DJI resmi membawa dua drone seri Lito ke pasar Indonesia lewat Lito X1 dan Lito 1. Daya tarik utamanya ada pada sistem anti-tabrakan omnidirectional, sementara Lito X1 mendapat tambahan sensor LiDAR untuk memperkuat deteksi dan navigasi.
Kehadiran keduanya menyasar pengguna yang ingin merekam video udara dengan cara yang lebih aman dan praktis. Sistem deteksi rintangan di berbagai arah membantu drone menghindari obyek seperti dinding atau tebing secara otomatis saat terbang.
Peluncuran Lito X1 dan Lito 1 dilakukan pada Senin (4/5/2026). Keduanya sudah tersedia melalui mitra penjualan resmi DJI di Indonesia.
Keamanan penerbangan jadi nilai jual utama
Seri Lito dibekali Omnidirectional Obstacle Sensing untuk mendeteksi hambatan dari berbagai arah. Teknologi ini membantu drone bernavigasi lebih aman ketika terbang di ruang yang sempit atau penuh rintangan.
Pada Lito X1, DJI menambahkan sensor LiDAR di bagian depan. Sensor ini diklaim meningkatkan akurasi deteksi dan navigasi, terutama saat drone dipakai di area yang lebih menantang.
Kombinasi tersebut membuat proses perekaman terasa lebih tenang, termasuk bagi pengguna yang belum terbiasa menerbangkan drone. DJI juga menyematkan ActiveTrack yang memungkinkan drone mengikuti subjek bergerak dengan kecepatan hingga 12 m/s.
Selain itu, tersedia mode otomatis seperti QuickShots, MasterShots, Hyperlapse, dan Panorama. Fitur-fitur ini memudahkan pembuatan video dengan gerakan kamera yang kompleks tanpa menuntut keterampilan teknis tinggi.
Ringan, stabil, dan lebih lama terbang
Untuk penggunaan luar ruang, DJI menyebut seri Lito memiliki ketahanan angin hingga 10,7 m/s. Dukungan ini membantu menjaga rekaman tetap stabil saat kondisi berangin.
Dari sisi daya tahan, kedua drone diklaim mampu terbang hingga 36 menit dalam satu kali pengisian baterai standar. Bobot Lito 1 dan Lito X1 juga dibuat ringan, sekitar 249 gram, sehingga keduanya tetap ringkas untuk dibawa bepergian.
Perbedaan kamera di dua model
Lito X1 hadir sebagai model yang lebih tinggi di keluarga ini. Drone tersebut memakai sensor 1/1.3 inci CMOS dengan resolusi efektif 48 MP dan aperture f/1.7.
Untuk video, Lito X1 mendukung perekaman HDR dengan dynamic range hingga 14 stop. DJI juga membekalinya dengan profil warna 10-bit D-Log M untuk pengolahan warna yang lebih fleksibel.
Lito 1 memakai sensor 1/2 inci CMOS 48 MP dengan aperture f/1.8. Drone ini mendukung perekaman video hingga resolusi 4K dan pengambilan foto resolusi tinggi.
DJI menyebut Lito 1 juga dapat menghasilkan gambar hingga 8K untuk kebutuhan tertentu seperti cropping. Meski spesifikasinya berbeda, kedua model diklaim tetap mampu menghasilkan gambar tajam di kondisi terang maupun minim cahaya.
Transfer cepat dan pemantauan langsung
Seri Lito dilengkapi QuickTransfer untuk memindahkan file dengan kecepatan hingga 50 MB/s melalui Wi-Fi 6. Fitur ini mempersingkat proses pengambilan hasil rekaman setelah sesi terbang selesai.
Untuk transmisi video, DJI memakai teknologi O4 Video Transmission. Sistem ini mendukung tayangan langsung 1080p 60 FPS dengan jarak terbang maksimal 15 km.
Kombinasi live view beresolusi tinggi dan transfer file cepat membuat alur kerja pengguna lebih ringkas. Rekaman bisa dipantau secara real time lalu dipindahkan segera setelah drone mendarat.
Harga resmi di Indonesia
DJI memasarkan Lito 1 dalam tiga paket. Varian standar dijual Rp 4.901.000, Two-Battery Combo (RC-N3) Rp 5.637.000, dan Fly More Combo (RC-N3) Rp 6.863.000.
Lito X1 hadir dengan empat pilihan paket. Harga Lito X1 dibuka Rp 6.100.000, lalu Fly More Combo (RC-N3) Rp 6.836.000, Fly More Combo (RC 2) Rp 9.778.000, dan Fly More Combo Plus (RC 2) Rp 11.004.000.
Dengan pilihan tersebut, DJI membagi fokus penggunaan di antara kebutuhan dasar perekaman udara dan fitur yang lebih maju. Lito 1 menonjol sebagai opsi ringkas untuk kebutuhan inti, sedangkan Lito X1 menawarkan sensor LiDAR, kemampuan video yang lebih tinggi, dan navigasi yang lebih presisi.
Source: tekno.kompas.com





