Di Tengah Perang Damaskus, Wassim al-Haffar Tetap Bangun Museum Mobil Klasik

Di tengah perang yang membuat banyak rencana hidup tertunda, Wassim al-Haffar justru terus mewujudkan mimpinya membangun museum mobil klasik di Damaskus. Langkah itu membuat kisahnya menonjol, karena proyek tersebut lahir dari ketekunan di saat situasi normal saja sudah sulit.

Al-Haffar adalah desainer interior asal Damaskus. Latar belakang itu membentuk caranya memandang mobil klasik, bukan sekadar sebagai kendaraan lama, melainkan sebagai benda dengan nilai estetika dan warisan visual yang layak dirawat.

Museum Sebagai Ruang Untuk Seni Otomotif

Bagi al-Haffar, mobil klasik memiliki tempat yang dekat dengan karya seni. Ia melihat detail, bentuk, dan karakter tiap unit sebagai bagian penting yang membuat koleksi itu pantas dipamerkan, bukan hanya disimpan.

Pendekatan tersebut sejalan dengan anggapan bahwa mobil tua tertentu punya nilai yang melampaui fungsi transportasi. Museum yang ia bangun menjadi cara untuk menegaskan bahwa otomotif klasik juga bisa diperlakukan sebagai warisan budaya visual.

Mimpi Yang Tetap Dikejar Saat Kondisi Sulit

Proyek museum ini menjadi simbol ketekunan di tengah keterbatasan yang menyertai kehidupan di Damaskus. Di saat banyak orang terpaksa menunda rencana mereka, al-Haffar memilih tetap bergerak dan menjaga minatnya pada mobil klasik tetap hidup.

Kisah ini juga memberi gambaran tentang daya tahan komunitas pecinta mobil klasik. Koleksi, perawatan, dan upaya memamerkan kendaraan tua membutuhkan kesabaran, ruang, dan komitmen yang tidak kecil, apalagi ketika keadaan di luar tidak bersahabat.

Karena itu, museum mobil yang dibangunnya bukan hanya soal bangunan atau deretan kendaraan. Proyek tersebut menunjukkan bahwa minat pada seni otomotif tetap bisa bertahan, bahkan ketika perang membuat banyak hal di sekelilingnya serba terbatas.

Source: www.cnnindonesia.com

Terkait