Delegasi Muda ASEAN Melihat AI China di Guangxi, Jalur Kerja Sama Baru Terbuka

Kunjungan delegasi muda dari sejumlah kota kembar ASEAN ke Guangxi memperlihatkan satu hal yang paling menonjol: kecerdasan buatan di wilayah itu sudah masuk ke aktivitas nyata, bukan sekadar wacana. Dari robot barista hingga perangkat kesehatan berbasis AI, lawatan ini juga memunculkan pembicaraan baru soal kerja sama pendidikan, industri, dan konektivitas regional.

Rombongan yang datang atas undangan otoritas urusan luar negeri Guangxi itu mengunjungi Nanning dan Qinzhou pada 23 hingga 25 Juni. Lebih dari 20 perwakilan muda dari tujuh kota kembar di Kamboja, Indonesia, Malaysia, Myanmar, dan Filipina ikut dalam agenda tersebut.

AI yang turun ke layanan sehari-hari

Di Pusat Inovasi AI Berwujud Guangxi-ASEAN, para delegasi melihat robot menjalankan berbagai tugas di sektor perbankan, retail, dan budaya. Demonstrasi robot barista menjadi salah satu yang paling menarik perhatian peserta.

Rombongan juga singgah di Pusat Kerja Sama Inovasi Kecerdasan Buatan China-ASEAN. Di sana, mereka diperlihatkan produk berbasis AI yang beragam, mulai dari perangkat diagnostik pengobatan tradisional China, kacamata penerjemah, hingga robot ikan biomimetik.

La Ode Muhammad Faisal Wikra Kusuma Wardana, delegasi dari Indonesia, menyebut kemajuan inovasi teknologi dan AI di China sangat berkesan. Pejabat bidang kebudayaan Provinsi Jawa Barat itu menilai kunjungan tersebut memberinya pemahaman yang lebih dalam tentang pentingnya belajar dari perkembangan di China.

Ketertarikan serupa datang dari delegasi Myanmar, Htet Htet Yi Nway Oo, yang menyoroti penerapan AI di bidang kesehatan. Ia terkesan setelah melihat peserta lain mencoba perangkat penilaian kesehatan berbasis AI yang menganalisis fitur wajah dan gambar lidah untuk menilai kondisi kesehatan.

Dari demonstrasi teknologi ke peluang industri

Kunjungan ini tidak berhenti pada pajangan teknologi. Para delegasi juga diajak melihat bagaimana kerja sama ekonomi China dan ASEAN sudah berjalan di level industri dan rantai pasok.

Salah satu lokasi yang mereka datangi adalah Guangxi Jingui Pulp & Paper Co., Ltd., anak perusahaan Asia Pulp & Paper di bawah Sinar Mas Group Indonesia. Lini produksi perusahaan itu disebut beroperasi dengan kapasitas penuh.

Produk karton premium dari perusahaan tersebut diekspor ke pasar ASEAN dan digunakan untuk pengemasan farmasi, kosmetik, barang konsumsi, serta produk elektronik. Bagi para peserta, ini menjadi contoh bahwa hubungan China dan ASEAN sudah menyentuh basis produksi, ekspor, dan logistik yang saling terhubung.

Wardana menilai kedekatan geografis Guangxi dengan ASEAN memberi keuntungan tersendiri bagi kerja sama kawasan. Ia juga menyoroti pelabuhan dan jaringan transportasi di wilayah itu, termasuk pembangunan Kanal Pinglu yang diperkirakan akan meningkatkan konektivitas logistik.

Guangxi, pendidikan kejuruan, dan konektivitas kawasan

Selain pusat AI dan kawasan industri, para delegasi turut mengunjungi pelabuhan cerdas serta proyek infrastruktur utama. Dari rangkaian itu, mereka mendapat gambaran lebih jelas tentang posisi Guangxi dalam memperkuat konektivitas dan kerja sama ekonomi antara China dan ASEAN.

Perpaduan inovasi teknologi, infrastruktur logistik, dan industri menjadi daya tarik utama wilayah ini. Guangxi tampil bukan hanya sebagai lokasi demonstrasi teknologi, tetapi juga sebagai penghubung yang menawarkan jalur kerja sama yang lebih konkret.

Hasil yang paling nyata juga muncul di bidang pendidikan kejuruan. Dalam acara pertukaran pada 25 Juni, empat institusi resmi bergabung dengan Aliansi Pendidikan Kejuruan Kota Kembar Internasional Guangxi.

Institusi yang bergabung dengan aliansi

InstitusiNegara/WilayahPeran dalam aliansi
Universitas Ekonomi YangonMyanmarAnggota baru
Universitas Negeri Mariano MarcosFilipinaAnggota baru
Sekolah Tinggi Kejuruan dan Teknik Mesin dan Elektro GuangxiGuangxiAnggota baru
Sekolah Menengah Kejuruan No. 3 NanningNanningAnggota baru

Dengan tambahan itu, jumlah anggota aliansi meningkat menjadi 77. Otoritas urusan luar negeri Guangxi menyebut wilayahnya terus memperluas kerja sama pendidikan kejuruan dengan mitra-mitra ASEAN.

Bentuk kerja samanya meliputi pengembangan program pelatihan bersama, basis pelatihan praktis, dan kompetisi keterampilan di bidang baru seperti AI dan ekonomi digital. Arah ini menunjukkan bahwa fokus kerja sama tidak hanya berada pada pertukaran simbolik, tetapi juga pada penyiapan talenta terampil untuk kebutuhan pembangunan regional.

Wardana menyebut pendidikan kejuruan sebagai jembatan penting bagi pembangunan bersama. Setelah kembali ke Jawa Barat, ia berencana membagikan hasil pembelajaran dari kunjungan tersebut kepada departemen-departemen pemerintah daerah.

Ia juga berharap kerja sama di bidang AI, pendidikan kejuruan, budaya, dan pariwisata bisa diperluas. Bagi delegasi yang hadir, Guangxi memberi gambaran bahwa hubungan ASEAN-China kini bergerak ke arah kolaborasi yang semakin konkret, dari laboratorium inovasi hingga ruang kelas dan kawasan industri.

Terkait