Deepfake Dan Phishing AI Mengintai Bank, Ketahanan Siber Kini Penentu Kepercayaan Nasabah

Ancaman deepfake dan phishing berbasis AI kini menekan sektor perbankan nasional dengan pola serangan yang lebih cepat, lebih canggih, dan makin sulit dideteksi. Risiko ini tidak lagi berhenti pada pencurian data, tetapi juga menyentuh stabilitas operasional, kepercayaan nasabah, dan ketahanan sistem keuangan.

Sorotan itu mengemuka dalam CxO Forum Banking Update 2026 yang digelar Lintasarta bersama PERBANAS di Jakarta. Forum tersebut mempertemukan pimpinan bank, regulator, dan pelaku teknologi untuk membahas keamanan siber sebagai fondasi utama transformasi perbankan digital.

AI memperluas ruang ancaman

Kecerdasan buatan memang mendorong inovasi layanan keuangan, tetapi pada saat yang sama membuka peluang serangan yang lebih beragam. Dalam forum itu, ancaman yang disorot mencakup ransomware, advanced persistent threats (APT), deepfake, hingga phishing generatif yang memanfaatkan AI untuk menipu korban dengan pola yang semakin meyakinkan.

President Director & CEO Lintasarta, Armand Hermawan, menegaskan bahwa lonjakan kemampuan AI ikut membesarkan risiko. “Ketika AI mempercepat inovasi, AI juga melipatgandakan skala dan kompleksitas risiko,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa keamanan siber harus berjalan bersama konektivitas, cloud, dan kapabilitas AI dalam satu ekosistem yang bekerja real-time. Pandangan itu menggambarkan bahwa serangan digital kini tidak lagi dipandang sebagai gangguan teknis biasa.

Kepercayaan nasabah jadi taruhan utama

Dari sisi industri, PERBANAS menilai keamanan digital sudah menjadi elemen inti dalam menjaga hubungan bank dengan nasabah. Wakil Ketua Umum PERBANAS, Hendra Lembong, menyebut kepercayaan publik bergantung pada kemampuan bank menjaga sistemnya tetap aman.

“Kepercayaan nasabah adalah modal utama industri perbankan, dan ketahanan siber adalah penjaganya,” kata Hendra dalam keterangan resminya. Ia juga mengingatkan bahwa ancaman siber bukan lagi risiko masa depan, melainkan realitas harian yang harus dihadapi bersama.

Pandangan itu menegaskan bahwa pertumbuhan layanan digital tidak cukup berjalan cepat. Bank juga harus memastikan setiap kanal layanan berdiri di atas sistem perlindungan yang kuat agar nasabah tetap yakin menggunakan layanan digital.

Strategi 4C untuk ketahanan digital

Dalam forum tersebut, Lintasarta memperkenalkan pendekatan layanan terintegrasi 4C yang terdiri dari Connectivity, Cloud, Cybersecurity, dan Collaboration. Strategi ini dirancang untuk membantu bank membangun transformasi digital yang aman sekaligus siap menghadapi kebutuhan AI berskala enterprise.

Armand menyebut Lintasarta tidak hanya berperan sebagai penyedia infrastruktur digital. Perusahaan itu juga diposisikan sebagai mitra strategis dalam membangun ketahanan operasional perbankan di tengah perubahan teknologi yang sangat cepat.

Model 4C menunjukkan bahwa keamanan tidak berdiri sendiri. Konektivitas, komputasi awan, perlindungan siber, dan kolaborasi antarpelaku industri perlu berjalan bersama agar sistem perbankan lebih tahan terhadap serangan modern.

Investasi, bukan sekadar biaya

Forum itu juga menegaskan bahwa perlindungan data dan sistem digital bukan hanya biaya operasional. Lintasarta memandang kemampuan menjaga keamanan digital sebagai pondasi penting untuk mendukung visi Indonesia Emas 2045.

“Lintasarta hadir untuk memastikan transformasi ini berjalan di atas fondasi yang berdaulat dan aman,” tegas Armand. Pernyataan itu menempatkan keamanan siber sebagai bagian dari strategi pertumbuhan bisnis, bukan hanya lapisan pertahanan teknis.

Bagi perbankan, pendekatan tersebut penting karena ancaman berbasis AI dapat muncul dalam banyak bentuk dan bergerak cepat. Deepfake dapat dipakai untuk manipulasi identitas, sementara phishing generatif bisa menyusun pesan palsu yang terlihat semakin asli dan sulit dibedakan oleh pengguna maupun sistem lama.

Di tengah transformasi digital yang terus meluas, ketahanan siber menjadi penentu bagi stabilitas sistem keuangan nasional. Karena itu, perbankan diminta melihat keamanan digital sebagai prioritas bisnis yang langsung berkaitan dengan layanan, kepercayaan nasabah, dan kesiapan menghadapi ancaman AI yang makin kompleks.

Source: www.suara.com

Baca Juga

Back to top button