Demam Piala Dunia 2026 Bisa Mengubah Anak dari Penonton Menjadi Aktif Bergerak

Author: Cung Media

Demam Piala Dunia 2026 tak harus berhenti di depan layar. Antusiasme anak menyaksikan pertandingan dapat menjadi pintu masuk untuk mengenalkan aktivitas fisik lewat permainan sepak bola bersama keluarga.

Perubahan kecil dari menonton menjadi bermain bisa membuat olahraga terasa lebih dekat bagi anak. Mereka tidak perlu langsung masuk tim besar untuk mulai bergerak dan menikmati permainan dengan bola.

Dari Antusias Menonton ke Keinginan Bermain

Pertandingan sepak bola dapat memancing rasa ingin tahu anak terhadap permainan yang mereka lihat. Ketertarikan itu bisa dimanfaatkan orang tua untuk mengajak anak mencoba menendang, menggiring, atau bermain bola secara sederhana.

Dokter Jantung Anak BraveHeart Brawijaya Hospital, dr Anisa Rahmadhany, SpA, Subsp.Kardio, menilai masa anak adalah periode penting untuk tumbuh kembang. Karena itu, kebiasaan bergerak perlu dikenalkan sejak dini melalui kegiatan yang sesuai dengan kesukaan anak.

Menurut dr Anisa, sepak bola dapat menjadi pilihan permainan yang menyenangkan bagi anak yang tertarik setelah melihat pertandingan. Pendekatan ini membantu aktivitas fisik tidak terasa sebagai beban, melainkan bagian dari waktu bermain.

“Jadi usia anak itu kan usia untuk tumbuh kembang. Kita bisa mengajak untuk bermain sepak bola,” kata dr Anisa kepada health.detik.com. Ajakan tersebut dapat dimulai dari kegiatan sederhana di lingkungan keluarga.

Tak Perlu Menunggu Tim Besar

Bermain sepak bola tidak harus dilakukan dalam kelompok pemain yang besar. Anak dapat memulainya bersama orang tua atau anggota keluarga lain setelah menonton pertandingan.

Permainan bersama keluarga memberi kesempatan agar anak tidak hanya menjadi penonton ketika antusiasme Piala Dunia berlangsung. Fokus utamanya bukan kompetisi, melainkan membangun kebiasaan untuk bergerak aktif.

Dr Anisa menyebut anak dapat berangkat dari kebiasaan menonton pertandingan bersama keluarga. Setelah melihat permainan di lapangan, anak bisa memahami bahwa sepak bola juga seru untuk dicoba sendiri.

“Mungkin awalnya hanya menonton pertandingan, kemudian terlihat ternyata bermain sepak bola itu seru,” ujar dr Anisa. Ketertarikan itu dapat menjadi dorongan awal untuk mengenalkan rutinitas olahraga di rumah.

Gerak Rutin Mendukung Kemampuan Motorik

Olahraga Anak seperti sepak bola memberi ruang bagi anak untuk banyak bergerak saat bermain. Aktivitas fisik rutin disebut dapat mendukung perkembangan kemampuan motorik pada masa tumbuh kembang.

Kemampuan motorik berkaitan dengan gerakan anak dalam aktivitas sehari-hari maupun ketika bermain. Kebiasaan aktif bergerak karena itu menjadi bagian penting dalam proses perkembangan anak.

“Jika kita melakukan olahraga rutin, maka gerakan juga baik untuk kemampuan motorik anak,” kata dr Anisa. Ia menekankan bahwa anak yang aktif bergerak dapat memperoleh berbagai manfaat bagi perkembangan dan kesehatannya.

Aktivitas yang lebih banyak juga disebut dapat berkaitan dengan kondisi sistem imun yang lebih baik. Hal ini menjadi salah satu alasan anak perlu didorong agar tidak pasif saat menikmati tayangan olahraga.

Peran Keluarga dalam Membentuk Kebiasaan

Orang tua dapat menjadikan waktu setelah pertandingan sebagai momen bermain bola bersama anak. Cara ini membuat perhatian pada sepak bola berlanjut menjadi aktivitas fisik yang mudah dilakukan di rumah bersama keluarga.

Kebiasaan tersebut juga dapat mendukung perhatian keluarga terhadap Kesehatan Jantung Anak. Dengan pendekatan yang menyenangkan, momentum Piala Dunia 2026 dapat menjadi awal bagi anak untuk lebih aktif bergerak.

Terbaru