Di tengah upaya diplomasi yang kembali digelar, serangan udara Israel di Jalur Gaza menewaskan sedikitnya sembilan warga Palestina dan melukai 20 orang. Insiden ini terjadi saat pembicaraan baru soal gencatan senjata berlangsung di tengah kebuntuan atas masa depan kesepakatan yang dimediasi Amerika Serikat.
Serangan itu memicu kekhawatiran baru karena terjadi ketika Mesir kembali menjadi tuan rumah perundingan yang melibatkan pimpinan Hamas dan sejumlah faksi Palestina lain. Di lapangan, konflik masih jauh dari reda, sementara kondisi kemanusiaan di Gaza tetap sangat berat.
Dua serangan, dua lokasi berbeda
Otoritas kesehatan setempat menyebut serangan pertama menghantam pos polisi yang dikelola Hamas di dekat kawasan tenda pengungsian di Khan Younis, Gaza selatan. Dalam insiden itu, lima orang tewas dan 16 orang terluka.
Beberapa jam kemudian, pesawat Israel menyerang sebuah kendaraan di pusat Kota Gaza. Serangan kedua itu menewaskan empat orang dan melukai empat lainnya, sementara militer Israel belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait kedua insiden tersebut.
Petugas medis belum memastikan apakah korban tewas di Khan Younis termasuk anggota kepolisian. Namun, dalam beberapa bulan terakhir, militer Israel memang meningkatkan serangan terhadap markas dan personel kepolisian di Gaza.
Pejabat keamanan Hamas mengatakan puluhan anggota kepolisian telah tewas akibat rentetan serangan semacam itu. Situasi ini menambah tekanan terhadap struktur keamanan sipil dan kelompok bersenjata yang masih bertahan di wilayah kantong tersebut.
Perundingan masih terjebak isu utama
Pembicaraan yang kembali berjalan di Mesir disebut akan berlangsung selama beberapa hari. Sumber yang dekat dengan proses negosiasi mengatakan agenda itu menyoroti isu-isu yang belum disepakati, termasuk penarikan pasukan Israel, pelucutan senjata Hamas, dan rekonstruksi Gaza.
Hingga kini, belum ada kesepakatan baru untuk melanjutkan rencana yang didukung Amerika Serikat itu. Salah satu titik perselisihan utama adalah masa depan struktur keamanan di Gaza.
Hamas menginginkan sekitar 10.000 personel kepolisian yang dimilikinya masuk dalam struktur kepolisian baru Gaza. Israel menolak keterlibatan personel yang memiliki afiliasi dengan kelompok tersebut, sehingga pembahasan itu tetap buntu.
Juru bicara Hamas, Hazem Qassem, menyatakan kelompoknya terbuka terhadap berbagai gagasan yang dapat menghentikan serangan Israel dan mendorong tahap kedua rencana perdamaian yang diusulkan Amerika Serikat. Ia juga menilai Dewan Perdamaian harus bersikap netral dan tidak memihak Israel.
Gaza masih menghadapi kehancuran luas
Pertempuran besar di Gaza mereda sejak gencatan senjata diberlakukan pada Oktober tahun lalu setelah perang yang berlangsung selama dua tahun. Meski begitu, Israel masih menguasai lebih dari separuh wilayah Gaza dan kondisi di lapangan tetap sangat sulit.
Sebagian besar bangunan di Gaza hancur, sementara hampir seluruh dari sekitar dua juta penduduk bertahan di wilayah pesisir yang sempit. Banyak warga tinggal di tenda darurat atau bangunan rusak, dengan akses hidup yang serba terbatas.
Israel dan Hamas saling menuduh melanggar kesepakatan gencatan senjata. Sejak kesepakatan itu berlaku, serangan Israel dilaporkan menewaskan lebih dari 950 warga Palestina, sedangkan serangan kelompok bersenjata Palestina menewaskan empat tentara Israel.
Kesepakatan yang dicapai tahun lalu juga membentuk Dewan Perdamaian yang dipimpin Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengawasi pelaksanaan gencatan senjata secara bertahap. Kesepakatan itu telah disahkan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa, tetapi pembahasan sejumlah isu utama masih ditunda ke tahap berikutnya.
Menurut otoritas kesehatan Gaza, hampir 73.000 orang telah tewas sejak perang dimulai, dengan mayoritas korban merupakan warga sipil. Perang itu pecah setelah kelompok bersenjata yang dipimpin Hamas melancarkan serangan lintas perbatasan ke wilayah Israel pada 7 Oktober 2023, yang menewaskan sekitar 1.200 orang serta menyandera 251 warga Israel dan warga negara asing.
Source: www.beritasatu.com