PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) masuk ke peringkat 124 dalam daftar Fortune Southeast Asia 500. Pencapaian ini menempatkan DSSA di kelompok perusahaan regional yang dinilai punya daya saing kuat di Asia Tenggara.
Yang membuat posisi itu menarik bukan hanya peringkatnya, tetapi cara DSSA membangun bisnis di tengah perubahan besar kawasan. Perusahaan ini menggabungkan energi, infrastruktur digital, dan teknologi dalam satu ekosistem yang makin relevan dengan kebutuhan ekonomi masa depan.
Dua pilar yang bergerak bersamaan
DSSA dinilai menonjol karena mengintegrasikan sektor energi dengan infrastruktur digital. Kombinasi tersebut membuat perusahaan tampil berbeda di antara ratusan korporasi regional yang masuk pemeringkatan.
Direktur PT Dian Swastatika Sentosa Tbk David Audy menilai kehadiran DSSA di daftar itu menunjukkan kapasitas perusahaan Indonesia untuk bukan hanya bersaing, tetapi juga membangun posisi strategis di tingkat regional. Ia menyebut pertumbuhan ekonomi ke depan akan sangat ditentukan oleh adopsi AI yang bergantung pada energi andal dan infrastruktur digital yang kuat.
Mesin energi diarahkan ke emisi rendah
Di lini energi, DSSA terus mempercepat transformasi menuju operasional rendah emisi. Salah satu langkah yang dijalankan adalah elektrifikasi armada operasional PT Borneo Indobara sebagai bagian dari inisiatif green mining.
Perusahaan juga memperluas portofolio energi baru terbarukan secara agresif. DSSA mengoperasikan pabrik panel surya terintegrasi berkapasitas 1 GW di Kawasan Ekonomi Khusus Kendal.
Pengembangan panas bumi ikut didorong sebagai sumber pertumbuhan berikutnya. Total potensi proyek itu mencapai 440 MW yang tersebar di enam wilayah strategis untuk mendukung target netral karbon pada 2050.
Jaringan digitalnya sudah sangat luas
Pada pilar digital, DSSA membangun jaringan serat optik sekitar 57.000 km. Infrastruktur ini menjadi salah satu fondasi konektivitas terbesar di Indonesia saat ini.
Jaringan tersebut telah menjangkau lebih dari 9 juta homepass. Layanan internet broadband dari jaringan itu mengalir ke lebih dari 1 juta pelanggan melalui MyRepublic Indonesia serta Moratelindo.
Ekspansi ekonomi data juga diperkuat lewat anak usaha PT SMPlus Digital Investama. Perusahaan ini tengah mengembangkan 24 Edge Data Center untuk memperdalam penetrasi pasar digital domestik.
Masuk fase AI-ready
DSSA juga membangun Flagship Hub Jakarta SMX01 di kawasan CBD Jakarta. Fasilitas Tier-IV AI-ready berkapasitas 18 MW itu ditargetkan mulai beroperasi pada semester kedua tahun 2026.
Untuk memperkuat ekosistem kecerdasan buatan, DSSA menjalin kemitraan strategis dengan iFLYTEK. Kerja sama ini diarahkan untuk menghadirkan solusi berbasis Machine Learning dan ekosistem AI di berbagai sektor industri.
Paduan energi, konektivitas digital, pusat data, dan teknologi AI membuat DSSA berada pada posisi yang dianggap relevan dengan kebutuhan ekonomi masa depan. Perusahaan juga dipandang siap menangkap peluang dari lonjakan pertumbuhan ekonomi digital nasional.
Indonesia masih kuat di daftar regional
Daftar Fortune Southeast Asia 500 memperlihatkan persaingan bisnis regional yang semakin ketat. Sektor manufaktur, perdagangan, perbankan, dan teknologi tetap menjadi motor utama penggerak ekonomi di kawasan.
Indonesia kembali tampil sebagai kekuatan besar dengan 93 perusahaan yang masuk dalam daftar bergengsi tersebut. Dalam konteks itu, posisi DSSA menambah sorotan terhadap emiten Tanah Air yang mulai agresif membangun bisnis berbasis energi dan digital secara bersamaan.







