliar, proyek ambisius dengan kebutuhan dana besar cenderung lebih mudah masuk daftar evaluasi ulang.
Meski akhirnya dibatalkan, Firor tetap menilai Blackbird punya identitas yang berbeda dari banyak game di pasaran. Ia menyebut proyek itu menyenangkan untuk dimainkan dan masih menyimpan potensi besar, tetapi pengembangannya belum selesai dan membutuhkan lebih banyak pekerjaan sebelum siap dirilis.







