Dolar AS Naik, Harga Bawang Putih Tembus Rp 100.000 per Kg di Sejumlah Daerah

Harga bawang putih kembali menekan pasar pangan karena kenaikannya kini menyebar luas di banyak daerah. BPS mencatat lonjakan harga terjadi di 269 kabupaten/kota atau 74,72% wilayah Indonesia hingga pekan kedua Juli 2026.

Di sejumlah wilayah, harga bahkan sudah menembus Rp 100.000 per kilogram. Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menilai kondisi ini perlu mendapat perhatian serius karena sebaran kenaikannya lebih luas dibanding komoditas pangan lain.

Kenaikan Paling Luas di Antara Komoditas Pangan

Dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah pada Senin (13/7/2026), Amalia menyebut bawang putih sebagai komoditas yang kenaikannya paling banyak menyebar. Rata-rata harga nasional saat ini berada di Rp 42.611 per kg, jauh di atas harga acuan penjualan atau HAP konsumen.

DaerahHarga Bawang PutihKeterangan
Papua PegununganRp 100.000/kgHarga tertinggi
Aceh SelatanRp 50.000/kg31,6% di atas HAP
Gorontalo UtaraRp 50.000/kg31,58% di atas HAP
Kabupaten Deiyai, Papua TengahRp 79.000/kg107,89% di atas HAP

Papua Pegunungan mencatat harga tertinggi, sementara Aceh Selatan dan Gorontalo Utara sama-sama berada di Rp 50.000 per kg. Kabupaten Deiyai menjadi salah satu wilayah dengan tekanan harga paling tajam karena harganya sudah 107,89% di atas HAP.

Amalia juga menyebut Aceh Selatan mencatat perubahan IPH sebesar 36,38%, sedangkan Gorontalo Utara berada di 20,98%. Angka ini memperlihatkan bahwa tekanan harga bawang putih tidak hanya tinggi, tetapi juga semakin merata di banyak wilayah.

Impor Naik, Tapi Biaya Distribusi Ikut Menekan

Kenaikan harga bawang putih ini bukan terjadi karena pasokan impor menurun. Sepanjang Januari-Juni 2026, Indonesia justru mengimpor 229,76 ribu ton bawang putih, naik 28,44% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

BPS menyebut pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan meningkatnya biaya logistik internasional ikut membuat harga bawang putih impor menjadi lebih mahal, terutama pada Juni 2026. Faktor itu kemudian menekan harga di pasar domestik, terutama di wilayah timur Indonesia.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Bina Pasar Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Nawandaru mengatakan lonjakan biaya logistik terjadi setelah penutupan di Selat Hormuz. Ia menyebut kapal-kapal berbendera China kini diperebutkan banyak negara, sehingga ongkos distribusi dari negara produsen ke Indonesia ikut naik.

Keadaan itu membuat pemerintah mendorong importir agar kapal pembawa bawang putih bisa langsung bersandar di pelabuhan-pelabuhan utama di kawasan timur Indonesia. Langkah ini diharapkan dapat menekan ongkos distribusi dan membantu meredam harga di daerah yang paling terdampak.

Fokus Pemerintah Ada di Kawasan Timur

Kementerian Perdagangan kini berkoordinasi dengan Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri untuk memperlancar skema distribusi tersebut. Targetnya adalah memotong biaya logistik agar barang tidak terlalu mahal ketika sampai ke konsumen di daerah dengan tekanan harga tinggi.

Nawandaru menegaskan harapannya agar pelaku usaha dapat mengarahkan dropping langsung ke pelabuhan utama di kawasan timur. Dengan jalur distribusi yang lebih efisien, harga bawang putih di wilayah tersebut diharapkan tidak terus melonjak.

Source: finance.detik.com
Terkait