Diabetes hingga kini belum dapat disembuhkan total, menurut penjelasan Ketua Umum Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (Perkeni), Prof Em Yunir. Namun, penyakit ini bisa dikendalikan dengan sangat baik jika pasien menjalani perubahan gaya hidup dan pengobatan secara disiplin.
Banyak pasien berharap gula darah normal berarti diabetes sudah hilang, padahal dokter menegaskan ada batas yang jelas antara kondisi terkontrol dan sembuh. Jika kadar gula darah stabil karena pola makan, olahraga, dan terapi yang tepat, kondisi itu lebih tepat disebut remisi atau terkontrol, bukan sembuh permanen.
Diabetes dan masalah resistensi insulin
Prof Yunir menjelaskan diabetes erat kaitannya dengan proses inflamasi di tubuh, terutama yang dipicu penumpukan lemak berlebih di area perut. Kondisi ini memicu resistensi insulin, sehingga insulin tidak bekerja optimal dan gula dari makanan lebih sulit diproses tubuh.
Saat resistensi insulin terjadi, tubuh mudah mengalami lonjakan gula darah karena energi yang masuk tidak terkelola dengan baik. Ia mencontohkan situasi ketika kebutuhan tubuh hanya 1.500 kalori, tetapi asupan mencapai 2.000 kalori, maka kelebihan energi itu ikut mendorong kenaikan gula darah.
Mengapa tidak disebut sembuh total
Menurut Prof Yunir, penanganan diabetes saat ini masih berfokus pada perbaikan inflamasi melalui penurunan berat badan dan pengurangan lemak tubuh. Cara itu dapat menurunkan resistensi insulin dan memperbaiki kontrol gula darah.
Berikut perbedaan yang perlu dipahami pasien:
- Terkontrol: gula darah membaik karena pola hidup sehat, obat, atau keduanya.
- Remisi: gula darah normal dalam periode tertentu, sering dengan pengawasan medis ketat.
- Sembuh total: kondisi yang belum bisa dipastikan pada diabetes, karena risiko kambuh tetap ada.
- Kembali naik: gula darah bisa memburuk lagi jika kebiasaan lama kembali dijalankan.
Dalam beberapa program penelitian, termasuk yang disebut dilakukan di Thailand, pasien menjalani pola makan terstruktur dan olahraga ketat selama sekitar tiga bulan. Hasilnya, gula darah bisa kembali normal dan obat dapat dihentikan dengan pengawasan dokter, tetapi itu belum membuktikan diabetes hilang permanen.
Kunci utama ada pada gaya hidup
Prof Yunir menekankan bahwa konsistensi menjadi faktor paling penting dalam pengelolaan diabetes. Pasien yang mampu membatasi kalori, aktif bergerak, dan menjaga berat badan ideal berpeluang mempertahankan gula darah tetap stabil dalam jangka panjang.
Meski begitu, hasil baik tersebut sangat bergantung pada kepatuhan. Jika pola makan kembali berlebihan dan aktivitas fisik menurun, risiko gula darah naik lagi tetap besar.
Skrining dini masih rendah
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, menyoroti rendahnya kebiasaan cek kesehatan di masyarakat. Ia menyebut baru sekitar 10 persen orang yang rutin melakukan pemeriksaan kesehatan.
Nadia mendorong pemanfaatan program Cek Kesehatan Gratis untuk skrining awal, termasuk diabetes. Deteksi dini penting agar intervensi bisa dilakukan sebelum komplikasi muncul.
Beban kesehatan terus meningkat
Nadia juga mengingatkan bahwa diabetes ikut menambah beban pembiayaan kesehatan. Berdasarkan data BPJS yang ia sampaikan, kasus diabetes mellitus naik 40 persen, sementara biaya untuk gagal ginjal melonjak hingga 476 persen.
Angka itu menunjukkan diabetes bukan hanya persoalan medis, tetapi juga masalah kesehatan masyarakat. Risiko komplikasi seperti gagal ginjal, penyakit jantung, dan gangguan pembuluh darah bisa ditekan bila masyarakat lebih cepat memeriksakan diri dan mengikuti terapi yang dianjurkan dokter.
Diabetes sering berkembang tanpa gejala khas pada tahap awal, sehingga orang dengan obesitas, kurang aktivitas, riwayat keluarga diabetes, dan pola makan tinggi kalori perlu lebih waspada. Dengan pemantauan rutin, edukasi yang tepat, serta kepatuhan pada pengobatan dan perubahan gaya hidup, diabetes dapat tetap dikendalikan dan pasien masih bisa hidup produktif dalam jangka panjang.
Source: lifestyle.bisnis.com






