Perusahaan kini dinilai tidak cukup hanya menambah anggaran untuk mengejar AI. Tantangan utamanya justru ada pada cara membagi belanja TI agar ruang inovasi tidak terus tersedot untuk menopang sistem lama.
CEO Rimini Street Seth Ravin menilai banyak organisasi masih menghabiskan sekitar 90% dana TI untuk operasional, sementara kurang dari 10% tersisa untuk inovasi. Dalam situasi seperti itu, percepatan adopsi AI lebih bergantung pada efisiensi anggaran yang sudah ada daripada kenaikan biaya baru.
Biaya Operasional Masih Menjadi Beban Terbesar
Di tengah tekanan ekonomi global, perusahaan kembali meninjau ulang pola belanja teknologi mereka. Seth mengatakan fokus seharusnya bergeser ke cara mencari pendanaan inovasi yang lebih efisien, bukan hanya memperbesar total anggaran.
Ia menilai kebutuhan investasi AI justru makin besar, tetapi banyak perusahaan tidak ingin menaikkan belanja teknologi secara keseluruhan. Karena itu, penghematan dari operasional lama menjadi jalan paling realistis untuk menjaga transformasi tetap berjalan.
ERP Lama Masih Bisa Dioptimalkan
Seth juga menegaskan perusahaan tidak harus mengganti seluruh sistem Enterprise Resource Planning atau ERP untuk mendukung transformasi digital. Sistem yang telah dipakai bertahun-tahun masih bisa memberi nilai jika dikelola dengan optimal.
Alih-alih melakukan penggantian menyeluruh, perusahaan dapat memperpanjang umur investasi ERP sambil menambahkan otomatisasi, analitik data, dan AI di atas platform yang sudah ada. Pendekatan ini dinilai lebih hemat dan sekaligus mengurangi risiko gangguan operasional.
| Fokus Langkah | Manfaat yang Diharapkan | Dampak Utama |
|---|---|---|
| Optimalisasi ERP | Menjaga investasi yang sudah ada tetap bernilai | Biaya transformasi lebih rendah |
| Tambah otomatisasi, analitik data, dan AI | Memperluas kemampuan tanpa ganti sistem inti | Risiko gangguan operasional lebih kecil |
| Transformasi bertahap | Efisiensi bisa dipakai kembali untuk inovasi berikutnya | AI dapat dibiayai dari penghematan internal |
AI Butuh Fondasi yang Sudah Efisien
Menurut Seth, AI akan memberi manfaat maksimal jika diterapkan pada proses bisnis yang sudah terdigitalisasi dan berjalan efisien. Dalam model itu, ERP tetap menjadi pusat data dan proses bisnis, sedangkan AI berperan sebagai lapisan inovasi untuk mempercepat analitik, otomatisasi, dan pengambilan keputusan.
Ia menyarankan perusahaan memulai transformasi secara bertahap, dimulai dari optimalisasi proses bisnis, lalu otomatisasi, kemudian integrasi AI pada area yang memberi dampak bisnis paling besar. Efisiensi dari tiap tahap dapat dipakai kembali untuk membiayai langkah berikutnya.
Tren Bergeser di Asia Tenggara dan Indonesia
Rimini Street melihat tren di Asia Tenggara mulai bergeser dari proyek transformasi berskala besar menuju optimalisasi aset teknologi yang sudah dimiliki. Penghematan dari langkah tersebut kemudian dialokasikan ke investasi AI, keamanan siber, dan inovasi digital lain.
Gejala serupa juga mulai terlihat di Indonesia. Di tengah dorongan transformasi digital, perusahaan disebut makin berhati-hati agar setiap investasi TI benar-benar menghasilkan nilai bisnis yang terukur melalui efisiensi operasional dan penggunaan anggaran yang lebih produktif.
Perubahan cara belanja TI ini menunjukkan bahwa percepatan adopsi AI tidak selalu bergantung pada dana baru. Bagi banyak perusahaan, kuncinya justru ada pada kemampuan memangkas beban operasional dan mengalihkan ruang anggaran yang tersisa ke inovasi yang paling berdampak.
Source: teknologi.bisnis.com






