Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mendorong pembangunan underpass di kawasan keluar Tol Pasteur, Jalan dr Djunjunan, Kota Bandung, untuk mengurangi kemacetan yang kerap muncul di titik tersebut. Usulan ini menyasar simpang yang selama ini menjadi salah satu lokasi antrean kendaraan paling padat, terutama pada saat arus lalu lintas meningkat di akhir pekan.
Dedi menilai kondisi di Pasteur sudah terlalu lama menjadi masalah karena kendaraan yang keluar dari tol langsung bertemu lampu lalu lintas. Situasi itu membuat arus kendaraan tersendat dan membutuhkan solusi yang lebih permanen agar bottleneck tidak terus berulang.
Skema yang dikaji
Salah satu opsi yang tengah dipertimbangkan adalah membangun jalur bawah tanah agar kendaraan dari sisi Jalan Surya Sumantri bisa melintas tanpa langsung bercampur dengan arus dari gerbang keluar tol. Dengan pola ini, kendaraan dari pintu keluar Tol Pasteur dapat terus melaju lurus dan tidak langsung terhambat oleh persimpangan.
Menurut Dedi, konsep underpass dinilai bisa membantu mengurai arus kendaraan di kawasan tersebut. Ia menyampaikan hal itu di Bandung pada Sabtu, sembari menegaskan bahwa pembahasan masih berada pada tahap kajian teknis.
Masih menunggu hasil pemeriksaan teknis
Dedi menegaskan keputusan akhir belum bisa diambil sebelum seluruh syarat teknis dinyatakan terpenuhi. Pemerintah, kata dia, masih memerlukan hasil pemeriksaan yang menjadi dasar untuk menentukan apakah proyek itu layak dijalankan atau tidak.
Jika kajian selesai dan seluruh persyaratan terpenuhi, tahap berikutnya adalah penyusunan Detail Engineering Design atau DED. Dokumen teknis itu disebut akan disiapkan melalui perubahan anggaran sebelum proyek masuk ke tahap pelaksanaan.
Belum ada angka anggaran
Meski dorongan pembangunan underpass sudah disampaikan, Dedi belum menyebutkan berapa besar biaya yang dibutuhkan. Besaran anggaran baru akan dibahas setelah rencana pembangunan mendapat persetujuan dan masuk pembahasan lebih lanjut.
Titik macet yang sudah lama jadi sorotan
Kawasan Pasteur memang kerap menjadi perhatian karena berfungsi sebagai salah satu pintu masuk utama menuju Kota Bandung. Pada waktu-waktu tertentu, terutama Jumat, Sabtu, dan Minggu, antrean kendaraan di area ini sering mengular dan memperlambat lalu lintas di sekitarnya.
Kondisi tersebut membuat setiap gagasan rekayasa lalu lintas di Pasteur selalu mendapat sorotan karena dampaknya sangat langsung bagi mobilitas warga dan pengguna jalan. Underpass kini menjadi salah satu solusi yang dipandang paling potensial untuk memisahkan arus kendaraan dan mengurangi pertemuan langsung di simpang yang selama ini padat.
Source: jabar.jpnn.com






