Pada pasien diabetes tipe 2, fokus pengobatan tidak bisa berhenti di gula darah. PT Daewoong Pharmaceutical Indonesia menyoroti bahwa kolesterol jahat atau low-density lipoprotein cholesterol (LDL-C) justru ikut menentukan besar kecilnya risiko penyakit jantung dan pembuluh darah.
Pesan itu mengemuka dalam Pertemuan Ilmiah Tahunan Perhimpunan Endokrinologi Indonesia (Perkeni) 2026 di Bandung, saat sekitar 500 tenaga medis berkumpul membahas pengelolaan diabetes dan risiko kardiovaskular yang menyertainya.
LDL-C Masih Sulit Tertarget pada Pasien Risiko Tinggi
Masalahnya, banyak pasien belum mencapai target LDL-C yang dianjurkan. World Heart Federation mencatat penyakit kardiovaskular menyebabkan 765.660 kematian di Indonesia pada 2021, menunjukkan beban kesehatan yang sangat besar.
Studi registry multisenter yang dipublikasikan dalam Indonesian Journal of Cardiology pada 2025 juga menunjukkan capaian LDL-C masih rendah pada pasien dengan risiko kardiovaskular tinggi dan sangat tinggi. Hanya 4,9% pasien yang mencapai target di bawah 55 mg/dL, sedangkan 21,2% mencapai target di bawah 70 mg/dL.
| Temuan | Angka | Konteks |
|---|---|---|
| Kematian akibat penyakit kardiovaskular di Indonesia | 765.660 | Data World Heart Federation, 2021 |
| Pasien yang mencapai LDL-C di bawah 55 mg/dL | 4,9% | Studi registry multisenter, 2025 |
| Pasien yang mencapai LDL-C di bawah 70 mg/dL | 21,2% | Studi registry multisenter, 2025 |
| Pasien diabetes tipe 2 dengan dislipidemia | 74% | Studi di Current Internal Medicine Research and Practice Surabaya Journal, 2025 |
Risiko Tak Selalu Terlihat Dari Angka LDL-C Saja
Daewoong juga menekankan bahwa dua pasien dengan kadar LDL-C yang sama belum tentu memiliki risiko yang sama. Resistensi insulin dapat mengubah karakteristik partikel LDL dan meningkatkan jumlah small dense LDL, yaitu partikel yang lebih kecil, lebih padat, dan lebih mudah menembus dinding pembuluh darah.
Karena itu, pengelolaan lipid pada pasien diabetes tipe 2 perlu lebih presisi dan tidak hanya bergantung pada satu parameter. Penilaian risiko yang lebih luas dibutuhkan agar dokter bisa melihat ancaman kardiovaskular residual dengan lebih tepat.
Terapi Kombinasi dan Penilaian yang Lebih Luas
Dalam simposium itu, terapi kombinasi ezetimibe/rosuvastatin diperkenalkan sebagai salah satu pilihan utama untuk pasien yang belum mencapai target dengan monoterapi. Kombinasi ini bekerja dengan menargetkan sintesis kolesterol di hati sekaligus absorpsi kolesterol di usus.
Pendekatan itu sejalan dengan arah panduan internasional terbaru yang mendorong penilaian risiko lebih presisi. ACC/AHA 2026 merekomendasikan pengukuran kolesterol non-HDL dan apolipoprotein B (ApoB) sebagai penanda tambahan pada pasien diabetes tipe 2 atau cardiovascular-kidney-metabolic syndrome.
Seruan Untuk Menurunkan LDL-C Lebih Awal
Senior endocrinologist dari Universitas Indonesia, Sidartawan Soegondo, menyebut pasien diabetes tipe 2 di Indonesia kerap memiliki banyak faktor risiko kardiovaskular. Ia menilai penurunan LDL-C menjadi salah satu prioritas terapi yang penting dalam praktik klinis.
Sidartawan juga menekankan pentingnya strategi terapi yang dioptimalkan sesuai profil risiko masing-masing pasien. Mengacu pada ESC/EAS 2025 Focused Update dan ACC/AHA Guideline 2026, ia menyebut penurunan LDL-C yang intensif, terapi berbasis bukti lebih dini, dan pencapaian target secepat mungkin menjadi langkah yang didukung panduan.
“Semakin rendah kadar LDL-C dicapai sejak dini dan dipertahankan lebih lama, semakin besar pula potensi penurunan risiko kardiovaskular sepanjang hidup pasien,” ujarnya.
Di tengah tingginya beban penyakit jantung di Indonesia, pesan yang mengemuka jelas: diabetes tipe 2 perlu ditangani bukan hanya sebagai urusan gula darah, tetapi juga sebagai persoalan risiko pembuluh darah yang membutuhkan pengendalian LDL-C lebih serius.
